My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Tidak Mampu


__ADS_3

Peletak


Oma memukul kepala belakang Aji dengan tongkat penopang tubuh nya.


"Mikir apa kamu? udah sana kalo mau ikut ya ikut aja. Jangan banyak drama"


oma gemas dengan drama kolosal didepan matanya ini.


"Oma..." Dharra merajuk dengan komentar oma.


"Sakit ih oma. Nanti kalo Rakha amnesia gimana?"


peletak


"Justru biar kamu ing-"


"Oma... udah dong jangan marah marah. Inget tekanan darahnya nanti naik lagi"


"Iya nih, nini nini gak tau-"


peletak


Tongkat itu kembali mendarat di kepala Aji. Oma langsung berbalik melangkah ke arah rumah meninggalkan kebisingan yang membuat migrainnya kambuh.


Aji mengejar oma, ingin meminta penjelasannya.


"Oma, kenapa oma membiarkan Bintang dibawa orang tak dikenal? nanti kalo Bintang-" Aji melindungi kepalanya kala melihat Oma mengangkat kembali tongkat kayu itu dan hendak mengayunkannya pada kepalanya.


"Memang kamu gak kenal sama Dharra?" oma bertanya ketus.


"Ya.. kenal sih.. tapi kan-"


"Apa kamu pernah liat Bintang sedekat itu dengan para wanita murahanmu?" sarkas oma yang merasa kesal dengan kondisi Aji yang kembali amnesia.


"Emang gak pernah" Aji terlihat merenung.


"Tapi oma. Oma ketemu dimana sama Dharra? terus sedekat apa oma sama Dharra?" rentetan pertanyaan Aji membuat oma jengah.


"Kamu gak niat bawa oma duduk dulu sambil bikinin minuman terus mijitin kaki oma gitu?"


"ck.. manja amat. Tinggal minta mbok Iyem kan? oma.. jawab Rakha" Rakha merajuk bak anak kecil minta dibelikan mainan. Namun tangannya meraih kaki oma dan menaruhnya dipangkuannya. Memijatnya perlahan, membuat oma merasa relax.


Oma tersenyum. Cucu somplaknya ini meskipun brengsek, namun dia sangat menyayangi nenek tua ini.


"Dharra itu orang yang oma percaya untuk mengurusi perusahaan. Dia itu Direktur Operasional yang baru. Oma sangat menyayanginya karena dia tulus. Dia bahkan menyayangi Bintang seperti anaknya sendiri"


"Ck.. modus itu pasti. Mana ada yang bener bener tulus. Pasti ujung ujungnya mau nguasain harta oma"

__ADS_1


plak


Oma menepuk paha Aji dengan keras.


"Oma... uuuuuh sakiiiit....huh huh huh" Aji meniup jauh pahanya yang terasa panas.


"Sebelum dimodusin Dharra juga oma udah kasih semua sama dia. Dan kamu... tergantung Dharra. Dia mau kasih apa enggak" jawab oma enteng.


"Kok gitu, oma? cucu oma sebenernya siapa sih?"


"Cucu oma ya yang mau nerusin perusahaan. Bukannya yang ninggalin dengan alasan gak jelas. Main perempuan gak jelas pula. Kamu pikir oma gak tau niat perempuan perempuan gak jelas yang deketin kamu? bukan cuma mau lontong Aji semata. Mereka juga mau nikmatin harta kamu. Hasil jerih payah oma sama papamu"


"Ya ampun oma. Pake istilah lontong Aji segala. Nah terus Rakha mesti gimana? masa harus minta duit sama Dharra, gitu?"


"Ya terserah kamu. Kalo kamu khianatin Dharra, oma pastiin nama kamu oma coret dari daftar ahli waris"


"Khianatin gimana oma ini? Dharra kan udah punya suami, mana mau ngelahirin lagi. Ogah banget kalo harus jadi pebinor. Kayak gak ada cewek lain aja"


peletakk


Oma kembali memukul kepala Aji dengan gemas.


"Emang gak ada cewek lain yang lebih baik dari dia. Tau gak? heeeh.. gemes lala lama oma ngomong sama kamu. Bisa bisa darting oma kambuh. Heran deh sama Dharra, kok bisa naklukin kamu yang nyebelin"


Oma menggerutu sambil berlalu kearah dapur. Perutnya tiba tiba lapar terlalu lama menanggapi cucu amnesianya yang somplak itu.


Aji membersihkan diri. Namun ada yang aneh dengan kamarnya. Kesan maskulin sudah tidak kental lagi di kamarnya. Berganti dengan kesan natural dan.. cozy.


Begitupun dengan suasana kamar mandi. Wangi aroma therapy lavender menempel di seluruh ruangan. Membuatnya nyaman. Wangi asing yang dia ingat di indera penciumannya.


Tiba tiba sekelebat bayangan Dharra yang tersenyum manis muncul saat Aji menghidu wangi lavender tersebut.


" Kok bayangan dia muncul? ah sialan.. gara gara oma sih. Jadi kepikiran kan? coba aja dia belum nikah.. mungkin.. mungkin gak ya?"


tuing


Rudal Aji tiba tiba bangkit kala Aji dengan sengaja membayangkan Dharra.


"Sialan. Butuh pelampiasan nih"


Aji segera menyelesaikan ritual mandinya. Pikirannya tertuju pada pub langganannya. Dia ingin bersenang senang malam ini. Melupakan kepenatan dari masalah baru yang dia hadapi sekarang ini.


Apa yang harus keluar, tak bisa ia keluarkan sendiri. Entahlah. Mungkin dia butuh rangsangan secara langsung.


Aji bersiul sambil bercermin. Merapikan rambutnya dan sedikit memoleskan pomade.


"U yeah.. you're gorgeous" Aji berkata pada dirinya sendiri pada cermin sembari mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Siulannya menggema diseluruh penjuru rumah oma yang megah.


Oma yang tengah menyeruput teh chamomile nya menggelengkan kepalanya. Cucunya kembali berulah.


Namun dia tak khawatir. Oma sudah menyiapkan sebuah rencana dadakan.


Oma tersenyum licik sambil menyesap teh yang menenangkan itu.


Aji mengendarai mobil merah milik Dharra yang dia ketahui adalah salah satu koleksi oma yang diluar kebiasaannya. Pasalnya, mobil merah itu sangatlah biasa diantara jajaran koleksi mobi mewah oma. Namun entah kenapa Aji pun menyukainya.


Suara hingar bingar dari dalam pub terdengar hingga ke persimpangan jalan. Para peminat dunia malam itu mulai mendekati area jedag jedug itu dengan pakaian yang super mini.


Aji bersiul kala melihat barisan wanita berkostum rendah dibagian dada dan tinggi di bagian paha.


"Ladies.. here I come, baby" gumamnya.


Aji melemparkan kunci mobilnya pada petugas valet parking. Sedikit merapikan jas nya juga rambutnya. Kemudian melangkah masuk.


Di dalam pub, dia tiba tiba merasa pusing dan mual dengan kondisi padatnya lantai dansa yang dipenuhi oleh para penikmat musik EDM yang sibuk menyalurkan perasaannya melalui gerakan tubuhnya.


Aji lantas memilih duduk di bar dan memesan cocktail.


"Hai tampan. Butuh teman?" tanya seorang wanita ber make up tebal dan berpakaian minim.


"Tentu saja" Aji tersenyum dan menyambut tawaran sang wanita.


Di mencoba menggoda sang wanita dengan menyusuri kaki jenjang nan mulus yang hanya dibalut rok span se paha.


Tubuh wanita itu mulai menggeliat karena terpancing. Kepala dan bibirnya mulai bereaksi membalas godaan Aji dengan mengendus dan menggesekkan hidung dan bibirnya di leher Aji.


Aji menautkan kedua alisnya. Ada yang salah dengan tubuhnya.


Aji mencoba meremas gundukan kenyal yang dirasa kecil menurut bayangannya.


Dia kembali merasa aneh dengan reaksi tubuhnya yang tak bereaksi.


"Ada apa ini. Kenapa jadi gini?" paniknya.


Si wanita yang sudah mulai terpancing menggerakan tangannya untuk meremas rudal Aji yang... mengkerut?


Si wanita tersenyum miring dan mencibirnya "heh.. kalo gak mampu jangan sok sok an godain orang" ketus sang wanita yang kemudian meninggalkannya dalam kebingungan.


ALAMAK


RUDALNYA JADI TERONG GORENG LAGEEE😂😂😂


JEJAK MANA JEJAAAK

__ADS_1


SAMPAI BESOK LAGI😉


__ADS_2