
"Enak aja. Masa 20 tahun cuma segitu?"
"Sewa 1 kamar sempit sebulan berapa bi? paling bagus 500rb. Dikali 12 bulan sama dengan 6 juta setahun. Dikali 20 tahun sama dengan 120 juta. Kalau gitu saya minta kembalian 80 juta. Oh maaf, anggap saja saya sedekah sama bibi. Atau bibi bisa pake buat cari calon bapa buat calon cucu bibi" Dharra segera menarik tangan Aji keluar dari ruangan tengah itu. Ruangan tempat dulu dia sering disiksa karena nilainya lebih baik dari Laras. Setetes cairan bening lolos dari sudut matanya.
Aji mengusap jejak air mata yang berhasil meluncur bebas di pipi istrinya. Lalu mengecup mata dan pipi lalu bibirnya. Memberinya kekuatan. Mereka melakukannya sebelum masuk ke mobil. Dan pemandangan itu tak luput dari pandangan dua insan yang serakah.
"Tunggu. Berapa mahar yang dia berikan?" Ratih penasaran melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
"Sesuai syarat bibi" kali ini Aji yang menjawab dingin.
"2 milyar. Dan sudah saya transfer ke rekening Dharra. Dan bukankah mahar itu untuk istri, bukan untuk orang lain" tegas Aji.
"Tetap saja. Saya yang sudah-"
"Sudah merebut hak Dharra. Halo bi Ratih. Apa kabar?"
__ADS_1
"Fajar?" Dharra terkejut dengan kehadiran kakak sepupu dari pihak ayahnya.
Ya, beberapa hari sebelum berangkat kembali ke kota J, Dharra diam diam menghubungi Dimas untuk menanyakan kontak Fajar, yang mana Fajar adalah teman sekelas Dimas saat SMA. Dimas sangat tahu mengenai bibinya Dharra berdasarkan pengalamannya dahulu. Dimas akhirnya tahu jika Dharra sudah menikah dengan owner EO ternama di kota M. Dimas tidak ada niat untuk mengganggu rumah tangga Dharra. Awalnya dia menyangka jika Dharra masih mencintainya dan masih single, sesuai informasi yang Ratih berikan saat hendak pergi ke kota M untuk memimpin cabang perusahaan. Kota yang sama dengan Dharra. Wanita yang selalu memenuhi pikirannya.
Dimas menghubungi Fajar dan menceritakan tentang Dharra yang menikah tanpa wali dari pihak keluarga karena selalu dipersulit Ratih.
"Ngapain kamu kesini? Mau nguasain harta mas Dewa? mending kamu gabung aja sama bapak kamu yang gak tau diri itu di kuburan"
"Cukup, bi. Selama ini papa menyimpan rahasia ini sendirian. Hingga papa sakit keras. Dan disaat terakhir papa menceritakan semuanya. Bagaimana bibi membuat keluarga saya dan Dharra jauh. Bibi selalu melantunkan lagu yang sama jika papa ingin bertemu dengan keponkaan satu satunya. Amanah yang mendiang ayahnya Dharra berikan padanya yaitu merawat Dharra. Bibi selalu menuduh kalo papa ingin menguasai harta om Dewa. Demi Tuhan, enggak bi. Dharra, asal kamu tahu. Rumah ini adalah salah satu aset papamu, selain rumah yang pernah kalian tinggali dulu saat papa dan mamamu masih ada. Setelah rumah itu dijual bi Ratih, dan seluruh warisan untukmu diambil alih bi Ratih, kami tidak boleh menemui kamu. Papaku mendapat amanat dari om Dewa untuk mengurusmu hingga dewasa dan mandiri. Tak peduli jika harta warisannya diambil bi Ratih, asal kamu tinggal bersama kami. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui. Kecelakaan yang om Dewa alami beserta istrinya merupakan hasil sabotase seseorang. Dan pihak kepolisian sedang bergerak untuk menangkapnya"
Dharra tak percaya dengan pendengarannya. Dia tak bisa mengatupkan mulutnya. Matanya tak henti hentinya mengeluarkan cairan bening.
"Maaf, bu Ratih. Anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan berencana yang mengakibatkan meninggalnya 2 orang. Silahkan ikut kami tanpa perlawanan. Jika ada pembelaan silahkan menghubungi pengacara. Jika tidak bisa membayar pengacara, pengadilan menyediakan pengacara untuk anda"
Beberapa orang pria berseragam tiba tiba datang dan memborgol Ratih. Laras menangis meraung raung memanggil ibunya dan ikut bersama para petugas berseragam yang membawa ibunya.
__ADS_1
Ratih yang dikejutkan dengan penangkapan tiba tiba itu tak sempat menghindar dan memberontak. Otak nya masih mencerna rencana dadakan Fajar yang selama ini berhasil dihindarinya.
Dharra dan Aji kembali masuk ke dalam rumah. Rumah peninggalan orang tua Dharra yang selama ini di klaim milik Ratih, bibinya.
Dan selama ini pula sang bibi dan anaknya itu hidup menggunakan warisan milik Dharra. Bahkan beberapa kali bibinya menikah dan bercerai menggunakan uang warisan milik Dharra. Sedangkan kehidupan Dharra selama ini sangat sengsara. Meski di biarkan tinggal satu rumah dengan Ratih, namun Dharra menempati kamar pembantu yang sempit. Dan hampir tak pernah diberi makan. Dharra bahkan bekerja serabutan dari umur 7 tahun demi bisa membeli makan. Dia juga selalu mendapat peringkat 1 di kelasnya. Dan mendapat gelar juara umum. Namun bukan apresiasi yang dia dapat dari sang bibi. Namun siksaan karena prestasinya membuat anaknya dibandingkan dengannya.
Dharra menutup wajahnya dan menangis tergugu. Menangisi nasibnya, dan juga nasib orang tuanya karena keserakahan Ratih.
Aji memeluk Dharra dan menepuk punggung Dharra dengan lembut. Sesekali mengecup pucuk kepalanya. Memberinya kekuatan. Membiarkannya menumpahkan segala rasa yang pernah ada di masa lalunya. Masa masa perjuangannya seorang diri.
Fajar ikut menepuk nepuk punggung tangan Dharra yang kemudian mendapat sorot mata tajam dari Aji.
Fajar hanya tersenyum dengan kecemburuan Aji. Lalu membiarkan pasangan itu saling menguatkan. Dia beranjak menuju dapur dan membuat minuman dan makanan ala kadarnya. Fajar sendiri adalah laki laki yang mandiri. Semenjak ibunya meninggal, dia seorang diri bekerja sebagai guru sambil merawat ayahnya yang sakit sakitan. Dan kini Fajar telah berkeluarga, memiliki istri yang baik dan anak laki laki yang lucu berusia 2 tahun.
Setelah Dharra tenang dan bisa diajak berbicara. Fajar sekali lagi menceritakan kronologi kecelakaan orang tua Dharra, dan bagaimana Ratih setelahnya mengambil alih seluruh harta warisan yang seharusnya milik Dharra. Dia bahkan membeli rumah dari hasil menjual rumah lama Dharra.
__ADS_1
"Biarkan saja rumah itu untuk tempat laras tinggal. Dan rumah ini.. aku ingin menjualnya. Meski ini peninggalan papa dan mama, tapi kenangan selama 20 tahun terpatri di rumah ini. Kepedihanku akan selalu terbayang jika aku tak menjualnya. Aku serahkan kepengurusannya sama Fajar" Dharra berkata masih sambil sesenggukan.
"Oh iya, satu hal lagi. Kami berniat mengadakan resepsi pernikahan. Tapi sebelumnya kami ingin melakukan ijab kabul ulang. Hanya ingin melakukan prosesi pernikahan secara lengkap. Meski Dharra tengah hamil, namun kami sudah sah terlebih dahulu. Dan saya selaku suaminya, memintamu untuk menjadi wali nya yang sah. Karena kamu wali yang kuat karena dari pihak ayahnya Dharra. Saya mohon maaf jika saya mengambil jalan cepat untuk menikahi Dharra" pinta Aji pada Fajar. Yang kemudian disanggupi Fajar. Akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega.