
"Kau pun harus melakukan hal yang sama kala ada wanita lain yang menyentuh suamimu" Dimas bangkit sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Lalu tersenyum miring ke arah Aji.
"Jagalah dia baik baik, bro. Atau aku akan mengambilnya kembali" Dimas menepuk jas dan celananya, menyingkirkan kotoran yang menempel. Lalu melangkah pergi sambil menundukan sedikit kepalanya pada Dharra, tanda pamit.
Aji terlihat geram dengan perkataan Dimas yang menyinggungnya. Dia memang salah telah membiarkan wanita lain menyentuhnya tanpa seizin sang istri.
"Kamu jangan khawatir, Dim. Aku bahkan akan membakarnya hidup hidup" sarkas Dharra yang melirik pada Cynthia yang tengah membuang muka.
Aji terdiam dan menunduk untuk melihat ekspresi istrinya.
Ada aura mencekam dalam ekspresinya. Membuat Aji kesulitan bernafas.
Aji langsung menarik tangan Dharra dan membawanya ke kursi mereka. Kumpulan itu kemudian membubarkan diri dan kembali ke kursi masing masing.
Dharra meminta lap dan es batu pada kru event, juga peralatan P3K.
Perlahan dia mengompres luka pada kepalan tangan Aji. Tak ada sepatah katapun.
Aji menatapnya lekat. Dharra bersikap dingin padanya. Seperti es yang ia usapkan pada lukanya.
"Apa kau marah padaku?" tanya Aji sedikit ketus.
"Lalu apakah aku harus merasa senang dan berterima kasih saat suamiku menggoda wanita lain?" jawabnya tak kalah ketus.
"Menggoda? siapa yang menggoda?" suaranya sedikit meninggi. Membuat sebagian tamu yang berada di depan menoleh pada mereka.
"Pelankan suaramu. Apa kau berniat menjadikan pesta pernikahan ini sekaligus pesta perceraian?" Aji tercenung.
"Maaf, kehamilan ini membuatku sedikit sensitif" Dharra bangkit dan berjalan kearah resort. Dia lelah. Setelah seharian ini merasa overthinking.
Oma memperhatikan sikap keduanya setelah kejadian itu. Lalu oma mendengar selentingan rumor yang beredar di area jamuan resepsi ini yang seharusnya merupakan jamuan yang meriah.
Aji mengejar Dharra yang sudah berada di tangga menuju lantai 2, tempat kamar mereka berada.
Meraih kedua tangannya lembut sambil menundukan kepala. Mengecup satu per satu tangan mungil itu, lalu menarik tubuh Dharra masuk ke pelukannya.
Dharra tiba tiba terisak. Aji sangat menyesal telah bersikap kasar dan mempermalukannya di depan umum. Seharusnya hari ini adalah hari yang memorable bagi mereka.
Seharusnya dia bisa lebih menahan diri.
__ADS_1
"Maaf. Sedikitpun aku gak bermaksud untuk menyakitimu" Aji mengangkat dagu Dharra dan mengecup bibirnya.
Dharra yang terisak sedikit merasa lebih baik.
"Apa kau lelah?" tanya Aji lembut. Posisi mereka masih berpelukan di tangga, dibawah sorotan lampu kristal yang menggantung.
Dharra yang masih sesenggukan mengangguk cepat kepalanya sambil menengadah.
cekrek
Fajar diam diam mengambil gambar keintiman mereka menggunakan kamera Polaroid nya.
"Ekhem, sepertinya kami harus segera pergi atau harus menonton pertunjukan dewasa. Ini hadiah dariku. Maaf jika aku tak punya sesuatu yang luar biasa sebagai kenangan" Fajar memberikan hasil jepretannya yang disambut haru oleh Dharra.
"My God. It's beautiful" Dharra takjub dengan hasil jepretan Fajar.
"You're beautiful" lanjut Aji yang mengalihkan pandangannya dari foto kepadanya.
Dharra merasa malu di rayu Aji didepan sepupunya lalu menepuk dadanya.
Aji menggendong Dharra dan menuruni anak tangga.
"Kita mau kemana?" tanya Dharra yang senang dengan perlakuan manis suaminya.
"Kembali ke jamuan. Tidak baik bukan meninggalkan tamu?" jawab Aji lembut dilanjutkan dengan mengecup bibirnya.
Saat mereka keluar dari pintu, betapa mereka dikejutkan dengan situasi dingin di jamuan itu.
Alunan musik tak lagi terdengar. Para tamu pun terlihat mengatupkan bibir mereka. Sedangkan oma?
Dengan tubuh tua nya tak menyurutkan aura kepemimpinannya.
Oma berdiri ditengah tengah kerumunan yang menundukkan kepalanya.
Bertopang pada tongkat kayu yang kokoh, sesekali menghentakannya ke tanah.
"Siapa yang berani menyebar gosip murahan?" suara lantang oma tak sedikitpun terdengar bergetar.
__ADS_1
Kerumunan itu saling sikut dan saling memandang dalam ketertundukannya.
"Oma, ada apa ini?" tanya Dharra lembut yang sudah Aji turunkan dari gendongannya.
"Dharra sayang. Kenapa kamu diam saja saat mereka membicarakan hal jelek tentangmu?" oma bertanya dengan menahan rasa kesalnya. Jika saja usianya masih muda, sudah dipastikan semua orang yang hadir disini akan dia habisi. Tapi oma masih punya cara lain untuk memberi mereka pelajaran.
"Apa maksud oma?" tanya Aji kemudian yang ikut tersulut emosinya.
"Sudahlah oma. Sesuatu yang tidak benar, kenapa Dharra harus merasa terganggu? Biarlah mereka dengan pemikiran picik mereka sendiri. Biar waktu yang membuktikan dan menunjukan siapa musang yang sebenarnya. Lebih baik oma beristirahat. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus kita pikirkan. Jangan buang waktu dan tenaga untuk mengurusi remeh temeh seperti ini" Dharra membimbing oma untuk kembali ke kursinya.
Oma terlihat membisikan sesuatu pada asistennya. Lalu sang asisten terlihat menganggukan kepala dan berlalu ke arah resort.
Tak berselang lama, sang asisten memberikan dua buah buku yang mana adalah buku tamu.
"Dharra sayang. Tandai nama temanmu yang hadir" Oma menyerahkan buku itu pada Dharra dan menunggu Dharra melaksanakan permintaannya.
Dharra segera mengikuti perintah oma dengan menandai nama Fajar dan Dimas. Karena hanya mereka kerabat yang Dharra undang. Lalu Dharra mengembalikan buku itu pada oma.
"Semua nama 6ang ada di dalam daftar tamu ini, kecuali yang cucu menantu saya tandai. Bersiaplah mencari investor baru. Karena aku akan menarik investasiku" sontak suasana menjadi ricuh.
"Maaf bu Sekar, tolong jangan tarik modal investasinya, saya tahu kabar itu dari dia" salah satu tamu menunjuk salah satu lainnya yang kemudian saling menunjuk estafet pada yang lainnya lagi, membuat Oma memutar bola matanya, jengah dengan situasi ini. Hingga berakhir pada satu orang wanita yang berada di paling belakang.
"Iya oma. Asalnya dari dia" semua orang menyingkir membuka jalan bagi oma untuk mendekati sumber penyebar rumor.
"Kamu? bagaimana kamu bisa berada disini?" oma cukup terkejut dengan penampakan wanita yang sudah membuatnya menderita.
Dharra dan Aji ikut mendekat mengikuti oma, dan merekapun sama terkejutnya.
"Dia datang bersamaku, ibu Sekar. Apa benar benar serius dengan ancaman anda? Aku bisa mencabut izin usaha anda kalau begitu" ucap salah seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu tamu kehormatan oma dalam pesta ini. Yang mana adalah seorang wakil wali kota.
"Heh, anda rupanya. Dan wanita ini, apakah simpanan anda?"
Sang wakil bergeming. Merasa salah dalam mengambil langkah. Seharusnya dia membiarkan saja wanita itu dihukum massal karena perilakunya sendiri.
"Seharusnya anda berhati hati dalam memilih sampah sekalipun. Jangan lupa dari mana anda mendapatkan dana kampanye dan dukungan sampai saat ini. Silahkan anda pikirkan lagi. Apakah lebih memilih berjalan diatas bara api, atau berjalan diatas ribuan paku" Oma berbalik dan meninggalkan jamuan yang kemudian dibubarkan oleh panitia.
SIAPAKAH WANITA ITU?
JENG JEEEEENG
__ADS_1