
Aji menghabiskan Americano nya dan bersiap untuk mematikan laptop saat mendapat telfon dari Dharra.
"Bagaimana? apa dia percaya? apa dia memakan dan minum yang sudah disiapkan?" tanya seorang wanita yang menghampiri Raul tak lama setelah Dharra meninggalkan restoran. Wanita itu datang dari meja yang berada di sudut restoran.
"Sudah kubilang dia itu selalu waspada. Tentu saja dia tak memakan makanan ini" jawab Raul ketus.
"Tak masalah. Aku sudah tahu dia akan waspada. Setidaknya kalau dia lalai dan memakannya, itu adalah suatu keajaiban. Setidaknya dia mendapat informasi yang membuyarkan fokusnya dan percaya padamu. Berapa uang yang dia beri padamu?" Laras merebut amplop tebal berisi uang yang tadi Dharra berikan untuk membayar jasa Raul.
"Heh.. cuma segini? memuaskanmu saja tidak, kenapa kamu memilih terus bekerja padanya?" cibir Laras yang kemudian mengambil sebagian besar dari uang itu. Hanya menyisakan beberapa lembar saja.
"Aku kembalikan. Anggap saja bayaranku untuk memuaskanmu nanti malam"
cup
Laras mengecup sebelah pipi Raul dan beranjak keluar restoran.
"Sialan. Aku terjebak" Raul membanting serbet yang lemah tak berdaya keatas meja. Memijat pelipisnya dan meraih amplop yang tergeletak diatas meja dan sudah kempes.
"Dasar sundal. Cuma disisain segini? nasiib nasib. Inilah akibatnya kalau main api" Raul kemudian memutar otak dan mengetikan sesuatu di ponselnya lalu mengirimkannya.
Akhirnya Raul memilih pergi dari restoran itu dan makan di warung nasi tegalan bercat biru pada pintu dan kusen jendelanya.
"Cih... sudah kuduga kalau dia tidak bisa dipercaya" cibir Aji lalu mematikan laptopnya dan beranjak pergi ke restoran jepang tempat istrinya menunggu.
Aji dan Dharra memang sedikit tak percaya pada Raul yang tiba tiba mengajak Dharra bertemu di restoran. Padahal informasi seperti itu bisa disampaikan lewat telfon. Akhirnya Aji memutuskan untuk datang 2 jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Sekalian mempelajari tentang perusahaan oma melalui email yang dikirimkan pihak perusahaan padanya.
Aji memilih tak menghadiri pertemuan awalnya dengan para dewan direksi demi mencari tahu posisi sebenarnya kawan Dharra itu. Apakah berpihak pada mereka, atau yang bertentangan dengan mereka.
__ADS_1
Aji mengenakan kacamata tebal dan gigi palsu yang sedikit menonjol, dipermanis dengan sentuhan kumis tipis membuat orang orang tak mengenalinya sebagai seorang Cassanova tersohor di kota ini.
Aji tiba di ruangan VIP restoran jepang itu. Dharra sedang menunggunya dengan beberapa menu camilan yang sebagian sudah masuk ke perutnya.
Aji menanggalkan penyamaran yang melekat di wajahnya yang membuat Dharra selalu menyemburkan tawa.
Aji lantas mendekatinya dan menyambar bibirnya agar tak lagi menertawakannya. Dia telah berpesan pada pihak restoran agar tak mengganggu meetingngnya ini. Tentu saja meeting tanda kutip.
Dharra memperlihatkan chat terakhir yang Raul kirimkan setelah mendapat pelajaran dari sang suami, yang isinya :
Raul : Bu Dharra, maaf saya terpaksa berbohong. Laras mengawasi percakapan kita dari ujung ruangan. Syukurlah karena ibu tak menyentuh makanan dan minuman itu sedikitpun karena mengandung zat berbahaya bagi kandungan ibu. Saya akan menghubungi ibu lagi dengan nomor yang berbeda.
"Apa dia muncul?"
"heem. Seperti yang dia bilang. Tampaknya Raul awalnya ingin mendapatkan keuntungan ganda. Namun dia kena boomerangnya sendiri. Laras benar benar memerasnya" Aji tertawa puas sambil menyuap camilan yang Dharra pesan. Dia lalu memesan menu utama.
"Dari mana kamu tahu kalau dia berbohong?"
"Apa kita perlu membuat skenario seolah kita bisa dipisahkan?" lanjutnya.
"Apa maksudmu? apa kau benar benar berniat menjauh dan berpisah dariku? Tidak bisa. Kita ikuti saja permainan mereka. Tapi tetap harus waspada"
Aji menampilkan wajah cemberut sembari mendekap erat istrinya dari samping. Menyuapinya dan bergantian menyuapi diri sendiri. Tak terbayangkan olehnya jika harus berpura pura terpisah. Berjauhan sebentar saja sudah sangat menyiksanya. Itulah sebabnya Dharra ditempatkan oma sebagai asisten pribadi Aji, sang CEO baru.
Meskipun Dharra sangat mumpuni menjabat sebagai Direktur Operasional. Namun melihat tabiat cucu koplaknya, oma tak mau mengambil resiko.
Namun tetap pengambil keputusan tertinggi adalah Dharra. Karena Dharra adalah orang yang paling rasional yang pernah oma kenal. Dan Aji tak masalah dengan itu selama masih bersama sama. Dalam artian berada dalam satu ruangan yang sama.
__ADS_1
Pagi yang cerah ini diawali dengan rutinitas lama namun baru. Dimana Dharra masih bekerja meskipun usia kandungannya sudah menginjak bulan ke 5. Menyiapkan sarapan untuk semua orang dengan tangannya sendiri yang cekatan, dibantu oleh mbok Iyem. Lalu berangkat ke kantor bersama sama setelah mengantarkan Bintang sekolah.
Oma berada di mobil yang terpisah karena hanya memantau dan membimbing Dharra dalam membantu Aji mengelola dan menyusun jadwal pekejaannya.
Pagi ini adalah jadwal diadakannya meeting yang sudah diagendakan. Aji dan Dharra mulai bekerja hari ini dan membuktikan kemampuan mereka mengelola perusahaan.
Aji tak melepas usaha dibidang jasa EO nya atas saran Dharra. Usaha yang dirintisnya dari nol harus dipertahankan mengingat perjuangan merintis suatu usaha tidaklah mudah.
Rapat dimulai. Semua dewan direksi sudah duduk di tempatnya masing masing. Menampakkan wajah ketidak sukaan. Pasalnya mereka selain sudah senior secara usia, pun dengan masa bakti di perusahaan.
"Ada yang ingin disampaikan?" oma bertanya diakhir pembukaan.
"Apa ibu Sekar yakin mempercayakan perusahaan pada anak muda yang belum pernah menangani bidang bisnis ini? menurut saya secara pribadi sangat riskan"
"Penerus saya ini tidak mungkin menghancurkan mata pencahariannya sendiri bukan? lagi pula dia sudah terbukti mampu merintis sebuah usaha dari nol. Tanpa satu sen pun modal dariku. Apa kau bisa melakukannya, pak Indra?"
Lelaki paruh baya yang bernama Indra Wiguna pun terdiam. Dia adalah seorang direktur keuangan yang cukup loyal pada perusahaan.
"Begini saja. Beri mereka waktu 3 bulan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Jika dalam kurun waktu tersebut perusahaan tidak mengalami kemajuan bahkan kerugian, aku akan memberikan 1 persen sahamku pada masing masing dari kalian"
"......................"
Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir mereka.
"Baiklah, saya anggap kalian setuju. Silahkan lanjutkan" oma pun segera menempati kursi kebesaran di sudut ruangan. Memperhatikan dan mengawasi jalannya rapat internal perusahaan.
Aji dengan kecerdasannya bisa dengan mudah mempelajari struktur dan sistem yang perusahaan besar oma pimpin selama ini. Diapun memberikan visi dan misi yang baru demi berkembangnya perusahaan.
__ADS_1
Oma yang tak pernah tahu sepak terjang cucu satu satunya itu dalam merintis usaha kecil miliknya yang kini sudah diakui se nusantara, merasa takjub dengan kemampuan menganalisis nya. Terlebih kondisi kesehatannya yang amnesia.
Dharra pun menunjukan kemampuan seorang manajer operasional yang sebetulnya sedang kosong posisinya, dengan cara memberikan masukan masukan ide dan program baru yang tak terfikirkan oleh para senior. Oleh karena itu oma memutuskan memberinya jabatan rangkap.