My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Time Zone


__ADS_3

Aji menembus kerumunan, tak tahan jika tak berdekatan dengan istrinya. Namun dia seperti mengejar fatamorgana.


Dharra menghilang dibalik kerumunan. Aji terus mencari, berputar mengelilingi area pameran beberapa kali, memastikan jika dia tak melewatkan satu celah pun. Namun sosoknya tetap tak bisa ditemukan. Gak mungkin kan kalau dia langsung pulang? batin nya.


Entah kenapa dirinya merasa frustasi kala tak bisa menemukannya.


"Gila, jago banget tu tante tante nge-dance nya. Kamu aja yang jago bisa dikalahin. Telak lagi. Mana cantik"


"Berisik. Baru kali ini ada yang bisa ngalahin aku. Mana udah tua. Minggir ah. Aku butuh boba. Kesel nih"


Percakapan antar remaja itu membuat Aji terpikir akan sesuatu. Dia lantas membawa kakinya menaiki eskalator yang bergerak turun. Membuat orang orang yang tengah mengikuti pergerakan eskalator itu mendecak kesal karena Aji melawan arus.


Di arena time zone, suara riuh ramai terdengar di sekitar permainan dance revolution. Aji mencoba menembus kerumunan itu, ingin memastikan sesuatu. Benar saja. Wanitanya sedang tertawa sambil menggerakan kaki dan badannya mengikuti instruksi yang tertera di layar. Sedangkan lawan mainnya tengah berkeringat frustasi kala tidak bisa mengikuti instruksi, yang akhirnya kalah.


Para penonton sekaligus calon pemain riuh bertepuk tangan, mengapresiasi aksi mengagumkan Dharra yang beberapa kali mengalahkan lawannya secara telak.


Nafas yang terengah dan keringat yang bercucuran tak menghalanginya untuk melanjutkan tantangan lawan berikutnya.


Aji memperhatikan dengan senyum mengembang sambil melipat tangannya di depan dada. Tak percaya dengan istrinya yang usianya sudah tidak remaja lagi.


Senyum itu, tawa itu, yang menggetarkan dunianya. Bertahun tahun lamanya senyum dan tawa itu tak pernah absen dari mimpinya. Kini menjadi miliknya seutuhnya. Hanya miliknya.


Aji mendekat padanya yang terlihat akan mulai menerima tantangan lagi, meski nafasnya tersengal sengal. Dia menepuk perlahan pundaknya membuat perhatian Dharra teralihkan.


"Aji... kamu kesini?" senyum itu tak luntur di wajahnya. Aji menariknya turun dari arena permainan, menuntunnya duduk di salah satu bangku tak jauh dari arena time zone.


Aji menyodorkan air mineral botol yang ada manis manisnya dan langsung di teguk Dharra hingga tandas.


Dengan penuh kelembutan, Aji menyeka keringat yang bercucuran di dahi sang istri.


"Harusnya kamu cukup berkeringat di ranjang aja sayang" keluhnya sedikit menggoda. Membuat Dharra menyemburkan sisa minuman yang dia tenggak.


uhuk uhuk

__ADS_1


"Kalo ngomong liat tempat napa" Dharra tak percaya dengan komentar suami koplaknya. Wajahnya memerah.


Tangan Aji beralih me lap mulut Dharra yang basah karena semburan itu. Ingin rasanya me-lap mulutnya dengan bibirnya. Aji selalu sedia sapu tangan, berjaga jaga jika tak menemukan tisu kala membutuhkan perannya.


"Aku ga bisa nahan perasaan aku kalo sama kamu, sayang. Kenapa gak bilang mau kesini?"


"Pusing aku di bawah. Hape di tas, tas nya di mobil. Aku lapar, makan yuk. eh kamu masih sibuk ya?"


"Acara udah di handle. Yuk makan, biar ada tenaga buat nge-dance nanti malem. Ouch...."


Dharra mencubit pinggang Aji pada kalimat terakhirnya.


Dharra makan dengan lahapnya. Aji menikmati makan sambil menikmati ekspresi Dharra yang sangat menikmati apapun yang ada di depannya tanpa kesan jaim.


Bagaimana tidak lahap? sebelum turun ke lantai dasar untuk makan di restoran jepang, Dharra sangat antusias dengan permainan basket yang ada di time zone itu. Setengah merengek akhirnya dia bermain lempar bola basket ke ring terlebih dahulu, hingga tiket yang ada di dalam mesin enggan keluar lagi. Saat hendak berpindah mesin, Aji memelototinya dan mengancam akan menidurinya saat itu juga, tak peduli mereka ada di mana, karena Dharra terlihat sangat menggemaskan. Selain itu Dharra pasti menyerah jika Aji mengancamnya seperti itu.


Benar saja. Tanpa banyak drama, Dharra langsung melangkahkan kakinya ke arah kasir dan menukar tiket yang telah ia kumpulkan hari itu dengan boneka yang cukup besar.


Aji terlihat tidak suka dengan keberadaan Ryan. Namun Dharra reflek menggenggam tangan Aji yang berada di atas meja. Aji pun tersenyum puas dengan sikap Dharra yang tidak memberi celah pada Ryan.


"Kamu tadi langsung kemana dulu? katanya ke toilet, tapi gak balik lagi. Malah ketemu disini" Ryan yang melihat sikap preventif Dharra pun berpura pura tak peduli. Padahal hatinya mencelos. Apalagi saat cincin pasangan yang melingkar di jari manis mereka jelas terpampang.


"Healing dulu ke time zone" Dharra menampakkan barisan gigi putihnya kala mengatakan itu.


"Time zone? bukankah itu arena anak anak?" Ryan cukup terkejut. Dharra benar benar diluar dugaannya. Saat wanita dewasa lain memilih berburu barang barang branded saat berada di Mall, wanita ini malah menghabiskan waktunya di time zone?


"Boneka ini?"


"Yap" jawab singkat Dharra yang tahu arah pertanyaan Ryan. Mulutnya terus mengunyah. Sesekali memberikan kode pada Aji agar menyuapi makanan yang ada di piring Aji, karena mereka memesan menu yang berbeda.


"Butuh berapa lama kamu mengumpulkan tiket bisa tuker boneka sebesar ini?" lanjut Ryan yang mulai menikmati makanannya.


"mmmm.... kurang lebih.." Dharra melihat ke atas lalu menghitung jari nya.

__ADS_1


"Dua jam"


uhuk uhuk


"Dua jam? kamu main dua jam dan bisa dapet boneka sebesar ini?"


"Ada yang salah? aku pernah dapet megicom" Dharra dengan bangga mengumumkan pencapaiannya.


Ryan tak bisa berkata kata lagi. Wanita unik ini berhasil membuatnya takjub.


"Rakha. Ternyata aku tahu alasan kamu mengabaikan Cynthia. Wanita licik itu benar benar yakin kalau janin itu adalah milikmu"


Ryan berkata dengan santai. Entah apa yang ia pikirkan mengutarakan hal itu.


"Bisakah untuk tidak membahas parasit itu? aku cukup alergi membahasnya"


"Janin? Cynthia?" tanya Dharra yang cukup terkejut dengan apa yang disampaikan Ryan.


"Iya. Cynthia tengah hamil. Dan dia terus mengatakan kalau Rakha adalah-"


prakk


Dharra meletakkan sumpit dengan kasar ke atas meja. Rautnya menampakkan ekspresi kesal. Dharra lantas bangkit dan mendorong kursinya hingga terjungkal, lalu pergi tanpa sepatah katapun.


"Brengsek. Gak bisa apa menghargai istriku dengan tidak membahas hal itu?" Aji segera menyusul Dharra tanpa melupakan boneka hasil jerih payah sang istri.


"Sayang.. sayang... dengerin penjelasan aku... sa-"


"Beliin boba.." Dharra menunjuk pada booth stand minuman tanpa menghiraukan panggilan panik sang suami.


Aji tersenyum dengan tingkah nya. Lalu menunjuk sebelah pipinya.


"Cium dulu"

__ADS_1


__ADS_2