
Dharra mengatupkan bibirnya rapat rapat. Dia tak kan bertanya lagi setelah semalam dia dibuat kesal karena tak kunjung mendapat jawaban yang dia inginkan.
"Sayang, aku mau lagi" bisik Aji meminta mengulang aksi hajar menghajar.
"Siapa saja yang kamu panggil sayang?" tanya Dharra masih dengan posisi dipeluk dari belakang.
"Hanya kamu" Aji menjawab sembari mengecupi cuping telinganya. Sementara sang monster terasa kembali bangkit dengan gagahnya dibawah sana.
"Serius, hanya aku?"
"Ah iya, aku lupa. Ada satu orang lagi" tukasnya sembari terus menikmati cuping telinganya membuat Dharra bergidik geli.
"Siapa?" Dharra was was, bersiap menyemburkan api amarah.
"Tentu saja Bintang"
"Terus?"
"Udah"
"Wanita lain?"
"Sudah ku kubur hidup hidup"
"Laki laki?" Dharra mencicit, berhati hati agar suaminya tak kehilangan selera.
Benar saja. Aji mengentikan aksinya.
Lalu membalikan tubuh Dharra dan menatapnya tajam.
"Kamu pikir aku orang seperti itu?" Aji sedikit meremas gundukannya dan menyerangnya. Menghajarnya tanpa ampun. Tapi Dharra menyukainya. Meski jawaban belum dia dapatkan.
Dia berniat mencari tahu sendiri besok.
Niatnya membatalkan rencana relaxing ke spa ia lanjutkan. Hanya saja tujuannya yang dia tambah. Dia akan diam diam mengikutinya.
Kita lihat saja. Batin Dharra.
Sesuai jadwal sebelumnya. Dharra menitipkan baby El pada oma agar bisa merelaksasi diri di spa langganannya.
Ada yang tak Aji ketahui jika dia menyalakan fitur pendeteksi lokasinya yang tersambung pada ponsel Dharra. Sehingga dia bisa memantaunya dari jauh.
Sambil mendumel dia terus memantau pergerakan pada layar ponsel itu.
Tadinya dia membatalkan niatnya ke spa, namun saat melabrak aksi selingkuh suaminya nanti, dia harus terlihat cantik dan seksi agar suaminya menyesal telah menyia nyiakannya.
Dharra berjenggit kala melihat dimana perhentian suaminya dalam map location.
"Apartemen? wuaahh... bener bener minta dihajar ni orang"
Dharra segera menyelesaikan spa dan make over nya.
Dia mengenakan gaun malam panjang berwarna nude dengan taburan blink blink dan belahan disepanjang pahanya. Tak lupa dengan kemunculan kembarannya yang membuat suaminya selalu tak bisa menahan diri.
Awas ye elu bang. Tak potek potek tu batang😤
Dharra segera memesan taxol yang mendadak sulit tersambung.
Semua driver tampaknya sedang full order. Dia lupa jika hari ini adalah week end, dimana traffic pemesanan taksol sedang tinggi tingginya.
__ADS_1
Tak mungkin dia memakai ojol dengan gaun seperti itu.
Salahkan dia yang tak memakai kendaraannya sendiri karena ingin benar benar rileks.
Dia juga menolak supir pribadi yang oma tawarkan, karena alasannya hanya ke spa dan dia merasa kasihan jika sang supir menunggunya. Padahal dia tak mau rencananya diketahui siapapun.
Dharra terus mencoba memesan kembali dan selalu gagal.
Dia sudah gelisah. Melihat posisi map sang suami masih berada di apartemen itu setelah 10 menit lamanya.
Akhirnya dengan penantian dan harapan, dia berhasil mendapatkan driver setelah permintaan ke 15 nya.
Dharra mengenakan mantel besar dan panjang lagi berbulu untuk menutupi tubuhnya yang terekspose.
Mobil itu melesat cepat dalam kerumunan jalan sesuai permintaannya.
Dharra sampai dalam waktu 20 menit. Lebih cepat 5 menit dari yang seharusnya. Dia menambahkan tips selembar uang berwarna merah. Namun dia menggantinya dengan yang berwarna biru.
Pasalnya sang driver menatap belahan kakinya saat mantel itu tak sengaja tersingkap saat Dharra hendak turun.
cih
Dasar jantan.
Brakk
Dharra membanting keras pintu mobil itu. Merasa kesal ditatap seperti itu.
Dia terpaksa mengenakan pakaian laknat seperti ini demi memberi pelajaran pada suaminya. Bukan untuk menjual diri.
Mulut Dharra terus mengucap mantra dengan dahi berkerut saat memasuki lobby apartemen dengan 11 lantai itu.
"Maaf, saya sudah ada janji dengan Tuan Aji Rakhadiredja"
"Oh, silahkan anda langsung ke lantai 11 menggunakan lift khusus di lorong sebelah kiri lift paling ujung" terang bagian informasi yang juga memunculkan kembarannya dibalik kemeja putih indies nya.
Dharra tersenyum tipis dan melangkahkan kakinya pada arah yang ditunjuk pegawai tadi.
Di dalam lift, Dharra menghentak hentakkan heels nya.
Merasa kesal karena 11 lantai terasa sangatlah lama. Apa lift ini ada mode turbo? pikirnya.
Udara terasa menipis dan panas. Dia membuka mantel tebalnya. Lalu menangkap keberadaan kamera cctv.
Hhhhh
Dharra memutar matanya malas. Dia lantas dengan sengaja mengangkat kedua bongkahannya sembari menatap kamera. Dia merasa diperolok oleh keberadaannya.
ting
Lift berbunyi tanda dia sudah sampai di lantai tujuan.
Hhhh.... fuhhhh....
Dharra menghirup nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya
"Here we go" Dharra melangkah keluar lift. Bersiap untuk berperang. Bersiap dengan kemungkinan terburuk.
Dharra tiba didepan sebuah pintu. Dia melirik ke sekitar, tak ada pintu lain di lantai ini.
Dia lantas mengangkat tangan kanannya untuk memutar kenop pintu. Mencoba peruntungannya.
__ADS_1
ceklek
"Gak dikunci?" gumamnya. Dasar bodoh.
Dharra perlahan membuka pintu itu. Terdengar alunan musik menenangkan.
Dia sedikit menyembulkan kepalanya agar bisa mengawasi ruangan di sekitarnya.
Dharra lantas takjub dengan desain interior apartemen itu. Apakah ini yang dinamakan penthouse? tanya nya dalam hati.
Dia melangkah masuk lebih dalam. Rasa takjubnya diiringi dengan rasa sesak.
Demi seorang wanita murahan, dia menyewa penthouse mewah seperti ini?
Bahkan rumah mereka saja tidak semewah ini.
Apakah wanita murahan ini berasal dari kalangan borjuis? atau jangan jangan?
Apakah suaminya yang menjual diri?
Pikiran pikiran menyesakkan itu terus membayanginya.
Dharra menyampirkan mantel tebalnya di sandaran sofa. Lantas mendekati kaca yang menampilkan pemandangan seluruh kota.
Setetes demi setetes cairan lolos dari matanya.
"Aku tak mau dimadu. Jika memang harus berakhir disini, saat ini. Aku pasrah. Aku tak mau menjalani hubungan yang sudah ternoda" tekad Dharra dalam hati.
Dharra menunduk. Tubuhnya bergetar. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang dahinya.
"Happy birthday, sayang"
Dharra terkejut dan menegakkan kepalanya.
Suara dan tangan yang melingkar di perutnya sangat ia kenal. Lalu dia melihat seikat buket mawar yang cukup besar didepan matanya.
Dia lantas berbalik.
Dilihatnya Aji sedang tersenyum dan merentangkan tangannya, tanda meminta pelukan.
Dengan jejak air mata, Dharra mendekat dan..
plakk
Dharra menamparnya telak.
"Mana wanita itu? kamu sembunyikan dimana sampah itu?"
Aji memegang sebelah pipinya yang terasa panas itu.
"Sayang, apa yang kamu bicarakan? siapa yang kamu maksud?"
"Kamu kesini buat janjian sama cewek lain kan? jawab aku. Kalau sudah tak mau denganku kenapa gak bilang? kenapa harus nyakitin kek gini?" Dharra terus berteriak dengan lelehan air mata.
"Bunga ini. Bunga ini bekas kamu kasih wanita murahan itu kan? kamu lihat aku datang dan kamu pura pura menyambut aku kan? AKU TANYA SEKALI LAGI DIMANA SAMPAH ITU?" Dharra tak bisa mengontrol emosinya lagi.
"Jangan pernah sebut dia seperti itu" tukas Rakha.
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️KABOOOOOOR....
__ADS_1