My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Mengganti Jas


__ADS_3

Jas yang dikenakan Mario pun melepuh dan perlahan menampilkan lubang yang semakin membesar. Cairan itu membakar Jas Mario dengan tragis.


Laras benar benar sudah tidak waras. Dari mana dia mendapatkan cairan kimia itu? Jika saja jas Mario tak menghalanginya, sudah dipastikan wajah dan tubuh Dharra yang akan terbakar.


Mario segera melempar jas yang menjadi korban kegilaan Laras ke sembarang arah. Lalu menepis tangan Laras yang menggenggam botol cairan itu hingga terjatuh dan pecah. Tampak sisa cairan yang tak seluruhnya tersiramkan itu membakar apa yang ia lewati.


Lalu Mario segera meraih dan menekan pangkal tenggorokan Laras. Membuat wajah kusamnya terlihat perlahan membiru karena kehabisan oksigen.


Kedua satpam dan Dharra berusaha menurunkan tangan kekar Mario. Namun ekspresi Mario yang menyeramkan tak terlihat berniat untuk melepaskannya.


"Mario... Mario.. tenanglah.. aku tak apa apa, aku baik baik saja. Lihatlah aku"


Dharra meraih dagu Mario dan memutarnya perlahan agar melihatnya. Dharra tahu dengan sikap Mario saat ini pasti mengingatkannya akan sesuatu. Trauma masa lalu misalnya?


Perhatian Mario berhasil teralihkan. Kepalanya memutar kearah Dharra dan matanya menatap Dharra.


"I'm okay. See?" (Aku baik baik saja. Lihat?)


Cengkeraman di leher Laras pun perlahan mengendur. Kedua satpam itu segera mengamankannya dengan membawanya ke kantor keamanan untuk diproses dan dilaporkan ke kepolisian.


Wanita gila itu tiba tiba berlari menerobos pintu penghalang otomatis saat mobil yang ditumpangi Dharra masuk ke area parkir berbayar meski hanya turun di area drop off.


Dan petugas yang sedang mentraining karyawan baru itu terkejut dengan kemunculan Laras yang tiba tiba.


Karena penampilan Laras yang terlihat lusuh dan kumal itu membuat para petugas keamanan mengejarnya.


Mario yang melihat terjangan wanita itu sesaat setelah istri bos nya turun pun segera turun dari mobil dan membuka jasnya karena melihat si wanita membawa botol bening, mirip seperti yang dia ketahui telah menyakiti adiknya dahulu.


Benar saja. Saat si wanita sudah hampir dekat dengan istri bos nya. Dia terlihat mengayunkan botol itu kearah wajah Dharra.


Dengan sigap jas itu Mario gunakan untuk menghalangi semburan cairan mematikan yang mengarah ke wajah Dharra.


Dharra menarik tangannya perlahan dan membimbingnya untuk duduk di pinggiran teras Mall. Kemudian mengeluarkan air mineral botol yang ada manis manisnya dan membuka tutupnya, lalu menyodorkan padanya.

__ADS_1


"Minumlah" pinta Dharra yang kemudian sebelah tangan Mario Dharra raih agar dia memegangnya sendiri dan meminumnya.


Mario menurut dan meneguk air dalam botol yang berisikan 600 ml itu hingga tandas.


Terlihat kepala Mario tertunduk. Dharra menepuk nepuk bahunya. Mario melirik padanya.


"Apa anda baik baik saja?"


Dharra tersenyum.


"Aku baik baik saja. Berkat kamu. Terima kasih" ucap Dharra menenangkan. Kemudian bangkit dengan sedikit menepuk bagian bawah roknya yang panjangnya hingga ke betis itu agar debu yang menempel saat dia duduk di teras terhempaskan.


"Baiklah tuan cabe, maukah anda menemani saya keliling Mall?" sampai saat ini Dharra masih menyebutnya tuan cabe karena kesan pertamanya saat bertabrakan di lift tempo hari.


Mario pun tersenyum miring dengan panggilan itu. Lalu ikut bangkit dan mengikutinya.


"Kamu bisa senyum? woow.. luar biasa. Tapi sebaiknya kamu jangan senyum. Kamu akan membuat seisi Mall ini gempar" Dharra menggoda Mario dengan candaan. Tak bermaksud menggoda secara sensual. Hanya menghibur dan mengalihkan pikiran Mario agar lebih relax.


Mario benar benar menarik kembali senyum miringnya, digantikan dengan ekspresi datar. Membuat Dharra malah tertawa terbahak dengan perubahan ekspresi Mario yang secepat kilat.


Mereka melanjutkan tour nya. Dharra berkeliling sambil melakukan video call dengan suaminya. Meski sang suami tengah melakukan meeting, namun Dharra tak mengganggunya sama sekali. Dharra hanya sengaja memperlihatkan aktivitasnya di Mall tersebut, dan Aji membiarkan panggilan video itu menampilkan proses meetingnya.


Mario memperhatikan interaksi pasangan itu yang tak saling berbicara satu sama lain, namun melalui media canggih itu membuat seolah keduanya berdekatan. Dharra merasa ditemani sang suami jalan jalan, dan Aji yang merasa Dharra mendampinginya bekerja.


Pasangan yang mampu membuat iri orang lain. Juga membuatnya iri.


Pantas saja wanita tadi menjadi gila.


Dharra melangkah ke toko pakaian khusus pria.


Dharra memilih beberapa stel pakaian kerja berupa jas, kemeja dan celana bahan untuk Aji. Tak lupa dasi yang warnanya diselaraskan dengan warna jas dan kemejanya. Aji tak pernah protes dengan pilihan Dharra.


Dharra juga memilih beberapa pakaian dalam untuk Aji tanpa canggung. Membuat Mario tersipu malu.

__ADS_1


"Waaah ibu ini sangat perhatian ya dengan suaminya. Memilihkan jeroan tanpa malu itu pasti ibu sangat mencintai suaminya" seorang pelanggan menghampiri dan mengomentarinya dengan ramah. Namun membuat Aji yang berada diseberang telpon mengalihkan perhatiannya.


"Tentu saja saya sangat mencintai suami saya" tukas Dharra ramah.


"Ini anak pertama kalian?" lanjut pelanggan itu bertanya sembari mengelus perut Dharra. Namun matanya menyorot bergantian pada Dharra dan Mario. Membuat Mario segera mengibaskan kedua tangannya dan mundur selangkah saat melihat ekspresi dingin dari ponsel Dharra yang menampilkan wajah full bosnya itu.


"Ah, anda salah faham. Dia bukan suami saya. Dia itu... bisa dibilang body guard" Dharra menampilkan senyum, masih berusaha bersikap ramah.


"Aaah... aku mengerti. Kalau begitu, aku tak akan mengganggu kalian" orang itu lantas mengedipkan sebelah matanya lalu pergi.


"Yaaah, salah paham dia. Sabodo ah. Sayang, kamu pilihin jas buat si cabe ya" Dharra dengan cuek berkata pada Aji yang tengah bersidekap.


Menyadari keterdiaman Aji yang terasa dingin auranya, Dharra pun melirik ponselnya. Memastikan Aji memperhatikannya.


Benar saja. Aji memperhatikannya dengan seksama sambil bersidekap dan menatapnya tajam.


"Kamu dengar aku sayang?" Dharra terheran dengan ekspresi suaminya itu. Apa dia membuat kesalahan?


"Jangan sok nyeremin gitu. Kamu malah bikin aku gemes tau gak? aku jadi pengen nyusul kamu kesitu. arrrrrrr....." Dharra membuat gerakan seolah akan menggigitnya.


Aji menghela nafasnya kasar. Dia benar benar ditaklukan seorang Dharra. Dia tak bisa marah pada istri mungilnya itu.


"Ayo pilihin. Kamu harus gantiin jas nya si cabe"


"Kenapa harus gantiin? apa yang terjadi?"


"Udaaah. Nanti aja jelasinnya. Sekarang kamu yang pilihin, oke. Nanti dikira aku istrinya lagi"


Akhirnya Aji menuruti kemauan Dharra. Pada saat Dharra hendak mengepaskan jas itu di tubuh tegap Mario, orang itu sudah tak tampak didekatnya.


"Hhhh... kabur kan dia. Kamu sih, sok nyeremin. Cepet pulang. Aku pengen apa apain kamu" Dharra berkata ketus, namun memberikan semangat untuk Aji.


Semangat untuk segera pulang biar bisa di apa apain sama Dharra.

__ADS_1


HUHUY... SEMANGAT KAN DAH DIKOPI INπŸ˜‹β˜•


__ADS_2