
Perayaan 17an tiba, para panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Berbagai jenis lomba akan digelar untuk memeriahkan acara yang akan dilaksanakan pagi hari, siang digunakan untuk istirahat, dan dilanjut sore hingga malam yang merupakan acara puncak.
Karena Yuli mendominasi kepanitiaan, Dharra bersikap santai, kadang menghilang dari kumpulan kepanitiaan. Terlalu banyak orang yang sok pintar membuatnya pusing. Dharra hanya duduk di dalam rumahnya. Tanpa diketahui orang orang tentunya.
Aji memarkirkan mobilnya di garasi. Tadinya dia hendak langsung ke acara untuk meninjau, namun acara pagi adalah jadwal untuk anak anak. Dia yakin jika Dharra juga pasti belum muncul di acara.
Aji pulang membawa seorang wanita. Dia adalah model yang dipesan pak erte untuk melakukan penjurian nanti malam. Hanya saja entah kenapa dia ingin datang pagi pagi. Padahal Aji ingin menyendiri. Menunggu amarah Dharra reda. Apa jadinya jika Dharra melihatnya membawa perempuan ke rumah lagi. Bisa beneran ilfil.
"Kamu bisa ga jangan mepet terus? risih tau gak?"Aji menghardik si model dadakan yang terus menempel padanya.
Saat masuk ke dalam rumah pun wanita itu tak hentinya memepet tubuhnya, berapa kali Aji mendorongnya, namun dia kembali menempel bak magnet. Aji semakin merasa tak nyaman. Kebutuhannya yang tak tersalurkan benar benar menguji kesabarannya. Akhirnya dia menyalakan shower di kamar mandi, lalu menutup pintunya. Lalu dia keluar melalui pintu dapur dan berharap pintu dapur Dharra tidak dikunci.
__ADS_1
ceklek
"Selameet, untung ga dikunci. Gadis pintar" lirihnya. Aji mencari keberadaan Dharra, yang ternyata berada di ruang tamu sedang membaca novel sambil makan keripik. Posisinya membelakanginya. Aji mendekat lalu memeluknya dari belakang. Dharra sontak kaget dan hampir melemparkan isi toples itu.
"Sayang, aku kangen. Udahan ya marahnya" Aji menopangkan dagunga di pundak Dharra, hidungnya menghembuskan nafas panas ke leher Dharra, lalu mulai mengecupinya. Dharra sebenarnya sudah tak marah, dia hanya ingin menenangkan diri. Kecupan itu menjadi menuntut. Sebelah tangan Aji menangkup gundukan favoritnya menimbulkan gelenyar kenikmatan pada keduanya. Aji berputar menjadi menghadap Dharra yang masih setia diam dan duduk namun nafasnya mulai terengah. Aji menyimpan toples keripik ke meja lalu mencium bibir Dharra dan Dharra membalasnya. Secara reflek Aji merebahkan Dharra dan Aji menindihnya tanpa melepas pagutan. Aji mulai menggesekkan tubuh bawahnya yang dibalas ******* Dharra. Aji tak dapat menahannya lagi. Dia meledak di dalam celana. Denyutan itu membuat sensasi candu pada Dharra. Dia ingin merasakan lebih, namun tak mau bertindak bodoh sebelum waktunya.
Setelah ledakan itu, Aji terus memeluknya, berpindah posisi menyamping, dan tertidur sambil memeluknya dari belakang.
"Aku ikut mandi disini ya" masih memeluk dan memejamkan matanya.
"Kenapa gak dirumah kamu?"
__ADS_1
"Enggak ah. Takut. Ada mak lampir"
cup
Aji bangkit dan mengecup bibirnya sekilas lalu masuk ke kamar mandi. Untung saja dia menyimpan beberapa pasang baju dan ********** disini.
Dharra menyiapkan makan siang selagi Aji membersihkan diri. Dia tak mau memperdulikan apapun lagi yang merusak mood nya.
cup
Aji selesai berganti pakaian dan memeluknya dari belakang, lalu mengecup pipinya.
__ADS_1