My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Jangan Dulu Mati


__ADS_3

Saat sarapan Dharra baru teringat dengan isi e-mail yang diterima kemarin.


"Sayang, kemarin aku dapet e-mail dari pusat. Setelah pameran ini aku diminta untuk menggantikan branch manager di pusat yang lagi pelantikan. Sekalian ada acara ulang tahun perusahaan yang mana aku menerima reward atas pencapaianku disini. Semua berkat kalian" Dharra tersenyum pada Aji dan oma. Namun Aji malah tertegun. Dia mendapat firasat buruk.


"Berapa lama?" Aji menanggapi dengan pertanyaan. Semoga tidak seperti yang ia duga.


"Satu.. bulan.." cicit Dharra menjawab, sedikit waspada.


"Apa?" Aji langsung berdiri menampilkan wajah yang tak bersahabat.


Benar dugaannya. Aji pasti tak menerima.


"Duduk dulu. Gak usah lebay deh. Aku udah bikin surat pengunduran diri. Sekalian kesana nyerahin suratnya, jadi gak perlu diproses lama karena perjalanan. Selain itu aku juga perlu memberitahukan perihal pernikahan kita pada keluargaku"


"Dharra benar, Rakha. Kita perlu memberitahu keluarga nya tentang pernikahan kalian. Seharusnya kita meminta terlebih dahulu sebelum melaksanakan, bukan?"


"Tapi bibi Dharra gak bisa kayak gitu oma. Beberapa kali Dharra dilamar, dan selalu punya alasan untuk menolak. Entah itu karena asal muasal, atau uang mahar yang tidak sanggup mereka sediakan. Kadang malah menawarkan anaknya yang dibilang lebih pantas mendampingi calon Dharra saat itu. Makanya Dharra setuju untuk menggunakan wali hakim juga salah satunya karena pertimbangan itu. Usia Dharra sudah gak muda lagi, kalo gak nikah nikah.. nanti.."


"Udah, gak usah dibahas. Aku ikut ya. Masa ngabarin pernikahan tapi gak dateng sama pasangannya. Nanti nama baik keluarga oma jadi jelek dong" Aji mengusap punggung tangan Dharra dan dibalas anggukan dan senyuman.


"Apa oma juga perlu ikut?" tanya oma.


"Gak usah, oma. Nanti oma kecapean. Aji juga paling beberapa hari ko disananya. Kan sayang?"


"Kata siapa? kamu disana sebulan, ya aku juga ikut sebulan" Aji bersungut.


"Lah terus selama sebulan kamu ngapain disana? Mokondo gitu?"


"ck, kamu tuh. Aku ini gak kerja aja masih bisa nafkahin kamu sayang. Apalagi yang satu itu"


"Hush.. ada anak kecil. Kalo ngomong di kontrol" Dharra membekap mulut Aji yang bisa kelewat batas bahasan.


"Ya udah, terserah kamu aja. Tapi kita gak nginep di rumah bibi aku ya. Aku gak mau kamu digodain si Laras, sepupu aku"

__ADS_1


"Iya iya. Istriku udah bisa posesif nih"


EKHEM


Oma berdehem dengan keras, saat Aji hendak melayangkan kecupan di bibir Dharra.


"Banyak anak kecil disini" sindir oma.


***


Pameran memasuki hari ke tiga. Tinggal 4 hari lagi dan Dharra siap bertolak ke pusat untuk menerima penghargaan sekaligus menggantikan tugas branch manager untuk sementara waktu. Tak lupa dia juga sudah menyiapkan surat pengunduran diri dan fokus di kota tempatnya melepas masa lajang.


Dharra tak berniat untuk tinggal satu kota apalagi berdekatan dengan keluarga bibi nya.


Bukannya dia tak tahu balas budi, hanya saja utang budi dirasa tak akan pernah lunas hingga ajal menjemput. Bahkan setelah kematian pun, utang itu masih terus ada.


Selama pameran berlangsung, Marvin dilarang datang oleh Dharra dengan ancaman pemecatan secara tidak hormat, karena termasuk membuat ketidak- nyamanan klien. Sehingga Aji dengan leluasa mengontrol jalannya acara hingga selesai sampai hari terakhir.


"hhhh.... sebenernya aku mau umumin pas resepsi. Tapi gara gara sodara kamu itu saya jadi keceplosan kan? Pak Rakha itu temen saya waktu SMA dulu di kota J. Mantan sih pastinya" Dharra sambil asik menyeruput minuman bobba.


"Enak aja sodara kek gitu. Jangan suka nyumpahin sembarangan lah bu. Eh.. tapi kan awalnya ibu gak kenal sama namanya?"


"Itu karena saya gak tahu nama lengkapnya dulu. Saya selalu manggil dengan nama depan, sedangkan disini dia dikenal dengan nama belakangnya"


"Tapi kenapa tiba tiba nikah? diem diem pula. Apa ibu hamil duluan?" tanya Mili sambil memicingkan mata"


uhuk uhuk


Dharra tersedak bobba saat Mili dengan polosnya menganggapnya seperti itu.


"Tapi menurut rumor, pak Rakha gak mungkin bikin cewek hamil duluan, dia selalu main aman jadi gak akan ada yang ngaku ngaku hamil duluan" lanjut Mili dengan kepolosannya. Dia bahkan tak peduli jika sedang berbicara dengan atasannya yang tersedak akibat ulahnya.


"Trus menurut kamu saya hamil anak orang dan ngaku ngaku anak dia, gitu?"

__ADS_1


Dharra bangkit dan berkacak pinggang. Nada dalam suaranya meninggi menampilkan emosi yang meluap luap.


"eh...eng.. enggak bu.. bukan gitu maksud saya.. apa? ibu lagi hamil? anak siapa bu?"


***


Pameran akhirnya berakhir. Dan Dharra berhasil meningkatkan minat pasar akan merek mobil itu melalui pameran tersebut.


"Sayang, gimana kalo selagi kita di kota J, rumah kita di renov aja. Biar orang kepercayaan oma yang kontrol pekerjaannya?" saran Aji pada Dharra yang tengah menikmati aroma tubuh suaminya saat menjelang tidur.


Aroma tubuh Aji bagaikan penenang yang membuat rasa mualnya lenyap.


"Ide bagus, sayang. Jadi saat kita kembali, rumah itu sudah bisa ditempati. Tapi, apa mungkin dalam 1 bulan bisa selesai?" tanya Dharra dengan memejamkan mata sambil menghidu leher Aji.


"Tentu saja bisa sayang. Itu bisa diatur" Aji mengecup puncak kepala Dharra. Tongkat bernyawa nya terpanggil karena hembusan nafas Dharra di lehernya. Membuat jakun Aji naik turun. Niatnya mengistirahatkan sejenak istrinya dari gempuran tongkat ajaibnya. Namun baginya yang berlibido tinggi tak kenal kata lelah.


Tangan nakalnya menyelusup ke balik piyama tipisnya, meraih bongkahan yang tak memakai kurungan. Dharra yang sudah tertidur karena aroma menenangkan Aji pun terusik dan melenguh. Serasa mimpi. Mimpi yang membimbingnya untuk menari mengikuti irama gerakan Aji yang membuatnya membelalakan mata.


"Sayang... engh.. aku ngantuk..ahhh..." tubuh dan kesadarannya bertolak belakang.


"Tidurlah sayang. Biar aku yang bekerja" Aji mencicipi tiap inchi tubuh Dharra. Menyatukannya secara perlahan, membuat Dharra memelentingkan tubuhnya karena rasa yang sangat dinantinya memenuhi inti tubuhnya.


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur, sayang..engh.."


"Baiklah, aku akan diam"


Aji pun hanya membenamkan miliknya tanpa bergerak. Berada di posisi seperti inipun sudah membuatnya nyaman. Hingga dengkuran halus terdengar di telinga Dharra.


"Yah, malah dia yang tidur. Kalo ngapa ngapain tuh harus tuntas" Dharra dengan gemas menggerak gerakkan bokongnya karena Aji menyatukannya melalui belakang. Gerakan Dharra tidak mengusik Aji sedikitpun.


"Aji jangan dulu mati sebelum selesai urusanmu" Dharra gemas dengan rasanya yang nanggung. Dia mempercepat tempo, namun Aji tetap tak terusik.


"Liatin aja. Mulai besok kamu tidur sendiri" Aji menyemburkan tawanya dan langsung menghabisi Dharra saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2