
Aji memepet tubuh sintal Dharra ke tembok dan menutup perlahan pintu kamar mandi dengan kakinya.
"Aji.. awas ih aku mau keluar.." wajah Dharra memerah, terbayang sudah apa yang akan terjadi dengan mereka setelah ini. Dia hanya masih malu mengakui kembali menginginkan kegiatan berkeringat di malam hari.
"Keluarkan saja, sayang" ucap Aji. Suaranya serak ditelinga Dharra. Tangannya mulai bergerilya ke lembah candu yang sempit. Nafasnya mulai memburu. Pun dengan Dharra yang tak kuasa menahan gelenyar menggelapkan mata. Lenguhan sialan yang reflek keluar dari mulutnya tak sinkron dengan ucapan yang terlontar.
"Kamu.. kamu katanya mau pipis..ahh.." masih mencoba mengalihkan fokus, namun jari nakal Aji yang sudah menerobos masuk gua menguasai kewarasannya.
"Iyah... aku mau pipis enak... kita belum pernah eksplor kamar mandi bukan? kita coba sekarang aja yahh..." suara berat Aji membuat akal Dharra hilang entah kemana. Dia tak menjawab apapun dengan bibirnya, namun bahasa tubuhnya menjawabnya.
Aji tahu istrinya sudah berada di awan. Diapun tersenyum dan terus membawa istrinya terbang lebih tinggi lagi ke angkasa. Berkendara dengan closet duduk merupakan pengalaman baru bagi Dharra. Dia benar benar melayang dibawa Aji yang sudah mati rasa dengan wanita lain. Hanya Dharra satu satunya yang kini bisa membuat hidupnya lebih hidup.
Dharra berkendara lebih cepat saat dirasa puncak telah menyambutnya dengan taburan bintang bintang membuat Aji merasakan ledakan kembang api di dalam sana dan Aji pun meledakkan kembang apinya.
Dharra terkulai lemas di bahu Aji, sambil mengatur nafasnya. Aji membiarkannya bersandar di bahunya. Jangan sampai ada bahu lain yang menjadi sandarannya. Dia membelai pipi Dharra dan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Aji lalu mencium sayang wajah Dharra yang bisa ia jangkau untuk dicium. Sebagai ungkapan terima kasihnya karena sudah memberinya kenikmatan.
Tak mau segera berakhir, Aji bangkit sambil menggendong Dharra yang masih terengah, dengan posisi pusaka yang masih menancap.
__ADS_1
Dia lantas membawanya keluar kamar mandi menuju kamar tidur. Merebahkan Dharra tanpa mau mencabut pusakanya.
"Aku masih mau pipis enak" seolah tahu pertanyaan apa yang akan terlontar dari bibir seksi istrinya.
Aji kembali membawanya ke awan secara perlahan. Membiarkannya menikmati pemandangan melalui cermin besar dari lemari baju 3 pintu yang keseluruhan pintunya dilapisi cermin. Sehingga mereka bisa menikmati filem biru mereka sendiri tanpa harus men-down load diam diam.
Entah kapan Aji menyiapkan semua ini. Karena kemarin lemari dengan cermin itu belum ada. Namun menonton aksi mereka sendiri memang sesuatu yang lain. Dharra yang tadinya sudah lemas, kini kembali bersemangat. Hidupnya kini lebih berwarna. Persetan dengan para kunti gada ahlak (maap nyomot komen readerš¤) kini Dharra akan mati matian memperjuangkan miliknya. Selama Aji memperjuangkannya juga.
Malam semakin larut. Mereka belum memejamkan mata, masih saling melepaskan rasa sayang dengan saling memeluk setelah menghabiskan filem biru 2 episode.
"Kamu beneran gak marah?" tanya Aji yang ingin memastikan perasaan Dharra.
"Enggak. Cuma kesel" jawab Dharra enteng.
"Apa kamu pernah tidur dengannya?" akhirnya rasa penasarannya terlontar. Karena setau Dharra, Aji selalu membawa wanita berbeda jika ingin melampiaskan hasratnya.
"Diantara semua wanita single yang pernah dekat sama aku, cuma dia yang gak mau aku sentuh" jawab Aji jujurly. Karena tak ada jeda dalam menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kenapa?" lanjut Dharra.
"Aku sudah pernah menjawab kan? Aku gak suka wanita yang sudah mempunyai pasangan, dan aku juga gak suka sama wanita obsesif. Merepotkan"
"Tapi dia gak kalah seksi dari para wanita yang pernah kamu ajak kencan"
"Tapi adik ku gak bereaksi padanya. Gimana dong? Apa lagi sekarang, cuma bereaksi sama kamu aja" Aji mengecup cuping telinga Dharra.
"Udah ya, jangan bahas wanita lain lagi. Kamu gak risih apa sebagai istri? Besok hari yang melelahkan. Mungkin akan jadi hari yang berat buat kamu" titah Aji seraya memejamkan matanya dan terlelap.
"cih... siapa yang bikin aku lelah sekarang coba. Eeeh.. dia malah bobo duluan" Dharra membalikan tubuhnya dan memandangi wajah tampan mantan kekasihnya.
"Terimakasih karena menjaga hatimu untukku"
cup
Dharra mengecup bibir seksi nan tebal milik Aji dan membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami
__ADS_1