My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Sayang


__ADS_3

Selesai sarapan, Dharra merapikan rambut dan mengepang rambut Bintang, persis seperti Queen Elsa dalam film Disney's Frozen.


"Wuaaaah... syantik... Bintang syukaa... cup.. terima kasih mama.." mata Bintang berkaca kaca kala memanggilnya seperti itu. Benarkah itu harapannya?


Aji dan Dharra pun sama. Mereka saling pandang, lalu Dharra menunduk untuk mengusap air mata haru nya.


"See? even she wants you to be her mom" Aji meraih dagu Dharra.


"Udah udah, ayok berangkat nanti terlambat. Papa lewat rumah sebelah, sana" Dharra menginteruksi, namun ucapannya membuat Aji merona kala dipanggil papa oleh Dharra.


Aji mengeluarkan mobilnya dari garasi. Lalu berhenti tepat di depan rumah Dharra. Aji turun untuk menutup pintu pagar nya lalu membuka pintu penumpang depan dan belakang. Terlihat Dharra keluar dari rumah sambil menggendong anak perempuan berumur 5 tahunan. Sebelum masuk ke mobil, terlihat Aji mengecup pipi gembul anak perempuan itu lalu mengecup bibir yang menggendongnya, diiringi tepukan tangan sang anak dan semburat merah di wajah Dharra.


"Mai gat, apa yang terjadi? kenapa mereka kecup mengecup di tempat umum? apa mereka sengaja biar digerebek gitu? atau memang udah ada apa apa diantara mereka? dasar sundal ya, kemaren bilang benci, eh sekarang kecap kecup. Gini caranya kan aku kalah langkah" Yuli menghentak hentakan kakinya ke lantai. Kelakuannya disaksikan suaminya yang lagi lagi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Yuli lantas berbalik menghadap suaminya sambil kesal.


"Untung aja kamu pe en es, kalo buruh udah ku tinggal tau gak. Dasar laki laki gak mampu" Yuli meninggalkan suaminya yang hampir menitikan air mata. Bukan keinginannya mengidap penyakit ini. Kalau saja bukan keturunan. Dia juga ingin seperti suami suami yang lain yang bisa membahagiakan istrinya lahir dan bathin.


Tiba di sekolah Bintang 10 menit lebih awal. Bintang yang antusias dengan kepangan rambutnya sibuk berlari kesana kemari memamerkan rambut cantiknya. Terlihat beberapa ibu ibu muda bergerombol melirik pada Aji dan Dharra. Salah satunya mendekat.


"Permisi, dengan papanya Bintang ya?" tanyanya dengan sikap menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"Iya betul. Saya papanya Bintang. Maaf jika saya tak pernah hadir dalam rapat orang tua"


"Oh ya ga papa. Dan ini siapanya Bintang ya? Maksud saya begini, sabtu ini kami mau mengadakan arisan ibu ibu, diharapkan perwakilan orang tua Bintang ikut berpartisipasi untuk mempererat silaturahmi. Yaa sambil piknik gitu. Anak sama bapa juga boleh ikut ko"


"Lihat nanti saja ya bu. Saya tidak bisa janji. Takutnya ada hal penting mendadak"


"Mama..mama..mama.. temen temen syuka sama kepangan mama. Katanya mereka juga mau dikepangin sama mama, tapi Bintang ga ijinin"


Dharra tergelak. Ayah sama anak sama sama posesif.


"Permisi, ini mama nya Bintang?"


"Eh..i-"

__ADS_1


"Iya bu guru, ini calon istri saya. Dharra"


"Oooh ya ampun. Pantesan Bintang ceria hari ini. Kenalkan saya Rima, wali kelasnya Bintang. Senang berkenalan dengan anda bu Dharra"


"Eh iya, sama sama bu"


" Saya baru melihat Bintang seceria ini. Saya pikir Bintang memang tertutup anaknya. Ternyata dia menemukan cahayanya. Sering seringlah mampir ya bu"


"Iya bu. Kalau saya gak sibuk ya bu. Soalnya saya juga masih harus kerja"


"oooh gitu. ya sudah saya turut bahagia ya pak, bu. Semoga pernikahannya lancar"


"Terimakasih bu. Kalau begitu kami permisi. Ibu ibu sekalian kami permisi duluan ya"


Aji memundurkan mobil disaksikan para ibu ibu muda yang masih kepo dengan berita mama barunya Bintang. Secara selama ini mereka selalu diam diam mencari perhatian duda hot satu itu.


Aji memang brengsek, tapi dia tak pernah mau meladeni wanita yang sudah berkeluarga ataupun sudah berpasangan. Dia tak mau jadi perusak hubungan orang.


"Ibu ibu tadi kayaknya berharap kamu ikut deh nanti sabtu"


"Tau dari mana?"


"Masa bodo. Aku males sama hal kek begituan. Kalo kamu mau, kamu bisa pergi sama Bintang"


"Yakin? kalo aku di pepetin papa orang gimana?"


ciiiiiit


Aji tiba tiba me rem mobilnya, membuat tubuh Dharra tersentak kedepan. Untung saja seatbelt mengikat kuat tubuhnya.


"Kamu... berani ngancem aku ya" Aji melepas seatbelt nya dan meraih tengkuknya mencium Dharra dengan kasar.


"Jangan pernah berani berani deket sama cowok lain. Atau..."


"Atau apa?" Dharra menertawakan tingkah cemburunya.

__ADS_1


"Atau kamu aku perawanin sebelum waktunya"


plak


Dharra memukul bahu kokoh Aji.


"Ngaco"


Aji melanjutkan laju kendaraannya menuju kantor Dharra. Tangannya tak melepas genggamannya pada tangan Dharra. Mereka saling bertukar cerita sepanjang perjalanan. Hingga tiba di kantor Dharra, Aji enggan melepas pagutan tangannya.


"Lepas, Ji. Aku mau absen"


"Aku ikut ya"


"Kamu aneh. Pagi ini aku harus morbrief. Banyak pe er pula. Kamu juga harus kerja kan"


"ck, aku bisa pindahin kerjaan aku kesini"


"Tapi ini bukan perusahaanku, sayang"


Aji tertegun dengan kata terakhirnya.


"Kamu bilang apa barusan?"


"Bukan perusahaanku"


"Setelah itu"


Dharra mulai ingat dengan ucapan panghilannya.


"Sayang" lirihnya sambil menundukkan kepalanya malu.


"Kurang kenceng" Aji merangkum wajah Dharra dengan kedua telapak tangannya.


"Saaayaaaaaang......."

__ADS_1


cupppp


Aji mengecup dalam bibir Dharra. Baru dipanggil sayang aja bahagianya setengah mati. Hati Dharra menghangat merasakan keseriusan dari sikap Aji.


__ADS_2