
Aji benar benar menggendong Dharra sampai rumah. Jika saja Mario tidak ijin pulang terlebih dahulu setelah mengantarkan mereka ke Mall, mungkin dia akan menjadi saksi bisu keuwuan merela lagi.
Tidak.
Cukup sudah kejomloannya ini membuatnya kalang kabut mencari pelampiasan.
Yang kemarin kemarin aja belum terlampiaskan, masa harus ditambah lagi. Mending kalo jadi duit. Lah nabung hormon bisa jerawatan se bodi.
Aji bahkan ingin memangku Dharra didalam mobil sambil menyetir.
Jika saja Dharra tidak mengancamnya mendiskon jatah malam ini, mungkin Dharra benar benar di patri dengan tubuh Aji sehingga menempel kemanapun dia pergi.
"Mamaaaa....." Bintang antusias menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Namun langkah dan rentangan tangannya terhenti dan bergantung diudara.
"Mama kenapa pa? kok digendong? mama jatuh? kepeleset? mana yang sakit?" Bintang mencecar mereka dengan pertanyaan dan kekhawatiran.
Dharra hanya terkekeh.
"Turunin aku, sayang" pinta Dharra lembut ditelinga Aji. Namun Aji menggeleng.
"Yaudah, jadinya 1 ronde aja ya"
Aji langsung menurunkan Dharra sambil bersungut.
"Iya, sayang. Kaki mama tadi kesemutan. Jadi papa gendong sampe rumah" Dharra melirik pada sang suami sembari mengedipkan sebelah mata.
Aji mendelik lalu berbisik padanya.
"5 ronde. Ga ada nego"
cup
Aji mencium Dharra dan Bintang bergantian, lalu masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Mama, sini Bintang pijitin" dengan tangan mungilnya Bintang menarik kaki sang mama dan memijatnya dengan telaten.
"Mama, kapan kita balik lagi ke rumah kita, ma? Bintang bosen disini ga ada kebun" Bintang memelas sembari tangan mungilnya terus memijat kaki Dharra.
"Iya, sayang. Mama ngerti. Nanti tiap week end kita pulang ke rumah ya. Lagian kan dari sekolah lebih deket berangkat dari sini" Dharra merasa bersalah menempatkan anak anaknya di gedung perkantoran ini. Meski seperti Penthouse, dan perabot nya mewah. Namun tetap membosankan bagi anak seusia Bintang yang sedari kecil selalu bermain di kebun bersama oma untuk merawat bunga bunga yang cantik.
"Beneran ma? makasih mama" Bintang dengan senangnya memeluk Dharra.
"Bintang udah makan?" tanya Dharra.
"Udah. Tapi Bintang mau makan lagi. Mau masakan mama" Dharra tersenyum.
"Okay, my princess. Kita masak. Mau bantu?" tawar Dharra yang membuat Bintang antusias mengangguk karena memasak adalah kesukaannya dalam bermain. Jika mainan masak masakannya adalah kompor plastik dan potongan kertas sebagai bahan makanannya, kini dia akan menghadapi bahan makanan sungguhan dan kompor listrik.
Bintang sangat senang diajak sang mama dalam mengolah bahan makanan. Dia mencuci sayur dan di ajarkan memotong sayuran dengan aman setelah dicuci.
Dharra membiarkannya menggunakan pisau dengan pengawasannya tentunya.
Dharra berfikir, Bintang sudah cukup besar untuk mengetahui dan mengenal benda bermanfaat sekaligus berbahaya.
__ADS_1
Selesai memotong sayuran yang dibantu bi Asih, Bintang mengocok telur dengan senangnya. Meski sempat 2 butir telur yang dia pecahkan tidak masuk dalam mangkuk.
Tawa ibu dan anak itu diabadikan Aji dalam kamera nya.
ting
tong
Seseorang memencet bell pintu.
Dharra dan Aji saling beradu pandang. Tidak mungkin jika itu adalah oma. Karena oma mempunyai akses untuk langsung masuk ke penthouse nya ini.
"Biar aku yang buka" tukas Aji yang langsung berjalan kearah pintu.
Sebelum membuka kunci, Aji mengintai melalui monitor pintu.
Dan ternyata yang bertamu malam malam adalah seorang office boy.
"Ngapain OB malem malem dateng? bukannya tugasnya sampe sore? apa dia dapet lembut dari atasannya?"
tut
Aji memencet tombol mic pada layar monitor pintu.
"Ya ada apa?"
"Anu pak. Maaf mengganggu. Ini ada yang nyimpen paket di depan pintu lobby. Tertuju atas nama bapak di lantai ini"
"Paket? Siapa pengirimnya?"
"Taruh di depan pintu saja"
"Baik pak"
Sang OB pun mengikuti perintah sang atasan lalu pergi untuk pulang.
Aji sengaja tidak menemui sang OB, khawatir jika paket adalah alasannya agar pintu kokoh ini terbuka dan memberi akses pada orang luar.
Setelah dirasa orang itu telah turun, Aji membuka pintu dan mengintai ke kiri dan ke kanan nya.
"Aman"
Aji meraih kotak seukuran kotak sepatu yang dibungkus plastik berwarna hitam dan terdapat namanya dan sang istri yang di print dan ditempelkan dengan rapi di salah satu sisi kotak.
Aji sedikit mengguncangkan kotak itu di telinganya.
Tapi terdengar seperti ada pergerakan didalam sana.
"Siapa sayang?" tanya Dharra yang menyusul suaminya untuk mengajaknya makan.
"Paket? paket untuk siapa?" Dharra mengambil alih kotak itu. Dan mengguncangnya lalu mendekatkan pada telinganya. Persis seperti yang dilakukan sang suami.
"Ini dari siapa, sayang? kok aneh"
__ADS_1
"Jangan dibuka. Aku punya firasat gak baik" sergah Aji mewanti wanti sang istri agar tak melanjutkan kekepoannya.
"Tapi-"
"Udah. Nanti kita pasti tau siapa pengirimnya" sergah Aji yang kemudian menaruh bungkusan paket itu kedalam tempat sampah yang terbuat dari stainless diujung koridor. Lalu menarik tangan istrinya masuk kembali kedalam.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan mendengarkan celotehan menggemaskan Bintang tentang pengalaman pertamanya memasak bersama sang mama.
Setelah me-nina bobo-kan Bintang dan baby El, Dharra benar benar dihajar 5 ronde oleh suami koplaknya. Membuatnya nyaris tak bisa bangkit.
Dini hari saat tenaganya dirasa sudah pulih, tenggorokan Dharra terasa kering. Dharra beranjak dari tempat tidur dan memakai jubah tidurnya yang tersampir di sandaran kursi sofa nya.
Dharra melangkahkan kaki ke dapur untuk melepas dahaga.
Saat berada di area dapur, Dharra melirik kearah pintu utama. Kemudian dia melirik kearah kamarnya.
Dia kembali teringat dengan paket misterius yang membuatnya penasaran sekaligus mencurigakan.
Perlahan kaki telanjangnya ia langkahkan kearah pintu utama. Memakai sandal khusus dan perlahan membuka pintu.
Dharra terus mengawasi pergerakan pintu kamarnya. Jangan sampai suaminya terbangun dan memergoki niat kepo nya.
tulaliit
Suara kunci pintu otomatis berbunyi kala kuncinya terbuka.
"Sialan, gak bisa diajak kompromi ni pintu" gumam Dharra yang lupa akan keamanan ekstra yang Aji pasang pada pintu rumahnya.
Dharra berhenti sejenak, berjaga jaga jika sang suami tiba tiba membuka pintu kamar.
Setelah beberapa saat, dirasa sang suami benar benar terlelap karena ulahnya sendiri menguras tenaga untuk menghajar gajah kesayangan, Dharra pun melanjutkan misinya membuka pintu lebih lebar.
Karena sistem keamanan pintu akan otomatis terkunci saat pintu menutup, maka Dharra membukanya lebar lebar. Dia tak mau terjebak di koridor sendirian dini hari.
Langkah kakinya mengarah pada tempat sampah berbahan stainless-steel tempat tadi Aji membuang paket misterius.
"Ternyata masih ada" gumam Dharra yang kemudian mengambil kembali paket yang belum seutuhnya masuk dalam tong sampah.
Dharra sedikit menepuk nepuk paket itu untuk menyingkirkan kotoran yang mungkin menempel pada kotak paket.
Namun saat dia menepuk nepuk nya, kembali terdengar suara pergerakan didalamnya.
Karena penasaran, dia mengguncangnya dan mendekatkan pada telinganya.
Suara dan pergerakan yang lebih intens terasa dan terdengar lebih jelas.
Sungguh Dharra benar benar penasaran.
Aji yang merasa tempat tidurnya dinginpun mengerjapkan mata.
Dia meraba sebelahnya yang ternyata kosong.
"Aaaaaaaaa.........."
__ADS_1
Suara teriakan yang memekik memaksa matanya untuk terbuka dan kesadarannya dipaksa kembali.
"Dharra.."