My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Mengambil Alih Perusahaan dan Menceraikanmu


__ADS_3

Benar saja, kantor pusat seketika menelponnya, menanyakan kabar tentang pembatalan event yang dilayangkan pihak vendor. Namun saat Dharra menanyakan alasan pembatalan itu mereka tidak bisa menjawab, malah balik bertanya.


"Bapak tenang saja. Harap baca MOU poin 3.4. "Jika pihak pertama (vendor)membatalkan perjanjian secara sepihak tanpa ada penjelasan kesalahan dari pihak ke dua, maka pihak pertama harus membayar penalty atau ganti kerugian sebesar 3 milyar kepada pihak ke dua" dan saya yakin saya tidak melakukan kesalahan atau pelanggaran apapun. Jadi, perusahaan tidak rugi apapun" Dharra dengan tegas melafalkan isi perjanjian sebagai pembelaannya. Aji manggut manggut. Selama ini dia tak pernah mengalami kasus seperti ini. Semua eventnya berjalan lancar tanpa dia hafal isi perjanjian. Karena dia punya cara lain dalam memuluskan pekerjaannya. Tapi dia menyadari jika caranya sangatlah murahan. Mengandalkan rayuan mautnya, maka dia mendapatkan kemudahan dalam menjalankan bisnisnya. Dia merasa malu saat istrinya kini memperjuangkan perusahaan dengan cara yang elegan.


Mereka sudah kembali ke rumah sederhana mereka, namun Bintang mereka titipkan pada oma dengan alasan persiapan mendekati event. Sebenarnya Aji yang menitipkan. Dia masih belum puas menikmati moment pengantin barunya dengan Dharra. Dia takut sewaktu waktu Bintang memergoki mereka membuat gempa lagi. Terdengar egois, tapi mau gimana lagi? dari pada mempengaruhi perkembangan mental sang anak, lebih baik Dharra menurut saja. Dia sangat tahu libido Aji sangatlah tinggi. Tak ada kata lelah baginya untuk kegiatan yang satu itu.


"Sayang, apa kamu yakin mau mendampingiku mengelola perusahaan keluargaku?" tanya Aji sambil memeluk tubuh polos istrinya dibalik selimut. Tangan besarnya selalu bertengger pada bongkahan kembar favoritnya.


"Aku yang harus bertanya. Apa kamu yakin melibatkanku di perusahaan keluargamu?" Aji mengangguk seraya menciumi pundak polos istrinya.


"Kamu gak takut aku mengambil alih perusahaan keluargamu?" lanjutnya bertanya.


"Ambilah sesukamu. Apa yang menjadi miliku, juga milikmu" nafasnya mulai memburu lagi kala bibirnya terus bergerilya di area pundak dan leher sang istri.


"Kalau begitu, aku akan mengambil alih dan menceraikanmu, hahaha...." Aji terdiam, lalu melanjutkan aksinya lebih mendalam. Dia masuk ke dalam selimut, kebagian bawah tubuh Dharra, dan bermain main disana. Membuat Dharra tak kuasa menahan sensasi dari kenakalan lidah Aji.


"Aku akan mendapatkanmu lagi, sayang" jawab enteng Aji yang langsung menyerangnya lagi. Membuat Dharra tak bisa berkutik selain menyambut serangannya.


Gimana Dharra bisa lari darinya jika dia terus diperlakukan seperti ini?


Di lain tempat, Cynthia tengah menenggak minuman beralkohol di sebuah club. Dia melampiaskan kekesalannya yang telah di tegur oleh ayahnya karena keegoisannya.


Mall terbesar di kita itu hampir saja bangkrut karena harus membayar penalty sebesar 3 milyar.

__ADS_1


Ayahnya sudah cukup jengah dengan tingkah manja nya. Dia tak akan mempertaruhkan perusahaan demi ego anak semata wayangnya.


"Dasar cewek sialan, lihat saja aku akan merebut Rakha kembali" racau Cynthia dalam mabuknya sebelum kehilangan kesadaran.


Satu hari sebelum hari H, Aji sangat disibukkan dengan persiapan yang hampir final. Dia harus memastikan tidak ada kesalahan secara teknis maupun non-teknis. Ada yang berbeda dari event yang satu ini. Semua SPG (Sales Promotion Girl) mengenakan celana bahan panjang, meski stelan atasnya mengenakan kemeja pas body dan asesoris syal melingkar di leher. Tak terkecuali dengan para kru event yang membuat mereka mengerutkan alis dengan dalam. Semua itu bentuk perubahan dirinya untuk menghargai istrinya. Briefing terus dia lakukan agar pada saat pelaksanaan tidak ada satupun yang bertanya atau buta peta area acara. Dia memastikan peralatan pendukung tidak ada masalah dan aman dari pembajak.


Siang tadi Aji tidak bisa makan siang bersama Dharra seperti yang selalu mereka lakukan setiap hari. Dharra mengerti dengan kesibukan yang Aji jalani hari ini. Dia pun berniat mendatanginya sepulang kantor.


"Pastikan kabel kabel aman. Jangan sampai pengunjung tersandung"


tring


tring


"Oh, kamu sudah sampai? langsung ke ruang kru ya, aku mau ke toilet dulu"


Aji memastikan sekali lagi keamanan perlistrikan pada kru, lalu ke toilet untuk mencuci tangannya. Dharra membawakannya makan malam karena sudah dipastikan Aji tak akan menyempatkan diri untuk makan jika sedang mempersiapkan event. Itu informasi yang didapatkannya dari oma, bahwa Aji pernah terkena tyfus karena tidak makan dan minum seharian selagi mempersiapkan suatu event. Bukannya seksi konsumsi tidak menyediakan, hanya Aji yang selalu menunda untuk hanya sekedar pergi ke ruang kru untuk mengambil minum yang telah tersedia.


Aji selesai dengan hajatnya, lalu mencuci tangannya sambil menyenandungkan lagu dengan siulannya. Sedikit merapikan penampilan karena akan bertemu bidadarinya.


Saat Aji keluar dari toilet, dia tak tahu jika sedang ditunggu seseorang.


"Sayang...." seruan lembut seorang wanita menghentikan langkah dan siulannya.

__ADS_1


"Kamu.... mau apa?" Aji tak mau berlama lama berduaan dengan wanita ini. Dia sangat tahu karakter obsesif wanita ini bisa memperunyam hidupnya.


"Aku mau bicara. Bisakah kita ke suatu tempat?" Cynthia meraih tangan Aji yang melengos pergi begitu melihatnya. Namun Aji segera menepisnya.


"Gak ada yang perlu kita bicarakan. Aku sudah membayar penalty, jadi urusan kita sudah selesai" Aji melanjutkan langkahnya. Namun Cynthia lagi lagi menahan langkahnya.


"Tapi bukan uang yang aku mau darimu. Aku mau kamu, Rakha"


Aji menghentikan langkahnya. Merasa tertarik dengan perkataannya.


"Kamu sama sekali tidak menginginkanku. Obsesimu hanya gengsi jika bisa bersamaku. Dan satu hal. Bullshit jika kamu bilang gak menginginkan uangku. Suatu saat ketampananku akan luntur karena usia. Dan aku akan kamu buang karena dirasa sudah tak berguna" Aji kembali berbalik untuk meninggalkannya. Namun baru satu langkah, Cynthia kembali menahannya.


"Jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada wanitamu" ancamnya.


Aji langsung berbalik dan menekan lehernya dengan tangan kanannya, dan mendorongnya hingga ke tembok.


"Jangan coba coba mengancamku dengan ancaman murahanmu. Akan kupastikan kamu akan menyesalinya sebelum melakukannya" Aji mendesis, sedikit menekan jarinya pada pangkal tenggorokannya. Membuat Cynthia terbatuk karena jalan nafas yang menyempit. Tapi dia tak tampak terintimidasi. Sebelah sudut bibirnya mengangkat keatas, seperti sebelah kakinya yang menampilkan paha mulusnya yang ia angkat ke atas, tepatnya hingga ke pinggang Aji dan melingkarkannya lalu menariknya hingga menempel padanya. Aji tak sadar dengan apa yang dilakukan Cynthia, dia sibuk membaca ekspresi Cynthia yang memejamkan mata dan sedikit mendes4ah. Hingga sesosok tubuh lain berdiri di sebelah mereka sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Menyorot mereka dengan tatapan tajam.


Aji terkejut dengan kehadirannya yang tiba tiba, lalu cekalan pada leher Cynthia mengendur. Saat hendak menjauhkan diri dai Cynthia, dia baru tersadar jika Cynthia memepetkan bagian bawah tubuh mereka. Membuat siapapun yang melihat sikap mereka akan salah paham.


"Dasar murahan" desis Dharra yang kemudian meninggalkan mereka dalam ke ambiguan.


"Sayang...." panggil Aji yang langsung mendorong kasar tubuh Cynthia. Bukannya merasa kesakitan, wanita itu malah tertawa nyaring sambil memegangi lehernya yang panas karena cekalan Aji.

__ADS_1


__ADS_2