My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Teman Atau Mantan?


__ADS_3

Saat Luna tengah asik mengobrak abrik bungkusan berisi 3 buah dalaman, Dharra mendelik pada sang suami dan berbalik pergi. Dia tak mau mengotori hatinya dan menjadi pecundang. Biarlah Aji yang berjuang jika dia menginginkan keutuhan rumah tangganya.


Dharra ingat betul siapa Luna. Luna memanglah teman satu geng nya Aji sewaktu SMA dulu. Namun siapapun bisa melihat betapa dia mendominasi Aji, betapa dia mendamba Aji. Bahkan saat itu mereka di rumorkan sebagai pasangan yang cocok.


Dan saat itu Aji diam dengan julukan mereka. Seolah membenarkan rumor itu karena tak ada sanggahan darinya.


Entahlah status atau hubungan seperti apa mereka dimasa lalu.


Dharra berjalan ke arah kasir hendak membayar belanjaannya.


"Kamu sudah memilihkannya untukku?" tanya Aji yang tiba tiba menyodorkan black card nya pada kasir.


"Tentu saja. Seorang istri lebih tau ukuran suaminya bukan?" Dharra tersenyum manis padanya.


"Kapan kamu mengambilnya?" Aji lanjut bertanya sembari menerima bungkusan belanjaan yang sudah dibayar.


"Saat kamu sibuk dengan mantan kamu" Dharra memaksakan senyum yang langsung berbalik pergi meninggalkan kasir.


"Dia bukan-"


"Rakha tunggu. Aku sudah memilihkannya. Tunggu aku bayarkan dulu" Aji berbalik melihat aksi Luna yang sok menjadi istri yang baik. Lalu dia kembali melihat istrinya yang sudah keluar dari toko.


"Tidak perlu. Istriku sudah membelikannya. Dia lebih tahu ukuranku. Aku duluan" Aji segera berlalu keluar dari situasi yang membagongkan. Dia tahu ancaman baginya adalah diskon jatah menunggangnya malam ini.


"Tapi - mba gak jadi, maaf ya. Rakha tunggu..." Luna segera mengejar Aji yang meninggalkannya dalam rasa penasarannya.


"Rakha tunggu. Main tinggal aja. Kebiasaan deh dari dulu kamu memang seperti itu. Bikin orang tambah penasaran tau gak?" Luna terus mendumel sembari berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Aji yang tengah mencari keberadaan sang istri.


"Kamu belanja? perasaan tadi gak beli apapun deh? Kamu nyari siapa?"


"Istriku" jawab singkat Aji sembari celingukan mencari keberadaan gajah kesayangannya. Aji mulai gelisah.


"Istri? yang bener? serius kamu udah punya istri? mana?" Luna ikut celingukan mencari keberadaan saingannya.

__ADS_1


Ya dia menganggapnya saingan. Dia penasaran dengan sosok istri 'Rakha sang Cassanova sekolah' pasangannya di sekolah. Meski Aji tak pernah membenarkan rumor itu, namun dia juga tak pernah menyanggahnya.


"Ah, kita tanyakan pada si cupu" tukas Luna yang melihat penampakan Dharra yang tengah melihat lihat toko perlengkapan anak. Aji melirik pada arah yang Luna tunjuk.


"Berhenti memanggilnya seperti itu" sergah Aji yang tidak suka jika istrinya dipanggil seperti itu.


"Kenapa? bukankah kamu yang memberinya julukan seperti itu? Dharra.. Dharra apa kamu tadi lihat istrinya Rakha?"


Dharra berbalik karena panggilan Luna.


"Luna, dia ini ad-" Dharra segera mengangkat telunjuknya tanda mendiamkan Aji agar 5ak meneruskan bicaranya.


"Istrinya? kenapa harus tanya padaku? seharusnya dia menjaga istrinya agar tidak menghilang. Lagi pula apa peduliku?" sindir Dharra sambil mendelikkan matanya pada Aji.


"Sa-"


"Dasar cupu. Dari dulu sikapmu tak berubah. Selalu menyebalkan. Pantas saja Rakha membencimu" tukas Luna yang menaikan sebelah alis sembari tersenyum miring dan melipat kedua tangannya di dada.


Dharra balas tersenyum sinis padanya lalu melirik menatap Aji yang terlihat panik akan tindakan lanjutan Dharra yang bisa mengancam masa depan Loch Ness nya.


"Kurasa tak mungkin jika dia memberimu julukan si pintar, karena jelas aku lebih jenius dibandingkan denganmu. Atau si cantik? hmm.. teman satu geng mu bahkan jauh lebih cantik darimu. Atau si rese? sepertinya itu yang lebih cocok untukmu. R E S E" Dharra menekan kata terakhirnya tepat didepan wajahnya.


Ppftt


Aji menahan semburan tawanya karena istrinya berhasil membuat lawannya tak berkutik. Terlihat wajah Luna memerah menahan amarah.


Apalagi saat melihat pujaannya melangkah dan menarik lembut tangan Dharra ke arah Time Zone.


"Rakha lihat ada dance revolution. Kamu tahu aku jago main itu kan? temenin yok" Luna terlihat tak perduli dengan sikap lembut Aji pada Dharra. Dia pikir pujaannya ini hanya bersikap gentle saja.


Dharra dan Aji saling melirik.


"Udah laah. Yang dulu gak usah dibahas lagi. Iya maafin aku ya dulu suka jutek sama kamu. Gimana kalo kita main ini? itung itung melepas penat. Kamu suntuk kan kerja terus?" Luna menarik tangan Dharra kearah permainan yang dia kuasai.

__ADS_1


Dharra memutar bola matanya malas. Namun Aji hanya mengedikkan bahu. Dia tahu tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan istrinya di permainan ini. Aji yakin jika Dharra bisa menangani manusia 'rese' ini.


Luna memulai permainan. Dia memilih lagu pertama dengan mode Medium.


"Here we go. Santai saja ya, Dhar" Luna mengedipkan sebelah matanya pada Dharra.


Permainan dimulai. Luna terlihat memimpin dengan hanya melewatkan 1x saja. Sedangkan Dharra terlihat kaku dan banyak melewatkan baris panah.


Aji merasa heran. Kemana perginya kemampuan super istrinya itu? Apakah ikut terbawa plasenta? pikirnya yang sedikit merasa kecewa. Dia pikir istrinya akan habis habisan mempermalukan wanita 'rese' ini.


Dharra kalah. Hampir telak. Dan itu membuat Luna berpuas hati bisa menang darinya setelah tadi dibuat tak bisa berkutik oleh 'si cupu' ini.


"Gimana. Mau lanjut? ini baru pemanasan loh" Dharra tersenyum getir.


"Baiklah kita coba lagi. Santai saja, namanya juga permainan. Oh iya, Rakha. Kali ini aku anggap sebagai taruhan. Kalau aku menang lagi, kamu harus makan malam denganku malam ini. Ok" Luna memberikan pernyataan membuat Aji pucat pasi.


Dia akan benar benar dibunuh Dharra jika menyetujui pernyataan si rese.


Dharra terlihat mendelikkan matanya pada Aji. Aura membunuh seketika muncul didalam dirinya. Membuat Aji bergidik ngeri.


Dharra membuka blazer yang membalut tubuh bagian atas nya. Sehingga secara tak langsung menampakkan gundukan kembar miliknya. Membuat atensi para pengunjung mengarah padanya. Ditambah dengan tindakan mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda sehingga menonjolkan leher jenjangnya.


Tak lupa rok span yang sedikit sempit itu dia tarik sedikit keatas, membuat mata dan mulut Aji seketika membola karena Dharra hampir mempertontonkan seluruh kakinya.


Dharra terlihat melakukan pemanasan dengan melakukan perenggangan pada tangan, kaki dan lehernya.


Luna sedikit terlihat terpana dengan penampilan Dharra yang dingin namun berkharisma. Dia baru melihat Dharra yang mempesona seperti ini. Lalu dia melirik Aji yang tengah memelototkan matanya.


"Baiklah, kamu yang pilih lagunya" tantang Luna.


Dharra tersenyum miring dan memencet tombol menu dan memundurkan mode dari medium ke easy.


"Hih" Luna mendecih. Tapi seketika terdiam kala tombol itu Dharra tekan sekali lagi menjadi mode hard.

__ADS_1


Dharra memilih lagu paling mudah dalam mode hard ini.


EH KELEPASAN UP🙊🤦🏻‍♀️


__ADS_2