
Hari ini adalah hari minggu, setelah acara tadi malam mereka tidur dengan tenangnya, hingga sesuatu mengusik tidur nyaman Aji. Tangannya yang semalaman memeluk pinggang ramping Dharra yang juga tertidur nyenyak dalam pelukan hangat, tak sengaja menumpu pada bongkahan besar candunya.
Masih dalam keadaan memejamkan mata, serasa mimpi tangannya terus bergerak disekitar bongkahan itu. Mimpi dan bayangan tak bisa ia bedakan, sesuatu bergerak dibawah sana, terpancing oleh ulah tangan nakalnya.
Lenguhan terdengar dari korban tangan nakalnya. Kesadaran Aji mulai kembali, ini bukan mimpi, Dharra menggeliat lalu membalikan badannya menghadap Aji. Tanpa aba aba Aji ******* bibir Dharra seraya menindih tubuhnya dan menggesekan bawah tubuhnya memancing tongkat ajaibnya mengeluarkan letupan. Seandainya mereka sudah sah, Dharra tak akan dibiarkan turun dari tempat tidur. Dharra pun merasakan sensasi yang membuatnya kecanduan.
"Sayang, kita nikah di KUA aja dulu ya, biar bebas, biar ga takut digerebek, biar Bintang bebas panggil kamu 'mama' " Aji membujuk seraya menciumi leher dan menggerayangi bongkahannya dari balik pakaiannya.
"Aku pengen milikin kamu seutuhnya"
"Bukan karena kamu cinta aku? tapi karena nafsu kan?"
" Aku gak akan ngejar kamu dan ngejauhin duniaku kalo gak cinta. Tapi bukankah salah satu alasan menikah adalah karena untuk mengendalikan nafsu liar? apa kamu tega aku terus terusan berbuat zina? aku ga bisa berenti karena terus mencari kepuasan. Tapi beda kalo sama kamu sayang. Kek gini aja aku puas, dan aku gak mau sama yang lain lagi. Hanya saja, hubungan kita selalu dibayangi ketakutan. Jika saja kita sudah sah, kita gak perlu takut ketahuan tinggal serumah dan tidur seranjang" Aji terus mengecupi tubuh Dharra, sesuatu memancingnya lagi. Kegiatan pagi hari seperti ini memang paling enak dilakukan bersama pasangan sah.
__ADS_1
"Aku takut ga bisa nahan diri lagi sayang"
"Tapi pernikahan bukan hanya sekedar urusan ranjang, sayang" Dharra menjawab sambil melenguh.
"Lagi, bilang sayang lagi.."
"aahh... sayang..." Aji ******* bagian bawah Dharra membuat tubuhnya melenting. Memainkan lidahnya, membuat Dharra tak kuat menahan sesuatu yang akan keluar.
"Aji... saayaaaaang..." Dharra meledak.
"Kamu suka, sayang?" tanya Aji yang kemudian merebahkan diri lagi di samping Dharra seraya memeluknya dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Dharra.
"heem" Aji tersenyum.
__ADS_1
"Nikah ya, hari ini. Sambil ngerencanain pesta kek gimana yang kamu mau" Aji berbisik di telinga Dharra.
"Kamu licik. Ngebujuknya kek gitu. Tapi gimana sama wali ku? Kedua orang tuaku sudah meninggal. Bibi ku juga sudah bercerai lagi. Tapi... ada satu orang yang lebih mempunyai syarat menjadi wali ku, yaitu paman dari pihak ayahku. Tapi kami tidak dekat, entah kenapa dia tak mau mengunjungiku. Kata bibiku, paman dari ayahku itu berniat tidak baik padaku. Oleh karena itu bibi memproteksi ku dari mereka"
"Untuk masalah wali, kita bisa memakai wali hakim dengan alasan jauh dari sanak saudara"
"Apa kamu benar benar mencintaiku?" tanya Dharra.
"Selalu. Dari dulu aku selalu mencintaimu. Kamu itu cinta pertamaku, dan aku selalu berharap jadi yang terakhir"
"Tapi aku... masih belum siap menghadapi semua mantanmu. Yang semalem aja..."
"Peduli hanya padaku. Mereka mungkin bilang macem macem. Asal aku tak pernah meladeni mereka lagi. Apa kau percaya padaku?"
__ADS_1
"Mungkin" Dharra lantas membalikan tubuhnya memunggungi Aji. Ia benar benar bingung dibuatnya. Bukannya tak mau menikah. Hanya saja dia tak mau urusan rumah tangganya kelak dicampuri bibinya dengan dalih balas budi.