
Dharra mengemas baju bajunya dan anak anaknya. Rencananya dia akan membawa kedua anaknya pindah ke rumah baru yang sudah selesai di renovasi.
Oma sempat melarang dengan alasan dia akan kesepian. Namun Dharra malah mengajaknya turut serta.
Dharra beralasan sangat disayangkan uang yang sudah dikeluarkan untuk merenovasi rumah itu namun tidak diisi. Dan akan lebih disayangkan jika rumah itu disewakan. Karena kondisinya yang masih baru, belum tentu penyewa akan merawatnya dengan baik.
Selain itu rancangan interior dan perabot yang telah dipasang merupakan hasil diskusinya bersama sang suami saat mereka baru saja menikah.
Setetes cairan lolos kala dia mengingat suaminya.
"Mama... mama kenapa nangis? mama sedih ya ninggalin oma? Bintang juga sedih. Kenapa oma gak mau ikut sama kita, mama?" Bintang bertanya sambil memanyunkan bibirnya.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil Dharra yang dikemudikan oleh supir pribadi oma.
"Iya, sayang. Tapi kita memang harus punya rumah sendiri. Lagi pula rumah kita sama rumah oma deket jadi bisa kapan aja main kan? Oma juga kapan kapan kalo lagi bosan dirumahnya sendirian bisa menginap di rumah kita"
Bintang menganggukkan kepala seraya tersenyum padanya. Tangan mungilnya tak lepas dari genggaman sang adik yang terlihat menyukainya.
Keputusan Dharra untuk pindah belum dia diskusikan dengan suaminya. Bagaimana mau diskusi? ponselnya saja hingga saat ini belum juga aktif. Tak mungkin jika dia menelpon kantor dan memberitahukan melalui sekertarisnya kan?
Tapi...
Tak ada salahnya mencoba
Dharra pun mencoba menghubungi sekertaris yang stand by di kantor dan menyampaikan pesannya.
Lagi, Dharra merasakan hampa kala sang sekertaris memberi tahukan jika sang bos 3 hari ini tidak datang ke kantor. Diapun bahkan tidak bisa menghubunginya kala ada relasi bisnisnya datang hanya sekedar berkunjung.
Tampilan baru rumah Dharra dan Aji setelah di renovasi.
Othor mah nebeng ajah🙄
__ADS_1
Dharra merebahkan diri di kasur empuk king size nya. Bintang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi. Syukurlah anak itu sudah bisa mandiri. Dia tak rewel kala harus tidur sendirian di kamarnya. Bintang bahkan terlihat nyaman dan betah didalam kamarnya karena Dharra mendesain kamarnya dengan sentuhan girly, dengan wallpaper bergambar princess Anna idolanya.
Karena lelah berkutat dengan urusan rumah yang sedang dia usahakan agar terbiasa, dengan cepat dia mengarungi alam mimpi.
Dharra terisak. Sebuah tangan menghapus jejak air matanya dengan lembut.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya si pemilik tangan yang mana adalah suaminya.
"Kamu jahat. Aku nungguin kamu. Kamu malah seneng seneng sama cewek lain. hik.. aku.. aku tahu aku belum bisa melayani kamu. Tapi.. bukan berarti kamu jahatin aku kayak gini"
Dharra terus terisak dalam mimpinya.
Aji membelai pipinya lembut lalu mengecupnya sambil tersenyum.
"Kamu lihat dari mana aku sama cewek lain? apa kamu sedang cemburu? aku harap iya. Itu tandanya, kamu bener bener cinta sama aku. Tapi aku gak pernah seneng seneng sama cewek lain" ungkapnya sembari mengecupi bibirnya.
"Itu kemeja kamu? Lipstik semua" Dharra semakin terisak dalam mimpinya.
Begitu besarkah rasa rindu padanya sehingga dia mendamba ciuman seperti ini?
Aji tergelak dengan pertanyaan Dharra. Tawa nyaring yang sangat ia rindukan kala bersenda gurau dengannya.
"Kamu cemburu sama nenek nenek?" Aji menjawab dengan pertanyaan. Sungguh istrinya yang tengah cemburu ini terdengar lucu hingga Aji tak bisa menghentikan tawanya dan terus menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajahnya. Sebelah tangannya bertengger di salah satu puncak bukit miliknya yang ia pinjamkan pada sang jagoan, baby El.
Mata Dharra terus terpejam, namun bibirnya terus melontarkan umpatan dan gumaman tak jelas.
"Nene nene dari hongkong? mana ada nene nene lipstiknya tebel gitu?" Dharra terlihat emosi dalam tidurnya. Aji merasa gemas dengannya. Diapun melucuti pakaian tidur berbahan satin berwarna hitam milik Dharra. Menjelajah tubuh sintal itu dengan lidahnya. Andai masa nifas nya telah usai, sudah dipastikan dia akan benar benar membawa istrinya mengarungi samudera mimpi yang indah. Berkendara dengan Loch ness nya.
"engh.. Aji.. aku lagi marah.." tukasnya sambil mengerang dan menggelinjang. Namun tangannya ia gunakan untuk membantu Aji melepaskan apa yang masih melekat padanya.
Aji tersenyum geli dengan tingkah istrinya yang marah tapi meong. Tak berkata apa apa. Dia terus mengeksplore tubuh Dharra sambil memainkan monsternya. Sungguh terasa nikmat hanya dengan menyentuhnya saja. Dibanding tidak bisa menyentuhnya 3 hari ini.
Dharra dibuat gila. Lalu matanya ia paksa buka saat kesadarannya tiba tiba menghampiri. Tepatnya saat Aji berhenti menyentuhnya karena tengah bersolo karir di tepi ranjang memunggunginya.
__ADS_1
Dharra terkejut dengan kondisi hampir polosnya. Hanya kain segi tiga yang masih ia kenakan karena dia masih memakai pembalut.
"Tadi itu bukan mimpi" gumamnya dalam hati.
Dilihatnya punggung yang ia rindukan terlihat tengah bersusah payah melakukan sesuatu.
Dharra merasa bersalah. Dia lantas bangkit dan turun dari ranjang. Lalu melangkah mendekatinya. Berdiri di hadapannya lalu berlutut.
Aji terkejut dengan kehadirannya yang tiba tiba.
"Sayang.. kamu bangun?" ucap parau Aji.
Dharra lantas meraup bibir yang ia rindukan 3 hari ini. Aji mengerang dan merebahkan diri karena didorong oleh istrinya. Namun Dharra melepas pagutan bibirnya dan turun kebawah perutnya. Menyambut sang monster yang ia rindukan.
Aji benar benar dibuat tak berdaya dengan pelayanan istrinya. Ia kira istrinya ini tak mau melakukan hal yang dianggap menjijikan bagi sebagian istri.
Dia tak menyangka istrinya mau melakukannya demi menyenangkan dirinya.
Meski terasa kaku, tapi itu sangatlah cukup baginya. Dia memaklumi, karena ini pastilah pengalamannya yang pertama. Entah dia belajar dari mana. Namun Aji semakin mencintainya, karena Dharra tidak egois.
Aji mengerang kala sang monster hendak memuntahkan lahar panasnya kedalam mulut Dharra.
Dharra segera memuntahkannya kembali di wastafel, dan mencuci mulut serta berkumur kumur. Dia teringat akan mimpinya yang terasa nyata. Benarkah itu hanya mimpi? atau dia memang tak sadar mengutarakan isi hatinya kala dirasa kalau itu adalah mimpi?
Saat Dharra tengah termenung menatap cermin. Aji menghampiri dan memeluknya dari belakang. Sebelah tangannya mendarat di gundukan kenyal favoritnya.
Dharra memalingkan kepala dan menyambut bibir Aji yang mengarah pada bibirnya. Dharra sangat merindukannya. Ciumannya itu disertai dengan deraian air mata. 3 hari ini dengan pikiran yang tak menentu membuatnya tersiksa dengan dugaan dugaan yang belum tentu benar adanya.
Aji memutar tubuh sintal Dharra. Mengapit wajahnya dan memperdalam ciumannya.
Gesekan kedua tubuh polos itu membuatnya terasa nyaman dan menginginkan lagi. Namun dia menahannya. Tak adil rasanya jika hanya dia yang merasakan nikmat dunia.
"I miss you badly, honey"
__ADS_1