
Dharra memundurkan tubuhnya mantap kala telah memilih lagu.
"Tunggu tunggu. Kamu gak salah milih mode?"
Dharra menjawab dengan hanya mengedikkan bahu.
"Baiklah. Jangan salahkan aku jika mempermalukanmu" ancamnya. Namun Dharra terlihat tak gentar.
Permainan dimulai
Dharra terlihat tenang saat mengikuti tanda panah. Dia bahkan sengaja melewatkan 1 panah saat melihat Luna yang kewalahan dan melewatkan 3 panah. Dharra tersenyum sinis.
Saat permainan berakhir Luna terlihat terengah engah mengatur nafasnya. Sedangkan Dharra masih tenang.
"Cukup pemanasannya? atau menyerah sampai sini?" Dharra balik menantangnya. Membuat Luna geram.
"Siapa yang nyerah? sekarang aku yang milih lagu" Luna sempat melirik Aji yang tersenyum manis kearah Dharra sembari melipat kedua tangannya di dada.
Tidak. Dia tidak boleh kalah kali ini. Tadi hanya keberuntungannya saja yang sedang menghampiri. Kali ini dia pasti menang. Teguh Luna dalam hati.
Luna terlihat memilih lagu dan menurunkan mode permainan kembali ke medium.
"Kamu yakin menurunkan level mu?" cibir Dharra yang membuat Luna gelagapan. Luna tahu dia belum sampai pada tahap hard level. Karena hanya seorang master lah yang bisa melewati level killer ini.
"Ki- kita santai saja. Namanya juga permainan" deliknya tak mau dianggap pecundang.
"As you wish" Dharra mengikuti saja. Toh dia sudah menguasai semua level.
Benar saja. Luna yang awalnya terlihat menguasai beberapa lagu, namun dia kewalahan juga saat menghadapi lagu dengan beat lebih cepat meski masih di level medium.
Sedangkan Dharra terlihat memukau para penonton dengan gerakan santai namun groovy nya. Dia malahan menambahkan gerakan tangan untuk mengimbangi gerakan kakinya yang mengikuti arah panah.
Saat Luna terlihat kewalahan, dia didorong oleh para penyuka permainan ini yang mana adalah para remaja yang ingin mencoba menyaingi gerakan Dharra.
Sebagian penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai menyemangati permainan Dharra yang tak terkalahkan.
Aji terlihat tertawa menawan melihat aksi menggemaskan istrinya dalam menyingkirkan lawan lawannya.
Terlihat peluh bercucuran, namun Dharra terlihat bersinar terang dimata Aji.
__ADS_1
Dirasa cukup dengan bermain main, Aji menggeser tubuhnya kesebelah Dharra dan merentangkan kedua tangannya.
Memberikan kode padanya untuk menyudahi aksinya.
Dharra yang terlihat bersenang senang itu memang merasa lelah. Meski senang karena telah melepas penat, namun dia harus berhenti.
Dharra melompat ke pelukan Aji dan mengapit pinggangnya dengan kedua pahanya.
"Kamu senang?" tanya Aji yang tak kewalahan dengan lompatan Dharra kepelukannya. Aji malah menyeka keringat yang bercucuran di kening Dharra.
"Sangat. Aku sangat senang. Fuhh.. sudah lama gak main, ternyata aku masih jago" tukas Dharra yang girang bak anak kecil.
Aji tak peduli dengan pandangan orang orang yang terlihat menertawakan aksi mereka. Menertawakan dalam artian tertawa karena malu melihat aksi mesra mereka.
Jangan tanyakan Luna yang tak bisa menutup mulut menganga nya.
Aji menggendong Dharra dan mendudukannya di kursi tunggu. Lalu kembali ke arena permainan untuk memunguti sepatu dan blazer milik Dharra yang tercecer.
Aji kembali ke tempat Dharra duduk, lalu berlutut dan memakaikan sepatu pada istri menggemaskannya.
"Kamu haus?"
"Baiklah. Kamu mau ikut?" tanya Aji lembut sembari terus menyeka keringat Dharra.
"Gendong" Dharra merentangkan kedua tangannya manja.
Aji tersenyum lalu membalikan tubuhnya membelakangi Dharra.
"Naiklah"
Dharra dengan senang mendaratkan tubuh bagian depannya di punggung sang suami.
"Ka-kalian.." Aji menghentikan langkahnya karena seruan Luna.
"Ya, kami sudah menikah. Dan kami sudah mempunyai anak" aku Aji yang membuat Luna melemas.
"Tapi kamu sangat membencinya dahulu" tukas Luna mengingatkan.
"Kamu salah. Sedari dulu aku sangat mencintainya. Dan julukan itu adalah julukan sayangku padanya. Tentu saja hanya dia yang bisa merasakannya"
__ADS_1
"Sayang aku haus" Dharra merengek menggoyang goyangkan kedua kakinya. Mengabaikan Luna yang tengah shock dengan kenyataan.
"Iya sayang. Pegangan ya" Aji melanjutkan langkahnya meninggalkan Luna yang terlihat seperti pecundang.
Aji tak terlihat kewalahan saat menggendong Dharra dibelakang tubuhnya dan menenteng beberapa belanjaan. Mereka benar benar tak peduli dengan tatapan dan gumaman orang orang yang saling berbisik. Bahkan beberapa diantaranya bertepuk tangan dan merekam aksi romantis mereka.
Aji dianggap sebagai lelaki yang gentle dalam memperlakukan wanitanya.
Aji bahkan enggan menurunkan Dharra saat Dharra minta diturunkan.
Dharra menyodorkan minuman yang sudah disedotnya pada Aji. Aji menurut dan terus berjalan menyusuri toko.
"Sayang, udah turunin. Aku udah gak cape"
"Gak papa. Sampe rumah pun aku bakalan gendong kamu terus" Aji merasa senang terus menempel pada Dharra.
"Tapi kakiku kesemutan tau"
"Iya, nanti aku pijitin. Pijit ples ples hehe"
"Kamu mah ada maunya baikin aku"
"Aku kan mau kamu terus"
Dharra menarik telinga Aji lalu mengecup pipinya. Dia semakin mengeratkan pelukannya di leher Aji. Membaringkan kepalanya di pundak sang suami. Membuat Aji tersenyum hangat.
"Kamu gak berat apa gendong gajah?"
"Hahaha.... iya kita mirip gajah ya?"
"Kok kita?"
"Iya kita. Bokongnya besar, trus belalainya didepan. Hahahaha..." Aji terbahak dengan penuturannya sendiri.
Dharra pun sama. Tak kuasa menahan tawanya karena kelakar sang suami yang absurd.
KARYA BARUKU SUDAH TAYANG YA BEIBZ
SEMOGA SYUKAA😉
__ADS_1