My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Mencari Penggantimu


__ADS_3

Dharra menatap tajam wanita ber make up tebal itu. Tatapannya turun ke bawah. Terlihat perut yang kemarin agak membuncit sudah rata kembali karena pakaian pressed body nya mencetak jelas perut ratanya.


"Apa dia menggugurkannya?" tanyanya dalam hati.


Aji menarik lembut lengan Dharra. Tak mau istrinya terpancing emosi oleh Laras.


Bagaimana wanita sundal itu bisa masuk ke kota ini? Bukankah oma sudah meminta pihak kepolisian untuk mencekalnya? tanya Aji membatin.


"Halo, Raul. Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa masuk ke kota ini?"


"........."


"Kamu.... dasar jalu. Kamu saya pecat"


hhhh


Dharra memijat pelipisnya. Detektifnya itu malah terjerat cinta satu malam dengan target. Laras benar benar membuatnya migrain berkepanjangan.


"Sayang...... siapa Raul?" Aji selesai membersihkan diri dan langsung merayap di tubuh Dharra yang masih setia dengan gaun cantiknya dengan model backless hingga sedikit turun kebawah sehingga orang yang berada disampingnya dengan leluasa bisa melihat celah dibelakang tubuhnya itu.


Dan itulah salah satu alasan mengapa Aji sangat emosional saat ada lelaki lain yang berdansa dengannya. Tangan nakal itu pasti meraba kulit lembutnya dan mencoba untuk menyusuri nya hingga kebagian bawah.


Karena itu yang dia lakukan😒



Dengan cekatan namun tetap lembut, Aji membantu melepaskan tiap kaitan dan helaian yang menempel di tubuh istrinya.


Dharra sedikit terkejut kala mendapati sang suami mengulitinya dalam keadaan polos dan tubuh yang basah.


"Ayo mandi" Aji langsung membopong tubuh polos Dharra dan membawanya ke kamar mandi dimana dia sudah meyiapkan air hangat dan taburan bunga mawar disekeliling bathtube, makan malam yang tertunda dan sebotol wine. Tentu saja hanya untuknya. Sedangkan Dharra disiapkannya susu untuk ibu hamil.


__ADS_1


Dharra pasrah mengikuti alur yang sudah suaminya persiapkan. Dia sangat menikmati diperlakukan secara spesial yang selama ini belum pernah merasa dianggap sebagai seorang manusia, apalagi kata spesial.


Dia memeluk erat suaminya, menyalurkan rasa terima kasih dan rasa cinta yang mendalam. Lalu berjanji dalam hati akan mendedikasikan hidupnya pada sang suami dan keluarganya yang sangat mencintai dan menghargainya.


Aji menyuapi Dharra dan menyeka bibirnya. Sesuatu yang selalu dia lakukan sebelum kehilangan ingatan. Namun Dharra beberapa kali merasa ragu apakah suaminya ini benar benar amnesia? karena perilaku dan sorot mata padanya tetap sama seperti sebelumnya. Penuh cinta, hanya padanya.


"Kamu belum menjawabku, sayang" ucap Aji masih asik menyeka mulut Dharra dan sesekali **********.


"Bagaimana aku bisa menjawabmu kalau kau menjejaliku dengan makanan dan kecupan" jawab Dharra sambil tersenyum menggoda.


"Apa aku dulu tergila gila padamu?" tanya Aji penasaran dengan apa yang dirasakan padanya saat ini.


"Entahlah. Yang pasti kamu pernah bilang kalau kamu menungguku sampai kapanpun. Padahal kita berbeda kota" jawab Dharra sambil merangkulkan kedua lengannya setelah makanan dalam piring itu habis.


"Bagaimana dengan Bintang? apa dia anak ku dengan wanita lain? apa sebelumnya aku pernah menikah?"


"Ya ampun duda kesayanganku nanyanya kek anak kecil" Dharra mengecup bibir Aji sekilas. Tubuhnya perlahan naik ke pangkuan Aji.


"Iya. Duda meet perawan" Dharra berbisik menggoda ditelinganya. Sedikit menjilatnya dan menggigit cuping telinga.


Aji tak bisa menganggurkan tangannya. Tentu saja dia bermain main di sekitar kembaran montok yang menantang didepan wajahnya.


"Aku pasti tergila gila padamu dulu. Seperti sekarang. Aku sangat menggilaimu, Dharra ku" Aji sedikit mengangkat tubuh Dharra agar bisa mengarahkan rudalnya pada selongsong.


"engh..." keduanya melenguh saat penyatuan itu.


"Jangan pernah mencari tahu apa yang kau ragukan. Tanyakan hatimu. Karena Tuhan membisikan kebenarannya melalui nuranimu. Bintang adalah anakmu, anak kita. Yakini itu. Agar kau membuatnya bahagia. Membuat dirimu bahagia" Dharra berkata sembari mengecupi bibir dan rahangnya. Tubuhnya bergerak perlahan, menikmati moment deep talk.


"Apa kau tak keberatan mengurusi anak yang bukan berasal dari rahim mu?" Aji menyelipkan helaian rambut nakal yang menjuntai ke belakang telinganya.


"Anak adalah titipan Tuhan. Entah itu dari rahimku, ataupun bukan. Mereka tetaplah mahluk rapuh yang butuh kasih sayang. Begitu pula kamu. Meski badanmu kekar, tetap saja kamu rapuh saat tak mendapatkan kasih sayang,bukan?" Dharra menambah tempo gerakan saat mengungkapkan kata kata itu. Membuat Aji memejamkan matanya merasakan sensasi keintiman yang selalu dia bayangkan dan idamkan selama jauh darinya.


"Sayang... mantra apa yang kau gunakan padaku sehingga aku tak bisa berpaling darimu..." Aji bertanya sambil mengerang.

__ADS_1


"Mantra ketulusan. Aku bersumpah memberikan segenap hati dan jiwaku pada orang yang benar benar tulus padaku. Dan aku akan membalasnya seumur hidupku" Dharra tak bisa menahannya lagi. Puncaknya hampir tiba saat Aji meledakkan rudalnya disusul ledakan kawah yang menggelora.


Aji dibuat tak berdaya dalam dekapan si kembar. Selalu menginginkannya lagi dan lagi.


"Aku minta maaf atas kejadian tadi saat dansa. Aku tak bermaksud untuk menggoda wanita itu. Aku bahkan tak mengenalnya" Aji berkata lirih sesaat setelah ledakan dahsyat itu. Masih dengan posisi yang sama.


"Apa yang kau bisikan padanya?" tanya Dharra penasaran. Dia tak mau menduga duga.


"Seperti harapan Laras. Dia bersedia menjadi selingkuhanku" Dharra sontak menegakkan tubuhnya dari bersandar pada dada bidang suaminya.


"Jangan marah. Tentu saja aku menolaknya. Aku bilang padanya 'in your dream' " Aji memeragakan nya dengan berbisik ditelinga Dharra. Lalu menyiramkan air pada pundak mulus istrinya menggunakan tangan.


"Apa kau benar benar berniat membakarnya hidup hidup?" kali ini Aji yang bertanya. Sambil menyabuni tubuh istrinya yang mulai montok itu. Menggosoknya hingga ke celah terpencil sekalipun, tak ada yang terlewat. Secara perlahan. Tentu saja hal itu membuat sang rudal kembali tegak didalam sana. Apalagi saat menggosok bagian kesukaannya.


"Seorang penyihir tentu saja harus dibakar hidup hidup. Dengan korbannya sekaligus jika perlu" jawaban Dharra menghentikan aktifitas tangan Aji.


"Kamu akan memusnahkanku juga?"


"Tentu saja. Karena kamu pasti akan membuat alasan 'aku dijebak', 'aku tidak sengaja', bla bla bla.... tapi kamu sudah menikmatinya duluan. Dan aku tak mau memberikan toleransi apapun" tegas Dharra.


"Kamu... lalu setelah itu.. apa yang akan kamu lakukan?"


"Tentu saja menceraikanmu dan mencari penggantimu. Janda kaya sepertiku tidak mungkin menjomblo bukan?" Dharra tertawa menggoda suaminya yang mengetatkan rahang.


Tanpa aba aba, Aji bangkit sambil menahan tubuh Dharra yang masih menancap padanya, membuat Dharra reflek mengeratkan rangkulan tangan dan kakinya.


"Aji ... kita mau kemana?" tanpa sepatah katapun, Aji melangkah kearah shower dan membilas tubuh mereka sekilas, hanya untuk menyingkirkan busa sabun, diselingi dengan pemanasan kecil dengan menaik-turunkan tubuh semoknya untuk menghukum istri nakalnya ini.


Setelah itu membawanya ke ranjang dalam keadaan basah dan menggempurnya tanpa ampun.


MAY GAT OTHOR KENA BASAH😂😂


SENIN NIH, KALI AJA JEMPOLNYA ADA YANG KEPELITEK NGIRIM VOTE🤭

__ADS_1


__ADS_2