
Aji memeluk erat Dharra dalam dekapannya dari arah belakang. Seolah takut ditinggalkan. Bibirnya tak hentinya mengecupi punduk dan pundak polos Dharra. Mereka masih berbaring di ruang istirahat dengan nafas terengah karena ulah lontong Aji yang bertransformasi menjadi rudal dan terus menembakkan misil nya.
Namun Dharra tak keberatan. Dia merasakan cinta yang mendalam dari suaminya meski masih belum mengingat apapun tentang masa lalunya.
Sebenarnya amnesia Aji tak terlalu banyak berpengaruh pada kehidupan mereka. Karena Aji masih tetap mencintainya meski ingatannya hilang.
Dharra bersyukur saat Aji mengatakan tak peduli dengan masa lalunya. Yang terpenting baginya adalah masa kini dan masa depan mereka nanti.
"Apa yang terjadi?" tanya Dharra ditengah nafasnya yang terengah engah.
"Hanya pertunjukan murahan" jawabnya singkat. Namun sejurus kemudian terdengar tawa lirih dari mulutnya.
"Apa yang lucu?"
"Badut"
"Badut?"
"Iya, badut. Perutnya gendut, tapi isinya kosong" Aji lalu tertawa renyah.
Dharra menyikut perut suami somplaknya.
"Siapa laki laki tadi?" Aji masih merengkuhnya erat. Menghidu ceruk leher Dharra.
"Entahlah. Tapi sepertinya pernah lihat" Dharra terdiam sejenak, sepertinya sedang berpikir.
"Aah... dia salah satu pelamar. Kalau tak salah namanya.... Mario, lulusan luar negri. Tapi kenapa melamar jadi sekertaris?"
"Tapi aku tak suka dengannya" Aji berkata lirih dengan suara serak ditelinga Dharra.
"Aku sedang tidak menjodohkanmu, sayang" Dharra membalikan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Aji.
"Aku tak tahu siapa yang dipilih HRD. Namun kualifikasinya paling bagus diantara para pelamar yang lain"
"Tapi nanti dia akan di training olehmu. Dan aku tak suka kamu dekat dengan pria lain"
"Tentu saja aku tak akan berduaan dengannya. Dia akan mengikuti kegiatan kita. Tapi bukan kegiatan jam istirahat" Dharra tersenyum sipu.
"Bukankah kita ada meeting siang ini?" Dharra menyusuri hidung mancung Aji dengan jari lentiknya. Aji memejamkan mata merasakan sentuhan Dharra.
"Aku sudah memundurkan jadwalnya" jawabnya tenang. Lalu telunjuk Dharra yang sedang menyusuri bibirnya dikulum Aji. Membuat Dharra sedikit terkejut lalu tersenyum. Dia tahu jika suaminya menginginkannya lagi. Dharra pun berinisiatif mencium bibir yang sedang mengulum jarinya.
Aji melepaskan jari Dharra dan menyambut ciumannya. Merekapun lanjut dengan ronde ke sekian🤦🏻♀️
Kerja woii...
__ADS_1
Sudah sebulan sekertaris baru itu mengikuti langkah mereka. Mario mulai paham dan inisiatif tentang tugas yang diberikan.
Ya, Mario lah yang direkrut pihak HRD karena kualifikasinya sangat memenuhi syarat.
Awalnya Aji tak menyetujui mengingat tangannya pernah menyentuh istrinya. Namun selama masa training, tak sekalipun pandangannya menatap istrinya. Dia bahkan selalu bersikap dingin dan waspada. Fokusnya patut diacungi jempol. Tak heran nilai nilainya tinggi.
Aji mulai terbiasa dengan kehadiran Mario. Dia bahkan sedikit mengandalkannya untuk mendampingi Dharra kala Aji menghadiri rapat di luar kota. Aji tak merasa khawatir, dengan catatan tak boleh melakukan kontak fisik. Selain itu hasil pekerjaan mereka menjadi lebih efektif dan efisien.
Perusahaan kini berkembang lebih pesat dibawah kepemimpinan Aji dan Dharra. Apalagi ditambah sekertaris baru yang profesional dan bisa diandalkan.
tring
tring
Bunyi ponsel Dharra mengalihkan perhatian Dharra dari angka pada diagram batang yang cenderung menanjak.
"Raul?"
Dharra sedikit terkejut dengan nama yang tertera pada layar. Pasalnya sejak saat di restoran tempo hari, Raul tak pernah menghubunginya lagi untuk memberi informasi apapun mengenai Laras.
Dharra pikir Raul memutuskan untuk melanjutkan hidupnya menjauhi masalah dengan Laras. Semoga saja.
Ponsel itu berdering untuk kesekian kalinya. Akhirnya Dharra memutuskan untuk menjawab panggilannya, siapa tau ada berita penting yang ingin dia sampaikan.
"Ya Raul. Maaf tadi aku sedang sibuk"
"..........."
"..........."
"Apa? TV? Chanel 3? sebentar"
Dharra lantas menyalakan TV melalui remote yang berada di laci kerjanya. Ponselnya masih ia tempelkan di telinga karena panggilan itu belum berakhir.
Berita di TV menayangkan berita skandal wakil walikota yang kedapatan sedang berbuat mesum di sebuah hotel bintang 5. Dan video itu sengaja direkam oleh pasangan mesumnya dan mengirimkannya pada kantor berita TV.
Tentu saja yang disiarkan pihak stasiun tv telah di sensor, namun penampakan sang wanita yang wajahnya di samarkan dan suaranya yang sangat Dharra hafal membuat Dharra tak percaya.
Laras benar benar nekat. Dia pasti tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Karena waktu perekaman video itu sudah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya saat mereka baru bertemu, dan itu sebelum menghadiri pesta pernikahan Dharra dan Aji.
Ternyata selama ini Raul masih mengawasi Laras, namun tak berani mendekatinya lagi. Mengingat betapa Laras sudah tidak waras dengan melakukan hubungan dengan sembarang pria.
Raul tak mau terkena dampak buruk yang bisa mengancam jiwanya.
Raul bahkan tak meminta sepeserpun dari Dharra untuk mengawasinya. Dia hanya penasaran dengan sasarannya sebelumnya. Mengingat Dharra sang klien sebelumnya selalu memberinya bayaran yang lumayan bisa menjamin kehidupannya. Raul merasa perlu membayar hutang budinya karena Dharra telah mengeluarkannya dari keterpurukan ekonomi pada saat itu.
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?" tanya Dharra kemudian. Dia ingin mengucapkan terimakasih secara langsung. Namun Raul menolaknya untuk bertemu.
"Bu Dharra hati hati ya. Maaf kalau saya menolak bertemu. Saya takut Laras mengikuti saya dan mencelakai ibu. Terakhir saya ikuti, dia ada di kawasan K. Berpura pura menjadi pengemis"
deg
"Kawasan K? itu adalah kawasan letak kantor ini" batin Dharra merasa terkejut.
Itu berarti Laras dekat dengannya.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu. Pergilah yang jauh. Carilah kehidupan yang nyaman. Berkeluargalah. Dan sekali lagi, terima kasih"
Dharra segera mematikan ponsel. Keringat sebesar biji jagung bermunculan di dahinya.
Kepalanya menunduk ditopang oleh kedua telapak tangannya.
Lalu matanya melihat kearah perutnya yang sudah besar. Mengusapnya. Ada sedikit ketakutan jika suatu saat mereka bertemu dan melukainya yang berimbas pada kandungannya. Anaknya.
Dharra tak diam. Diapun memberitahu Aji perihal berita yang baru dia dapatkan dari Raul. Aji marah, sekaligus kesal karena dia tak bisa segera pulang untuk mendampingi dan menjaga istrinya. Karena kepergiannya kali ini ke luar kota sangatlah penting. Dan itu tak bisa ditunda. Karena orang yang akan ditemuinya akan segera kembali ke negara asalnya, dan akan kembali ke negara ini tahun depan.
"Mintalah Mario untuk selalu mengawalmu. Nanti aku juga akan menelponnya. Kamu berhati hatilah, sayang"
Aji segera memerintahkan Mario untuk selalu mengawal Dharra. Menjemput dan mengantarnya pulang. Dan Mario pun menyanggupi karena itu adalah bagian dari tugasnya. Tambahan tugas yang Aji cantumkan dalam lembaran kontrak kerja nya.
Beberapa hari berlalu, namun apa yang dikhawatirkan tak menampakkan diri.
Dharra sedikit lega karena ketakutannya tak terjadi juga. Kebetulan hari ini adalah week end. Dia ingin sekedar berjalan jalan di mall untuk merefresh otak, sekalian membeli beberapa kebutuhan calon bayi dan pakaian untuk Bintang yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun yang ke 6.
"Kamu boleh pulang duluan, Yo"
"Tapi-"
"Udah gak papa. Toh selama ini juga aman. Aku cuma ke Mall deket rumah kok"
Mario tak berkata apapun lagi. Mobilnya ia arahkan ke Mall yang dimaksud Dharra.
"Kamu itu.. Ya udah, makasih udah nganterin. Sekarang kamu boleh pulang. Oke" Dharra turun di area drop off dan melangkah menuju pintu utama Mall.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang cepat dari kejauhan, disertai dengan teriakan 2 orang pria yang mencoba menghentikannya.
"Aaaaa.... mati kau Dharraaaa....."
craashh.....
"AAAAAAAA......."
__ADS_1
BUTUH KOPI NIH BIAR LANJUT
😵😵😵😵