My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Terlambat


__ADS_3

Aji benar benar memindahkan istri dan anak anaknya ke gedung perkantoran itu.


Tepatnya di lantai paling atas yaitu 1 lantai diatas lantai ruang kantornya.


Sebenarnya lantai kantornya yang dijadikan penthouse pribadinya. Dan kantornya ia pindahkan 1 lantai dibawahnya. Lantai dimana tempat divisi keuangan berada.


Dan divisi keuangan harus rela berbagi ruangan dengan divisi pemasaran.


Oma sebagai pemilik perusahaan tentu saja tak keberatan selama perusahaan berjalan dengan lancar. Toh cucunya itu lagi lagi tak menggunakan uang perusahaan.


Dia bahkan memindahkan gajinya pada rekening Dharra.


Kesibukan Aji berkali lipat bertambah, namun dia bisa mengaturnya agar selalu pulang tepat waktu dan meluangkan waktu khusus untuk keluarganya di akhir pekan seperti keluarga lain pada umumnya.


Padahal bagi seseorang yang berkecimpung di dunia per EO an, sabtu-minggu adalah hari sakral mereka. Namun Aji mendelegasikan proyek event nya pada orang terpercaya.


Bukan Mario, bukan juga Raul.


Marvin dan Mili.


Pasangan pas menurut Dharra yang paling ia percaya dan mumpuni dalam menghandle acara.


Istirahat siang tiba. Aji segera meninggalkan pekerjaannya tepat waktu tanpa peduli dokumen sudah selesai revisi atau belum.


Layaknya siswa sekolah saat mendengar bel istirahat berbunyi.


"Istriku, aku dataaaang..." antisias Aji saat melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Dia segera memasuki lift khusus yang hanya dia dan sang istri yang bisa mengakses nya.


Aji tak sabar dengan jam istirahatnya. Dia ingin segera merelaksasi tubuhnya dengan sentuhan sang istri.

__ADS_1


Dasi yang menjerat lehernya ia longgarkan kala mengingat apa yang akan ia lakukan pada sang istri.


Keringat mengucur kala bayangan sentuhan sang istri mendarat pada daging jadinya.


"Cuma 1 lantai kenapa lama sekali?"


Oksigen terasa semakin menipis. Angka pada monitor lift tak kunjung berubah. Kepalanya mulai terasa pening.


Ada yang aneh dengan dirinya. Lantai lift terasa melayang naik turun. Seolah mengocok perut yang kini mulai terasa mual.


Aji menekan tombol darurat yang langsung terhubung pada ruang kontrol dan penthouse nya.


"Halo, ada siapa disana? sepertinya ada masalah dengan liftnya. Bisakah kalian memeriksanya?"


Terdengar tak ada tanggapan dari ruang kontrol.


"Aji.. Sayang.. halo.. apa ada masalah?" suara Dharra terdengar melalui sambungan suara saat tombol darurat ditekan yang dihubungkan secara paralel.


Dharra panik dan langsung turun ke lantai dimana ruang kontrol teknis berada menggunakan tangga darurat.


Untung saja jagoannya sudah tertidur pulas.


Brakk


Dharra membuka kasar pintu ruang kontrol. Terlihat para pengawas monitor yang berjumlah 5 orang tengah bersenda gurau sembari menikmati makanan mewah yang terlihat dari kemasannya.


Dharra tak berkata apapun pada mereka. Namun air muka nya menampakkan amarah yang tak bisa ditenangkan siapapun.


Dia menilik satu per satu orang itu, lalu dengan cepat menyambar name tag yang tersemat disaku mereka masing masing.


Kemudian dia mengawasi monitor dan mencari letak layar yang menampakkan gambar suaminya yang tengah melambai lambaikan tangan pada kamera cctv.

__ADS_1


"Panel 7" gumam Dharra yang kemudian gerakan tangannya diikuti oleh tatapan para pengawas monitor yang tengah panik karena mereka tahu apa yang akan terjadi pada nasib pekerjaan mereka setelah ini.


"Ya ampun, bos" kelima orang tersebut terkejut kala melihat tampilan di layar jika sang bos tengah terduduk lemas di lantai lift.


"Dapat" Dharra memencet tombol kontrol pada panel itu dan membuka pintu lift yang tengah ditumpangi sang suami.


"Security, amankan orang orang ruang kontrol" seru Dharra pada sambungan satu arah dari ruangan itu. Membuat para penghuni berkeringat.


Dharra kembali menaiki tangga darurat menuju lift yang telah terbuka namun sang suami masih tampak terduduk.


"Sayang...sayang.. bangun sayang.."


Dharra menepuk nepuk pipi Aji kala sampai di lift yang sempat macet itu.


Aji tampaknya hampir pingsan kehabisan oksigen.


"Uggh.. sayang.. maaf.. aku terlambat.." ucap lemah Aji yang kemudian kepalanya dipeluk Dharra sambil menangis. Hampir saja suaminya ini tewas kehabisan oksigen.


"Apa aku masih bisa dapat jatah?" pertanyaan lemahnya membuat Dharra tertawa dalam tangisnya.


Dharra dibantu yang lain memapah Aji masuk ke penthouse nya. Dan setelah itu Dharra tak mengijinkan siapapun mencari suaminya dengan alasan beristirahat.


Dharra sendiri sebenarnya tengah bersiap menyambut jam istirahat sang suami.


Dia segera menidurkan jagoannya agar waktu istirahatnya tak terganggu.


Dharra bahkan tak sadar jika dia menuruni tangga tanpa menggunakan alas kaki, juga berpakaian cukup menggoda. Meski piyama bercelana panjang dan namun jika berbahan satin, maka bentuk tubuhnya bisa tercetak jelas. Apalagi dia tak mengenakan torso.


"Aku akan menghukum mu karena kamu terlambat. Dan aku juga akan memberi mereka pelajaran karena telah membuat suamiku terlambat.


AIOO VOTE NYAAA😆

__ADS_1


DAH AMPIR TAMAT NIIH


__ADS_2