
Pagi pagi sekali Aji sudah bersiap di lobby untuk menyambut kedatangan Pak Indra, ditemani sang Istri dan 2 orang security .
Tampak Pak Indra datang dengan mobil Mercedes nya. Lalu turun dengan sedikit merapikan penampilannya.
Saat dia melangkah memasuki lobby kantor dia terheran dengan keberadaan sang CEO, COO, dan 2 orang security.
"Wah wah.. pagi pagi sekali anda sudah tiba di kantor. Ah iya saya lupa. Anda kan memang tinggal di gedung ini. Baiklah saya tidak akan mengganggu anda pak-"
"Mau kemana anda, Pak Indra yang terhormat?" Aji bertanya dengan menekan kalimat terakhir.
"Tentu saja ke- hei.. kenapa barang barangku ada disini? siapa yang lancang-"
"Pak Indra, ini untuk anda" tanpa menjawab pertanyaannya, Aji menyodorkan amplop putih yang segera dibuka Indra saat itu juga.
"Apa? Dipecat? tapi-"
"Mari Pak, kami antar keluar" satu orang security menggiring Indra keluar dan satu orang lagi membantu membawakan barang barang nya.
"Heh, dasar cengeng. Baru segitu saja sudah mengadu. Seharusnya aku memberimu pelajaran lebih dari itu. Lihat saja nanti" teriak Indra dengan berapi api. Namun ancamannya itu lalu direkam dan Indra didekati tim investigasi.
"Ucapan anda ini merupakan ancaman. Berdasarkan kejadian dan bukti yang kami dapat, anda kami tahan karena telah melakukan sabotase dan mengancam nyawa orang lain. Silahkan ikut kami. Anda bisa menghubungi pengacara anda nanti"
Raul yang duduk dibalik majalah yang dibaca diam diam merekam lalu menyergap Indra ditempat.
Ancamannya tadi merupakan pernyataannya jika memanglah benar bahwa dia yang melakukan sabotase.
Indra seketika panik dan meronta dari cengkraman petugas yang Raul bawa serta.
"Baiklah, tugas saya selesai. Kami akan menghubungi anda untuk bersaksi di pengadilan. Selamat beraktifitas kembali"
Raul menyalami keduanya bergantian.
Aji dan Dharra merasa lega. Kejadian berturut turut itu akhirnya selesai satu per satu.
Aji bahkan telah sembuh dari traumanya.
Mereka kembali ke ruangan kerja. Karena masa cuti Dharra telah habis, kini Dharra kembali bekerja mendampingi Aji sang CEO sekaligus suami.
Betapa senang Aji karena hari harinya kini bisa terus bersama sang istri.
__ADS_1
Bintang yang diantar jemput oleh bi Asih, dan baby El yang di asuh oleh mbok Iyem, membuat mereka tenang bekerja.
Oma memberikan mbok Iyem yang selama ini mendampinginya untuk membantu Dharra dalam mengurus cicitnya.
Oma kini bisa dengan tenang merawat kebunnya ditemani sang ajudan yang Dharra perintahkan untuk menemani hari hari Oma.
Bukannya Dharra tak tahu jika mereka masing masing menyimpan rasa.
Karena gengsi lah yang menahan mereka bersatu bertahun tahun lamanya. Hingga kini Dharra memberikan kesempatan itu untuk mereka.
Setidaknya dimasa tuanya, oma ada yang menemani dalam suka maupun duka.
Oma yang protes dengan keputusan Dharra awalnya, kini terlihat lebih ceria.
"Ciee oma malu malu" ejek Dharra saat itu kala oma protes padanya.
"Jadi kan oma bisa punya mobil goyang. Gak usah ngintipin cucu nya mulu"
"Dasar mantu somplak. Saya coret kamu-"
"Gak takuut, wlee.. coret aja Dharra dari ahli waris oma. Jadi Dharra bebass nyari duda ganteng lain" goda Dharra yang membuat Oma bungkam.
*******
"Sayang, aku gendutan ya?" Dharra merasa blouse nya mengetat. Ditambah dia tak memakai torso. Jadi blouse itu terasa sesak. Belum lagi rok span nya yang sedikit sulit dikancingkan. Tak ada pilihan lain karena celana bahannya bahkan tak muat lagi.
"Engga gendut kok. Cuma lebih seksi" tangan nakalnya bertengger di gundukan pembuat khilaf.
"Bilang aja iya" Dharra merajuk karena secara tak langsung Aji membenarkan pernyataannya.
"Kamu justru terlihat lebih cantik. Bagiku, kamu adalah kamu. Aku gak peduli kalo kamu segede gajah sekalipun"
"Aji... tadi bilangnya seksi, cantik, kenapa sekarang bilang segede gajah? bener kan aku gendut banget" Dharra benar benar merajuk sambil memajukan bibirnya didepan cermin.
Aji tergelak lalu memutar tubuh Dharra sehingga berhadapan dengannya.
"Iya, kamu gajah. Gajah tunggang yang asik aku tunggangi setiap waktu. Dan gak ada gajah seksi kayak kamu yang bikin aku tergila gila" Aji ******* habis bibirnya.
"Lipstik aku belepotan kan?" Dharra menghapus jejak lipstiknya di bibir Aji.
__ADS_1
"Terus baju baju aku gimana?" Dharra masih memonyongkan bibirnya.
"Kita beli lagi aja. Sekalian ****** aku juga udah sempit. Keknya aku juga gendutan" Aji mengusap perutnya yang tak lagi kotak kotak.
"Iya kamu udah kek om om cabul" goda Dharra meremat pusakanya.
"Bisa ga jadi shoping nih" ancam Aji.
"ehehe.. harus jadi dong sayang. Iya maaf ya nak, mami gak lagi deh isengin kamu lagi" Dharra berbicara kearah pusaka Aji sembari mengusap nya.
"Sayang" Aji merajuk karena Dharra terus menggodanya. Dharra tergelak karena bisa membalas godaan suaminya yang menyebutnya gajah tunggang.
Sepulang kerja, mereka berangkat ke Mall untuk membeli beberapa keperluan selain pakaian Dharra.
Dharra sibuk mencari model dan ukuran baju kerja, lalu dia berniat membeli piyama juga yang sudah terasa sesak.
Aji pun memilih ****** di rak yang lain.
"Rakha?"
Aji melirik pada panggilan seorang wanita.
"Ya ampun bener ini kamu? apa kabar? duuuh masih cakep aja meskipun sedikit berisi"
"Kamu siapa?" tanya Aji dingin saat wanita itu dengan akrabnya hendak mencium pipi kirinya dan Aji mengelak.
"Ih, kamu masa lupa sama aku? Aku Luna, Rakha. Kita kan satu geng waktu SMA. Iiii kangen deeh..." wanita bernama Luna itu memeluk leher Aji sambil melompat.
"Luna? kamu Luna? waaah pangling saya" Aji mencoba melepas rangkulannya. Dia tak mau dipergoki istri- terlambat. Istrinya sudah memergokinya sedari tadi. Dharra sedang melipat kedua tangannya di dada sembari menyorotnya tajam.
Wanita yang bernama Luna itu mengikuti arah pandang Aji yang tengah dirangkulnya.
"Kamu.. bukannya kamu itu.. Dharra si cupu?" Luna tertawa melihat penampakan Dharra yang sedari dulu selalu menjadi bahan ejekan gengnya. Terutama Aji yang pada saat itu selalu ingin mendapat perhatiannya.
"Rakha liat deh, gak nyangka ya kita bisa kebetulan ketemu disini. Kamu apa kabar Dharra? waah sekarang jadi subur ya, kalo dulu kan cungkring ya kan Rakha? tapi cantikan sih" Dharra hanya membalas dengan menampilkan senyum dipaksakan. Lalu kembali menyorot Aji tajam. Membuat Aji berkeringat hebat.
"Kamu kesini belanja apa?" tanya Luna sembari menilik pakaian yang masih ada gantungannya tersampir di lengan Dharra.
"Aah, pakaian kerja. Kamu, Rakha belanja apa?" Luna dengan ke kepoannya bertanya pada mereka bergantian.
__ADS_1
"Daleman? hihi.. harusnya istrinya yang belanjain beginian. Kamu pasti belum nikah. Sini aku pilihin. Kali aja bisa jadi bahan pertimbangan sebagai calon istri" celotehnya tanpa melihat raut muka Aji maupun Dharra yang matanya semakin melotot.