
Dharra benar benar buntu. Penyelidikan yang dilakukan Raul dan orang orangnya tak sampai mengetahui kondisi di dalam rumah.
Kondisi yang tak terduga malah membuatnya mengetahui informasi baru yang tak mungkin di dapatkan orang orang seperti Raul.
"Pak. Boleh saya minta tolong lagi?"
"Tentu saja bu Dharra. Selama saya mampu"
"Tapi saya akan melibatkan istri bapak dan anak bapak"
"Maksud ibu?"
"Maksud saya, saya minta istri dan anak bapak sering seringlah main ke rumah mereka. Bahkan sesekali ajak bu Laras jalan jalan ke Mall sama istri bapak. Bapak jangan kuatir" Dharra menggantung kata katanya karena terlihat merogoh tas nya. Lalu mengeluarkan sejumlah uang pecahan 100 ribuan beberapa ikat dengan segel bank.
"Ini modal untuk mengalihkan perhatian Laras. Bilang saja ini uang bonus dari kantor bapak. Dan biarkan istri dan anak bapak mengajak Laras untuk berbelanja. Gak usah sok sok an bayarin dia. Jaga jaga saja jika dia minta dibayarin. Saya tau dia orangnya ngelunjak. Saya mohon dengan sangat. Ini menyangkut kehidupan sebuah keluarga dan nyawa nenek mertua saya pak. Saya mohon" Dharra memelas pada pak Rudi yang menatapnya prihatin.
"hhhh... baiklah. Karena saya tahu kebenarannya, saya tidak mungkin diam saja. Lagi pula ibu adalah orang yang baik. Saya akan usahakan yang terbaik. Istri saya juga pasti akan membantu. Dia suka kasihan melihat non Bintang yang selalu murung kala pulang ke rumahnya"
Dharra kemudian mendekati Bintang yang sedang asik nonton film kartun bocah kembar botak sambil makan keripik bersama anak pak Rudi.
Sekarang ini mereka tengah berada di kamar hotel Dharra. Dharra ingin membahas banyak hal dengan pak Rudi mengenai rencananya. Tapi melihat kehadiran anak anak yang pasti akan bosan dan susah mengawasi kala mereka sedang mengobrol, akhirnya Dharra mengajak mereka ke kamar hotelnya.
"Bintang sayang. Mama mau tanya"
Bintang langsung duduk di pangkuan Dharra dan mengecup pipi Dharra dengan sayang. Dan itu diperhatikan pak Rudi. Perbedaan perlakuan Bintang pada Dharra dan ibu sambung tanda kutip nya sangat bertolak belakang.
Laras yang selalu menatap Bintang dengan sinis, lalu Bintang yang selalu terlihat ketakutan itu berbanding terbalik dengan pemandangan di depan matanya kini.
__ADS_1
Pak Rudi semakin yakin jika apa yang diutarakan Dharra benar adanya.
"Bintang kesini sama siapa sayang?" tanya Dharra lembut.
Namun bukannya jawaban yang dia dapat. Bintang malah memeluk leher Dharra erat. Lalu terdengar isakan.
"Kasian oma, mama. Tolongin oma. Oma sakit... gak bisa bangun... tante itu gak mau bawa oma ke rumah sakit. Papa... papa juga jahat.. papa.. papa gak sayang sama oma.. papa juga gak kenal sama Bintang huuuuu...." Bintang menangis tergugu. Tangisnya menyayat hati Dharra.
Pak Rudi menutup mulutnya yang menganga tak percaya dengan apa yang disampaikan Bintang.
"Oma sakit?" Dharra bertanya lagi untuk memastikan pendengarannya. Dan Bintang lagi lagi hanya menganggukan kepalanya dalam isak tangisnya.
"Sayang... liat mama" Dharra melepas rangkulan Bintang dengan lembut. Dia ingin memberinya kekuatan dan keberanian agar mau mengungkapkan semua yang ada di hati dan kepalanya.
"Bintang tahu kan, kalo mama sayang sama Bintang, oma dan papa?"
Bintang mengangguk sambil berusaha meredakan tangisnya.
"Gak mau... Bintang gak mau mama kenapa kenapa"
"Anak pinter. Sekarang Bintang yang nurut ya. Bintang pulang dulu ikut sama pak Rudi. Besok kita ketemu lagi. Pokoknya Bintang harus ikut pak Rudi setiap hari, biar kita bisa ketemu terus"
"Bintang mau disini sama mama aja" suara Bintang tercekat. Bibirnya mulai bergetar menahan tangis. Air mata kembali membasahi pipi gembulnya.
"Sementara aja sayang. Jangan bikin perempuan itu curiga sama Bintang. Nanti mama gak bisa nyelamatin kalian"
Dharra mengecup puncak kepala Bintang yang akhirnya bisa dibujuk. Lalu membicarakan tentang rencananya mulai besok.
__ADS_1
Bintang sudah mulai terbuka. Dia menceritakan dari awal dirinya dan sang oma menyusul Dharra ke kota ini atas permintaan sang papa melalui pesan wasap.
Setelah itu mereka masuk ke rumah yang alamatnya tertera dalam chat sang papa. Tak ada kecurigaan awalnya, hingga saat seorang wanita asing menyambut mereka dan Aji tampak asing di mata mereka.
Aji bahkan menolak Bintang saat Bintang minta digendong sang papa. Lalu yang lebih membuat Dharra naik pitam adalah, saat oma menuntut penjelasan pada Aji, Aji membentaknya dan tiba tiba berteriak meraung raung memegangi kepalanya seolah kesakitan. Setelah itu oma meminum jus yang disodorkan wanita yang mengaku istri sah nya Aji. Lalu oma pun tergolek lemas ditempat. Matanya terbuka, namun tubuhnya tak bisa digerakkan. Seolah lumpuh. Dan setelah itu oma hanya terbaring di kamar dengan makanan yang silih berganti kembali dalam keadaan separuh utuh. Kadang makanan itu kembali dengan utuh. Perawat yang Bintang kenali seragamnya karena berwarna putih setiap hari datang dan memberi suntikan pada oma.
Bintang selalu diberi tahu Laras jika oma sedang diobati.
Untung saja ada tetangga yang mendekati dan akrab dengannya kala Bintang bermain di halaman rumah.
Karena dirasa mengganggu waktunya berduaan dengan Aji, Bintang pun kerap diijinkan untuk main di rumah Aryo, anaknya pak Rudi.
Dharra geram. Terlebih membayangkan waktu berduaan Aji dan Laras di dalam rumah. Seingatnya, Aji mempunyai libido yang sangat tinggi.
"Kurang ajar si Laras. Enak aja mo rebut tongkat ajaib ku. Kamu juga Aji. Liat aja. Muridmu ini yang akan balik menghukum gurunya" batin Dharra menggebu gebu.
Seolah mendapat kesempatan untuk berduaan dengan Aji. Laras mulai gencar beraksi. Kemarin kemarin dia belum berani melancarkan rayuan mautnya karena kondisi kesehatan Aji yang belum stabil. Sering mengamuk dan beberapa kali hampir membuatnya lewat. Karena Aji mencekik leher Laras tanpa ragu. Dengan sorot mata yang tajam dan memerah. Rahangnya mengetat.
Bukannya merasa takut, Laras justru terpancing bir*ahi nya kala mendapatkan perlakuan kasar Aji. Dia menganggap bahwa itu adalah salah satu kepuasan dalam menyalurkan hasrat se*xualnya.
Laras membuka seluruh lapisan kain yang menempel di tubuhnya kala mendapati Aji tengah duduk di pinggir ranjang sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Kedua siku nya bertumpu pada kaki.
Lalu sepasang kaki jenjang yang putih polos mendekat padanya. Aji menatapnya. Mencoba menerka apa yang diinginkan wanita yang mengaku sebagai istrinya.
"Sayang... kamu gak apa apa?" suara serak Laras membuatnya teringat dengan suara di mimpinya.
Laras meraih tangan Aji dan mengangkat dagu Aji agar menatapnya yang tengah polos. Lalu tangan yang diraih itu di tempatkannya pada salah satu bukit kembarnya, membimbingnya agar meremasnya.
__ADS_1
"ahhh....."
AH LANJUT BESOK LAGI YAðŸ¤