
Akhirnya mereka menempati apartemen baru yang kelewat mewah bagi Dharra.
Ekspresinya meringis kala membayangkan berapa uang yang sudah oma keluarkan untuk membeli apartemen mewah dengan 3 kamar. 2 kamar di bawah dengan masing masing kamar mandi, dan 1 kamar utama di lantai 2, juga kolam jacuzi yang mengarah pada jendela kaca yang besar sehingga bisa menikmati pemandangan sambil berendam, namun tidak tampak dari luar.
tring
Ponsel Dharra berbunyi saat Dharra tengah asik menyiapkan makan malam yang kelewat larut, tapi karena mereka baru kembali bersama, kelelahan itu tak terasa. Bahkan mereka menikmati moment kebersamaan ini dalam satu kerja sama yang spontanitas.
Tanpa ada yang memberikan komando, semua orang termasuk Bintang merasa memiliki tugas masing masing.
Seperti Oma yang menata ulang tata letak pot bunga kecil, Bintang yang membereskan pakaian dan memasukkannya ke lemari masing masing, Aji yang membersihkan dan menata ulang posisi kursi dan sofa, sementara Dharra berkutat di dapur menyiapkan berbagai menu rumahan.
Dharra meraih ponselnya karena lampu tanda pesan masuk terus berkedip.
uhuk
uhuk
Dharra terbatuk saat sedang mengunyah makanan sambil membuka e-mail.
"Sayang, pelan pelan makannya-"
"Oma kenapa ngirim uang lagi sama Dharra?" tanpa basa basi Dharra langsung menanyakan perihal rekening yang bertambah 3 digit.
"Ooh, ga papa. Tadi oma kepencet. Untung ke kamu masuk nya"
"Omaa, dibilangin jangan mainan hape. Kalo kekirim ke yang lain gimana?" Dharra kembali mengutak atik ponselnya dan hendak mengembalikan uang itu"
"Jangan coba coba dikembalikan. Atau Oma kirim semua isi rekening oma"
"eeeeee........" Dharra sedikit meragukan pendengarannya. Namun melihat Aji yang menahan semburan tawanya membuat Dharra tak habis pikir. Ancaman macam apa itu? pikirnya.
"Kalo gitu... Dharra balikin aja deh, biar semua harta oma Dharra yang kuasai hahaha...." biasanya berhasil pikirnya.
"Kamu pintar, jadi oma bisa santai. Kamu yang urus semua aset oma. Oma gak masalah kok numpang hidup sama kamu" oma melahap makanan yang disajikan Dharra sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1
Aji menepuk nepuk pundak Dharra lembut. Memberikan semangat padanya.
"Kalooo Dharra udah kuasai harta oma, Dharra bakalan cere in Aji, trus cari berondong"
"Bagus itu, biar nyaho ni bocah rasanya kere"
"Omaa... sayang.. kok ngomong gitu sih? jangan sompral kalo ngomong. Masa nanti aku jadi duda kere? gak keren ah" Aji merajuk tak suka dengan candaan keduanya.
Dharra berhasil menyelesaikan waktu 1 bulannya dengan prestasi melebihi yang saat ini menjabat.
Perusahaan benar benar berat melepasnya. Mereka bahkan menawarkan gaji 3x lipat dari seharusnya demi menahan Dharra agar menetap di perusahaan.
Tapi janji adalah janji. Dharra tak mau di iming imingi sesuatu yang bisa memisahkan keluarga mereka lagi. Apalagi dia akan memegang sesuatu yang lebih besar dari itu. Perusahaan oma.
Dharra bertekad menggunakan kemampuannya untuk mengelola perusahaan oma beserta suami.
Raul melaporkan pada Dharra jika Laras selalu mengawasi rumah pak Rudi yang ternyata sudah Dharra pindahkan.
Dharra membelikan rumah sederhana namun halaman yang cukup luas untuk keluarga kecil pak Rudi. Dia tahu jika Laras suatu saat akan mengintai keluarganya demi mendapatkan Aji kembali.
Dharra sangat berterimakasih pada pak Rudi dan istrinya yang telah membantu mereka terlepas dari jeratan Laras.
Tiba di rumah oma, mereka disambut oleh isak tangis mbok Iyem yang mengetahui cerita tentang pengalaman buruk oma selama dibawah kendali Laras.
Pihak kepolisian kota tersebut telah mencekal kedatangan Laras dari segala penjuru. Terlebih oma adalah orang yang sangat berpengaruh di kota itu, setara dengan wali kota.
"Dharra sayang, bersiaplah. Minggu depan kalian akan melangsungkan resepsi pernikahan. Apa kau sudah menghubungi sepupu mu itu?" oma mengingatkan.
"Resepsi? jadi kita belum mengadakan resepsi?" tanya Aji.
"Ya belum lah. Gara gara lontong Aji yang gabisa nahan diri, kamu gusur Dharra ke KUA" tukas oma.
"Perasaan oma duluan deh yang maksa" sergah Dharra yang sibuk menguliti jeruk untuk Bintang.
"oooo... jadi oma duluan yang jatuh cinta sama Dharra?" tanya Aji penasaran.
__ADS_1
"Ya kamu lah, yang duluan. Dari jaman SMA dulu kamu nangis nangis pas pulang sekolah. Katanya diputusin Dharra. Tapi pas oma baru ketemu kamu, oma tau kenapa bocah ini tergila gila sama kamu. Bahkan beberapa kali oma jodohin dia sama anak relasi oma, selalu dibanding bandingkan sama kamu. hhhhh.... Tuhan memang baik sama kita. Makanya waktu kalian ketemu lagi, oma gak mau nunda lagi" Aji mencoba menggali memori nya. Tapi nihil. Dia ingin tahu lebih jelas tentang masa lalu mereka, tapi mereka memiliki banyak waktu bukan?
Waktu berlalu. Hari pernikahan digelar di sebuah area kawasan hutan yang ternyata merupakan halaman belakang sebuah resort.
Aji yang mengaturnya seperti itu sebelum berangkat ke kota J untuk menemani sang istri. Namun jiwa ke -EO-an nya memang sudah mengalir di nadi nya. Meski dalam keadaan amnesia, Aji tak bisa menahan diri untuk tak mengatur dekorasi dan rundown acara.
Hutan kecil itu dipasangi lampu lampu kecil yang menjalar di setiap pohon dan area makan para tamu.
Ijab qabul dilakukan di aula resort. Fajar benar benar berperan sebagai wali pihak wanita yang seharusnya. Keharuan akan kondisi carut marut keluarga mereka di hiasi isak tangis Dharra dan Fajar. Betapa mereka bersyukur dipersatukan kembali sebagai sanak keluarga yang mungkin hanya tinggal mereka berdua.
Fajar membawa serta anak anak dan istrinya. Tak lupa dengan Dimas yang sebelumnya ragu apakah perlu datang atau tidak. Mengingat rasa cintanya pada Dharra yang belum padam meski sudah merelakannya.
"Datanglah, untuk meyakinkan dirimu jika kesempatanmu sudah habis dan kamu bisa membuka hatimu untuk yang lain" bujuk Fajar yang kemudian diangguki Dimas sambil menghela nafas.
Apa dia benar bisa melihatnya dan melepasnya?
Suasana pesta sangat hangat, dengan alunan lagu lembut dari sang pianist.
Dengan mengusung tema tamu adalah raja, Aji dan Dharra lah yang berkeliling untuk menyapa mereka.
Hanya saja ada yang aneh dengan sikap mereka terhadap Dharra pribadi. Entahlah mungkin karena statusnya yang berasal dari kalangan biasa, yatim piatu pula.
"Gak nyangka ya caranya murahan seperti itu. Kok oma Sekar mau maunya nerima perempuan seperti itu"
Bisikan bisikan nyinyir seperti itu Dharra dengar hampir di setiap meja yang mereka lalui.
Dharra menatap Aji yang sedang diperkenalkan oma pada relasi bisnisnya. Karena setelah ini, dia dan sang istrinya lah yang akan menggantikannya untuk duduk di singgasana kepemimpinan perusahaan.
"Sayang, apa kau mendengar apa yang mereka bisikan?" tanya Dharra disela sela obrolan Aji dan relasi yang juga ikut mencibirnya kala sedang tak diperhatikan oma dan Aji.
MAAP YA BARU BISA UP
NIH AKU KASIH 2 BAB LANGSUNG👌🏻🙏🏻
__ADS_1