My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Biaya Sewa 20 Tahun


__ADS_3

Dharra dan Aji bersiap berangkat ke kota J. Mereka berpamitan dulu pada Bintang dan memberinya pengertian.


"Bintang, sayang... mama sama papa mau ada kerjaan dulu ke luar kota. Bintang sama oma dulu ya. Cuma sebulan kok. Udah gitu, mama gak akan kemana mana lagi. Disini sama Bintang, oma sama papa"


"Bintang ga bisa ikut ma?" matanya berkaca kaca.


"Kalo Bintang ikut, nanti gak ada yang ngurusin Bintang. Kalo disini kan ada oma sama mbok Iyem. Bintang yang pinter sekolahnya. Nanti mama kasih hadiah deh"


"Bener ya ma. Cuma sebulan. Udah gitu ga akan ninggalin Bintang lagi ya"


"Iya sayang. Mama janji"


Dharra pun memeluk Bintang erat. Menyalurkan rasa sayangnya.


Bintang sempat terisak. Namun kemudian dia tahan karena tak mau sang mama ikut sedih. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi anak yang patuh dan baik demi bisa terus bersama sang mama.


"Oma, Dharra pamit ya. Dharra titip Bintang. Setelah ini Dharra bakalan bantu oma dan Aji di perusahaan"


"Iya sayang"


Oma memeluk Dharra dengan air mata menggenang di pelupuk mata tua nya.


Dharra dan Aji mengendarai mobil baru Dharra, hadiah pernikahannya dari oma dan Bintang. Agar dia teringat untuk segera kembali menemani keduanya.


Tujuan pertama mereka adalah rumah bibi Dharra, Ratih. Ratih mempunyai satu orang anak dari pernikahan pertamanya yang bernama Larasati. Usianya hanya terpaut 1 tahun dibawah Dharra. Mempunyai paras yang cantik, sehingga hampir semua calon Dharra yang melamar dibuat dilema saat diberikan pilihan oleh sang bibi untuk memilih putrinya saja dibanding Dharra. Alasannya hanya satu. Dharra yatim piatu.


Hanya Dimas yang tak terpancing bujukan Ratih untuk memilih Laras. Namun memang bukan jodoh, mereka pun dipisahkan dengan cara lain. Padahal Dharra saat itu mulai menaruh rasa sayang dan harapan yang besar agar Dimas bisa mengeluarkannya dari situasi yang mengekangnya.


"Assalamu'alaikum, bi. Apa kabarnya?"

__ADS_1


Dharra menyapa sang bibi yang seperti biasa, selalu menampilkan wajah yang tidak bersahabat.


"Kamu Dharra. Bibi kira kamu lupa sama bibi" Ratih membawa mereka duduk, karena dia sudah yakin Dharra menemuinya bersama laki laki untuk meminta restunya.


"Ini calon baru kamu?"


"Oh iya, kenalin bi. Ini Aji Rakhadiredja"


Aji menyalami Ratih sambil menampilkan senyum ramah, namun membuat sang bibi terpana.


"Sekali kali dapet tang berondong ga papa kali ya. Mana gagah. Ini sih saya juga mau, gak usah dikasih ke Laras" batin Ratih dengan tanpa sadar menunjukan ketertarikan melalui bahasa tubuh dan tatapannya.


Aji merasa risih,meskipun Ratih memang masih terlihat cantik di usianya yang menginjak kepala empat dan single. Namun dia sekarang sudah punya Dharra. Tubuhnya menolak reaksi yang ditunjukan Ratih. Jika dulu mungkin dia bisa saja meladeni. Namun mind set nya yang sekarang benar benar tobat. Dia merasa jijik dengan perilaku wanita yang genit terhadapnya.


"Panggil saya Rakha, bi. Kedatangan saya dan Dharra kemari ingin meminta restu dari bibi"


"Oh, masalah itu gampang. Tergantung mahar yang bisa kamu berikan" Ratih berkata sembari menampilkan gaya bicara yang seksi. Membuat Dharra mengernyitkan dahi dan reflek merangkul lengan Aji.


"Gila nih emak. Dipikir lagi transaksi barang pake diskonan segala. Emang dasar murahan" sarkas Aji dalam hati.


"Dharra, bikinin minum dong tamu nya. Kasian khaan jauh jauh dateng pasti haus. Sekalian bikinin juga buat tante. Tante juga kehausan" suaranya dibuat serak serak gimannaaa gitu.


"Tante?" batin Dharra mulai gak enak hati dengan tingkah sang bibi.


"Iya bi"


Dharra beranjak menuju dapur, lalu tanpa ia duga malah bertemu Laras.


"Kamu. Ngapain kamu kesini? Udah kayak kacang lupa kulit. Udah punya kerja enak, lupa sama yang nampung" sarkas Laras yang di acuhkan Dharra.

__ADS_1


"Eh, mimih ngobrol sama siapa tuh? ganteng bener. Samperin aaah" Laras merapikan diri dan tersenyum jumawa melihat tamu yang sedang Ratih ajak ngobrol.


"Gawat. Gak bisa dibiarin" Dharra tidak jadi membuat minuman untuk Aji dan bibi nya. Dia ingin segera pergi dari tempat ini.


"Aa orang mana? ganteng bener. Mih Laras mau deh kalo yang ini. Kalo bisa sekarang juga jadiin mih" terdengar Laras sedang membujuk Ratih agar segera menikahkannya dengan Aji.


"Gak bisa gitu dong, Ras. Mimih juga perlu pendamping yang kompeten" Ratih menolaknya karena dia menginginkan Aji untuk dirinya sendiri.


"Gini nih resiko punya laki guanteng" batinnya.


"Ekhem. Sayang, kita langsung aja yuk. Udah ditunggu. Kita minum dijalan aja. Bi, maaf kita gak bisa lama. Ada acara penting-"


"Eeeeh... bentar dulu. Kamu kalo ada acara pergi aja sendiri. Rakha biar suruh nunggu disini aja ya"


"Gak bisa dong bi. Kan disuruhnya sama pasangan"


"Ooh. Eh kamu tahu gak kalo Dimas udah cerai? kamu ajak aja dia. Lagian kalian kan dulu udah mau nikah"


"Iya nanti Dharra ke rumahnya sama Rakha. Yuk sayang, udah mau telat"


"Eeeeh bentar dulu. Kamu itu gimana sih? masa ke rumah Dimas sama Rakha? hargain dong perasaan Dimas. Rakha biar sama tante aja. Kamu punya mahar berapa pun tante terima kok" Ratih menarik tangan Aji sedangkan Dharra menarik tangan yang satunya lagi. Hingga aksi tarik menarik itu membuat Aji jengah dan menegaskan maksud kedatangannya.


"Sudah, cukup. Maaf bi, tapi kedatangan saya sama Dharra kesini hanya memperkenalkan diri sebagai suaminya. Kami akan mengadakan resepsi setelah Dharra resign. Itu saja. Ayok sayang"


"Apa? suami? sejak kapan kalian menikah? kenapa gak ijin dulu sama saya? Dharra kamu berani beraninya nikah tanpa seijin saya. Setelah saya nampung kamu selama ini, kamu beraninya gak menghargai saya? dasar anak gak tahu diri. Atau jangan jangan kamu hamil duluan?" Ratih meninggikan suaranya sambil berdiri dan berkacak pinggang.


"Maaf bi. Tapi saya gak semurahan itu. Saya memang lagi hamil. Tapi bukan karena hamil saya nikah. Bukankan bibi sudah menjawab pertanyaan bibi sendiri? Yang barusan bibi lakukan pada Rakha, itulah jawabannya. Saya sengaja menggunakan wali hakim karena tidak percaya pada bibi. Bukankah beberapa kali saya dilamar dan selalu ditolak mentah mentah? Satu hal lagi" Dharra mengutak atik ponselnya.


"Saya sudah mengirimkan biaya sewa tinggal saya selama 20 tahun. Karena seingat saya, saya makan dari hasil keringat saya sendiri. Dan itu dimulai dari umur saya 7 tahun" Dharra memperlihatkan bukti transfer pada rekening Ratih sebesar 200 juta rupiah. Membuat Ratih dan Laras membelalakan mata. Dengan mudahnya Dharra mengeluarkan uang segitu banyaknya. Apakah ini berarti Dharra menikahi seorang sultan? pikir Ratih dan Laras.

__ADS_1


AIOO KENCENGIN JEMPOLNYA JANGAN KETINGGALAN HADIAHNYA BIAR OTHOR SEMANGAT UP NYA🤗🤗


__ADS_2