My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Makan Siang Bersama


__ADS_3

"Mau makan siang apa kita sekarang?"


"Udah aku beliin, tenang aja. Kita makan di rumah aja ya biar bebas"


"Kok di rumah? nanti aku harus ninjau progress loh ke lokasi"


"Ck, kamu tenang aja. Biar nanti orang ku yang kirimin foto progres persiapan. Buat apa punya suami EO kalo gak bisa diandelin?" alisnya naik turun dengan pede nya.


"Yang penting, setengah hari ini kita habisin waktu berdua. Trus sore nya kita jemput Bintang" Aji meraih sebelah tangan Dharra dan mengecup punggung tangannya.


"Ya ampun. Pikirannya gak bisa ya kalo gak mesum terus?"


"Gak bisa lah. Kalo gak mesum, gak baik buat kesehatan. Lagian istri sendiri ga papa kan dimesumin?" Aji lanjut mengecup punggung tangan Dharra, dan sedikit melum4tnya.


"Jorok ih"


"Tapi bikin enak, kan?"


blush


Wajah Dharra memerah. Kok kayak di plem pilem? Dimana para pe-lobby bisnis melakukan SAL, alias 's*ex after lunch.


"Kamu bilang udah beli makanan, mana?" Dharra mengalihkan pembicaraan yang membuatnya berkeringat.


"Aku minta dikirim ke rumah langsung biar masih panas. Mungkin sampai sekitar 5 menit lagi"


Mereka pun sampai bertepatan dengan datangnya kurir restoran yang Aji pesan.


Aji menggenggam tangan Dharra dan menariknya lembut ke rumahnya.


Jangan lupa tatapan sepasang mata kepoers yang hatinya terbakar api cemburu.


"Kenapa ke rumah kamu?" tanya Dharra.


"Rumah aku juga perlu diisi kehangatan sayang" Aji mengecup kening Dharra setelah membuka kunci, lalu menggiringnya masuk.


"Tapi aku gak mau di tempat- Kok pake plastik kasurnya?" tanya Dharra terkejut setelah setengah mengajukan keberatan.


"Aku udah duga kamu pasti gak mau pake bekas orang lain. Makanya aku ganti baru" terang Aji sambil membuka bungkusan makanan yang ia pesan.


"Terus yang lama?"

__ADS_1


"Aku jual. Sayang kan masih bagus. Aku gak mau dimarahin istriku karena buang buang uang. Selama itu bisa jadi uang, kenapa enggak?"


"Emang kamu tau istrimu mikir kek gitu?"


Aji merangkul pinggang ramping Dharra dan menempelkan pada tubuhnya.


"Aku selalu tau tentang istriku. Kebiasaannya, kesukaannya, ketidak sukaannya, kehebatannya bermain basket, dan kebiasaan menghabiskan waktu di time zone. Kecuali yang dua ini" Aji meremas kedua bongkahan itu satu persatu dengan sebelah tangannya. Suaranya sedikit serak. Bagian bawah tubuhnya sedikit ia gesekan. Dharra yakin, Aji mulai terpancing.


"Ekhem. Makan yuk. Aku dah laper" gugup Dharra akhirnya mengajaknya makan.


"emmm istriku udah gak sabar buat isi tenaga" Aji menyeringai menggoda istrinya yang lebih terlihat seperti kepiting rebus.


"Kepiting? kerang? kamu pesen sea food" tanya Dharra. Terkejut dengan persiapan yang Aji lakukan demi kelancaran bercocok tanam.


"Kalo daging kambing cocoknya malem, sayang" Aji berbisik parau di telinga Dharra yang sontak mendorong jauh dada bidang suaminya. Udara siang ini terlampau panas baginya.


Mereka menikmati makan siang dengan diselingi candaan dan pengakuan.


"Kenapa dulu kamu milih aku?" tanya Dharra yang penasaran dari dulu kenapa Aji lebih memilihnya menjadi kekasihnya dibanding cewek cewek famous di sekolahnya dulu, yang mana mereka adalah kumpulan cewek borjuis dengan tubuh dan wajah yang super duper terawat. Aji juga merupakan salah satu kalangan siswa borjuis saat itu yang mana di hak oleh para cewek famuos jika Aji hanya milik kaum mereka. Sedangkan Dharra? apalah dia dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya, rambut yang selalu ia cepol asal alasan, dan tak pernah melakukan perawatan wajah apalagi badan.


Dharra termasuk siswi berprestasi yang bisa masuk sekolah favorit dengan beasiswa. Dia cukup tahu diri, meski bibinya terbilang mampu membiayainya seperti Maya yang juga sekolah di sekolah yang sama, tapi dia tak mau membebani bibinya yang sudah mau susah payah membesarkannya dan memberikannya tempat tinggal dan makan.


"Maksud kamu aku jelek?"


"Justru kamu terlampau cantik"


"Kenapa cowok lain ga ada yang nembak aku kalo aku cantik?"


"Karena mereka buta. Mereka hanya melihat topeng yang menarik perhatian mereka sekilas. Karena mereka gak tulus. Niat mereka hanya ingin bersenang senang, demi gengsi, bisa mendapatkan cewek populer suatu kebanggan"


"Kenapa kamu gak kayak gitu? Kamu selalu dikeilingi orang semacam itu"


"Cuma mereka yang mau temenan sama aku. Yang lain bukannya gak mau, tapi minder. Aku lihat kamu beda. Kamu gak gampangan. Kamu asik. Kamu fokus sama pendirian kamu. Aku selalu suka kalo lihat kamu jam istirahat. Apalagi waktu main basket"


"Tapi kamu ikut ikutan ngeledekin aku"


"Hei, apa yang kamu rasakan kala berdekatan dengan orang yang kamu sukai? kamu gak tau aja jantungku jedag jedug meski cuma papasan, tapi aku pengen deket sama kamu. Salah satu caranya ya godain kamu"


"Seorang Aji Rakhadiredja, bisa salting sama seorang Dharra Putri? gombal"


Aji meraih satu tangan Dharra dan menempelkannya pada dadanya.

__ADS_1


Dharra merasakan debaran jantung Aji yang terlampau cepat.


"See? meski kita udah uye uye, tetep jantungku bermasalah kala deket sama kamu"


Dharra spechless. Tak berani berkomentar. Dia tak menyangka Aji menyimpan rasa yang mendalam padanya.


Makan siang selesai. Seperti biasa Aji membereskan meja makan dan mencuci alat makan. Dharra tidak diperbolehkannya melakukan apapun selain duduk.


Aji lantas melangkah ke kamar dan membuka plastik pembungkus kasur baru nya, lalu memasang sprei yang telah dia cuci tadi pagi. Untung saja matahari lumayan terik, jadi sprei itu cepat kering.


"Kamu kapan nyiapin semua ini?" tanya Dharra yang duduk di kasur baru nya Aji. Sedikit melompat lompat mencoba kekuatan per kasur.


"Tadi pagi, abis nganterin kamu" Aji mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Lalu perlahan mendekati Dharra yang terlihat gugup.


"Kamu gak kerja?" Dharra reflek memundurkan tubuhnya, namun suatu keuntungan bagi Aji, karena kini Dharra berada di tengah kasur. Aji terus merangkak perlahan mendekatinya, bak singa yang tengah menghadapi mangsanya yang tersudut.


"Tentu saja kerja. Sekarang juga aku mau kerja. Kerja keras bikin adek buat Bintang" kalimat terakhirnya berupa bisikan dan Aji langsung menyergapnya.


Siang yang panas itu mereka habiskan dengan kegiatan berkeringat. Tanpa ada yang mengganggu, membuat mereka lebih mengekspresikan perasaan mereka.


tok


tok


tok


Suara ketukan di pintu mengusik mereka yang tengah menikmati olah raga di siang bolong. Peluh bercucuran, rasa nikmat yang tertahan membuat mereka menelan kekecewaan, karena sebentar lagi mereka mencapai puncak. Jika saja ketukan itu tak bertambah kencang.


"Maaf sayang. Aku akan kembali. Tutupi tubuhmu dengan selimut" Aji meraih jaket bomber miliknya di lemari untuk menutupi tubuh atasnya, dan meraih sarung untuk menutupi bagian bawahnya.


ceklek


Aji sedikit membuka pintu


"Pak erte, ibu ibu? ada apa ya?" Aji sedikit terkejut dengan kedatangan rombongan.


"Maaf pak Rakha, apa yang sedang anda dan mbak Dharra lakukan di dalam?"


Yuli memaksa membuka pintu lebar dan hendak merangsek masuk. Namun sebelum masuk, Yuli dikejutkan dengan penampilan Aji yang berkeringat, dada dan roti kotaknya terlihat dari balik jaket yang tidak dikancingkan, lalu tenda yang berdiri itu...


"O mai gaaat..." kawanan kepoers kompak membuka mulutnya terpesona dengan ukuran penopang tenda.

__ADS_1


__ADS_2