
Teriakan yang memekik membuat Aji seketika melompat bangun dan berlari kearah asal suara. Dia meyakini jika itu adalah suara sang istri.
Dalam keadaan panik, Aji hanya sempat memakai celana kolornya. Dia lantas bergegas mencari keberadaan sang istri yang terus berteriak.
Langkahnya terhenti kala mendapati pintu utama terbuka lebar.
Aji segera mendekat. Namun saat mendekati pintu, dia dikejutkan dengan banyaknya serangga berwarna coklat mirip dengan buah kurma dengan kumis panjang dalam jumlah yang tak terhitung masuk kedalam penthouse.
Aji pun bergidik geli kala melihat jumlahnya yang mungkin ratusan itu menyerbu rumah nya.
Jika saja teriakan sang istri tak kembali terdengar, mungkin saja dia akan berperang memborbardir tempat itu untuk membasmi kawanan serangga menjijikan itu.
Sambil melompati kawanan serangga berwarna coklat itu, dia keluar untuk melihat kondisi istrinya yang tak berhenti berteriak teriak.
"Ya ampun, Dharra.." Aji sontak terkejut kala mendapati sang istri tengah dikerubungi serangga menggelikan sekaligus menjijikan tersebut.
Aji membantu menyingkirkan serangga serangga yang menggerayangi tubuh istrinya. Sebagian dari mereka ada yang terinjak.
Aji bingung bagaimana menyingkirkan serangga yang tak mau lepas dari tubuh Dharra.
Akhirnya Aji menyemprotkan hydrant atau biasa disebut pemadam api yang berupa busa yang keluar dari tabung berwarna merah yang menempel pada dinding koridor.
Dharra menangis meraung raung. Trauma pada serangga membuatnya tak bisa tenang dalam beraktifitas.
__ADS_1
Meskipun Aji sudah membeli alat elektrik pengusir serangga dan sudah dipastikan tak ada 1 serangga pun yang tersisa dirumah itu, tetap saja Dharra selalu waspada. Tak jarang dia sulit tidur karena mendengar suara gemerisik sedikit saja dia langsung panik.
Bahkan setelah Aji memindahkan keluarganya kembali ke rumah mereka pun tetap saja trauma itu tak bisa dengan mudahnya menghilang.
Aji sampai melupakan rencananya untuk mencari tahu si pengirim paket karena sibuk mencari psikiater yang bisa menangani masalah trauma yang dialami Dharra, sang istri.
Hingga suatu hari
tok
tok
Ruangan kerja Aji diketuk yang ternyata adalah sang sekertaris.
"Lantai atas? Bukankah itu lantai tempat tinggal kami kemarin?" batin Aji.
"Ya sudah. Kamu panggilkan Mario kesini" sekertaris itupun menunduk dan keluar ruangan untuk memanggil Mario.
Aji yang ditemani Mario menancapkan flash disk pada port usb di laptop nya.
Terdapat 1 buah file berupa video berdurasi pendek.
Aji meng klik tanda play pada layar lalu munculah sosok yang tak asing baru baru ini ingin mencelakainya.
__ADS_1
"Hahahahahaha.... bagaimana kejutanku? kalian para cecunguk memang seharusnya bersatu dengan habitat kalian hahahahaha.... ya, itulah kalian berdua. Cecunguk yang sangat mengganggu dan menjijikan. Sudah kubilang aku akan memberi kalian pelajaran bukan? Ternyata ada bagusnya juga aku tinggal di sel sempit ini. Setidaknya aku bisa memberi kalian pelajaran, anak nakal. Hahahhaahah...." tawa menggelegar itu terdengar menusuk telinga. Indra yang berada di sel tahanan masih bisa berulah. Dan itu menyebabkan sang istri trauma berat.
Pesan video itu berakhir. Aji geram dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Merasa frustasi dengan masalah yang dirasa tak ada habisnya terus berdatangan.
Kini yang harus dia lakukan adalah bagaimana cara mengatasi trauma yang diderita sang istri. Dia sangat tahu jika butuh waktu yang tak sebentar untuk menyembuhkan suatu trauma.
Hingga dia menggali ingatannya bagaimana dia bisa sembuh dari trauma terhadap waria.
Tak mau berspekulasi, diapun berkonsultasi dengan psikolog yang menangani Dharra. Mengungkapkan pengalaman traumanya dan bagaimana cara dia sembuh dari trauma.
Tanpa diduga, sang psikiater yang belum pernah ditemuinya itu menyetujui dan membenarkan jalan yang pernah ditempuh Aji untuk diterapkan ada pasien trauma terhadap sesuatu. Konsekuensinya cukup besar, yaitu terganggunya mental sang pasien jika syarafnya tak bisa menanggungnya. Dan kemungkinan berhasil cukup kecil. Tapi itu semua kembali pada keinginan dan kekuatan si pasien untuk mempertahankan diri dan melawan ketakutannya.
"Bagaimana?" tanya Mario setelah Aji selesai berkonsultasi melalui sambungan telfon.
"Harus dicoba. Meskipun kecil kemungkinan berhasilnya. Tapi kita harus mencobanya. Tak ada jalan lain. Atau dia akan terus tersiksa seperti ini sepanjang hidupnya"
Aji menelungkupkan kepalanya dimeja, berbantalkan lengan kokohnya.
"Dimana toko mainan yang lengkap?" tanya Aji kemudian sambil menengadahkan kepalanya.
"Toko mainan?" Mario terheran dengan pertanyaan bos nya.
"Apa Bintang memesan mainan masak masakan?"
__ADS_1
"ck, jawab aja dong dong"