
"O..mai..gaat..."
Tangan Yuli sepertinya sangat ingin mencengkeram penopang tenda yang terlampau.. owow...
Aji yang terkejut dengan pergerakan Yuli yang tiba tiba membuka pintunya lebar pun dengan sigap menahan kembali pintu itu.
Bukan hanya para kepoers, namun pak erte juga terperangah dengan ukurannya. Lalu dia membandingkan dengan miliknya yang... dah lah, jadi minder kan.
"e e eh tunggu dulu, kalian sangat tidak sopan. Bapak juga. Tadinya sore ini saya mau bikin laporan ke bapak. Tapi karena bapak sudah nanggung kesini dan bikin saya nanggung, tunggu sebentar. Aji lalu menutup dan mengunci pintu, tak mau kawanan itu nekat masuk dan bertindak lebih jauh.
Dharra sudah kembali memakai bajunya, membuat Aji mendengus kesal. Mulutnya tak berhenti komat kamit sambil mencari sesuatu dalam laci nakas.
"Ada siapa sayang?" pertanyaan sekaligus pernyataan sayang yang Dharra sematkan untuk memanggilnya sedikit membuat moodnya membaik.
cup
"Buka lagi semua. Atau aku akan merobeknya" ancam Aji sambil mengecup bibir Dharra sekilas. Tak lupa dia mengancingkan jaketnya dan mengganti sarungnya dengan celana panjang.
"Ya ampun, kek mafia aja tu mantan duda" gerutu Dharra yang kemudian menuruti perintah yang mulia mantan duda somplak Aji Rakhadiredja, lalu masuk ke dalam selimut.
Aji membuka pintu dan menyodorkan buku nikah yang sudah didapatkannya kemarin saat melaksanakan ijab kabul di KUA kepada pak erte.
Tampak ekspresi kecewa para kepoers karena Aji sudah berganti tampilan.
"Jadi.. anda dan mbak Dharra sudah menikah? kemarin?"
__ADS_1
"Apa?" Yuli terkejut dengan kenyataan yang baru pak erte dapatkan. Dia lantas merebut buku nikah itu dan membacanya dengan seksama.
"Iya. Jadi mulai sekarang, ya ibu ibu. Jauhi saya. Karena istri saya itu sangat pencemburu. Kalau ada perlu dengan saya, silahkan temui istri saya" Aji merebut kembali buku nikahnya yang terlihat akan dirobek oleh Yuli.
"Silahkan anda menghancurkan bukti ini, karena saya bisa menerbitkannya lagi. Pernikahan kami sudah sah secara agama dan negara. Dan saya bisa menuntut anda karena merusak barang pribadi orang lain.
Yuli benar benar geram dengan kenyataan yang ada. Dia lantas pergi membawa kekesalan dan kekecewaan, diikuti para dayang yang juga kecewa. Secara, dulu Aji adalah milik semua para istri kesepian di siang hari. Dan sekarang, mereka bahkan mendapat peringatan untuk menjauhinya.
Tinggalah pak erte seorang yang gelagapan.
"eeeh... anu.. itu.. kalo begitu, saya pamit. Maaf sudah mengganggu" pak erte langsung keluar dari halaman rumah Aji membawa sejuta pertanyaan. Salah satunya adalah..
"Kok bisa sebesar dan sepanjang ituu?" Auto searching obat pembesar.😬
Aji dan Dharra meninjau lokasi diadakannya event promo perusahaan tempat Dharra bekerja. Dharra membujuk Aji agar mau menurutinya. Toh masih banyak waktu bagi mereka untuk berbagi peluh. Untung saja mereka sempat melanjutkan yang sempat tertunda, jadi Aji tak begitu bete. Meski keinginannya beberapa ronde lagi, namun dia tak mau memaksa istrinya yang masih punya kewajiban terhadap pekerjaannya. Dia sangat tahu jika Dharra bukan tipe pekerja yang suka makan gaji buta.
"hhh Cynthia..." Aji menghela nafas, malas meladeni betina yang satu ini. Selalu sok mempunyai kekuasaan.
Seperti biasa jika baru bertemu mereka akan langsung cipika cipiki. Tapi tidak lagi mulai kemarin. Saat Cynthia mendekat dan hendak meraih tangan Aji dan memajukan kepalanya untuk mengecup Aji, dengan tegasnya Aji mundur menghindar dan berpindah tempat ke sisi lain Dharra, yang kini posisi Dharra berada di tengah. Tangannya merangkul pinggang ramping Dharra.
Cynthia mematung kala Aji menghindarinya dengan jelas. Selain itu, Aji dengan sengaja melingkarkan tangan Dharra di lengannya, sehingga cincin kawin yang Dharra kenakan terpampang jelas. Yap. Aji sedang mengumumkan status kepemilikannya, bahwa dia ada yang memiliki. Sedangkan Dharra hanya memperhatikan tingkah Aji.
"Rakha, sayang. Apa kabarmu? aku mencarimu ke kantor tapi selalu gak ada"
"Maaf, siapa yang kamu panggil 'sayang'?" Dharra akhirnya mengerti dengan sikap aneh suaminya.
__ADS_1
"Apa suamiku yang kamu maksud? Aji, apa kamu kenal sama wanita ini?" tanya Dharra pada Aji yang disambut senyum hangat.
"Sayang, Kamu tahu aku sering bikin acara, jadi pasti banyak yang kenal dan sok deket sama aku" jawab Aji seraya menyelipkan rambut Dharra ke belakang telinganya. Sikap yang tak pernah Aji lakukan terhadap siapapun.
"Maaf ya mbak, kalau merasa mengenal suami saya, tolong panggil dengan sopan. Atau saya akan anggap mba mencoba menggoda suami saya"
"heh, I can't believe this. Suami? apa kamu hamil?" tanya nya kemudian.
"mmm ide bagus tuh, sayang, habis ini kita cek ke dokter kandungan ya. Kali aja Aji junior udah tumbuh" pinta Dharra manja, tangannya merayap di dada bidang Aji, lalu mengusap rahangnya.
"Tentu saja sayang" Aji meraih tangan nakal itu lalu mengecupnya. Tak bisa dipungkiri, setiap sentuhan Dharra membuat Aji berkeringat.
"Aku bisa menghancurkan event mu ini, kalau kamu lupa. Mall ini milik keluargaku" ancamnya yang membuat Aji mengetatkan rahangnya.
"Aji, dia ngomong apa? ken yu spik iblis? keknya setan yang satu ini ngomong sesuatu deh?" Dharra terus bermanja ria pada Aji, membuat amarah Aji mereda.
"Kita ke sebelah sana yuk. Diem disini gak baik buat kesehatan hati dan mulut" Aji lantas menarik pinggang Dharra posesif. Meninggalkan Cynthia yang menahan amarah.
"Kamu gak takut ancamannya?" tanya Aji.
"Atas dasar apa? toh aku gak ngelanggar kesepakatan. Lagian, bukankah kamu mau ngurusin perusahaan keluargamu?" Aji menyeringai.
"Kamu genius"
cup
__ADS_1
Aji mengecup keningnya.