
Aji dan Dharra beristirahat di hotel bintang lima. Tak ada sepatah katapun terucap dari keduanya. Hanya saling berpelukan di sofa panjang berwarna putih yang menghadap ke jendela. Menatap lampu lampu di luar sana yang berwarna warni melambangkan berbagai warna kehidupan.
Dharra berbaring di dada bidang Aji sambil memeluk sebelah lengan Aji yang setengah berbaring. Menghidu wangi rambut Dharra dan sesekali mengecupnya.
"Kalau saja... saat itu kehidupanku tak menyedihkan, apa kita akan seperti saat ini?" tanya Dharra akhirnya membuka suara. Lalu kepalanya mendongak agar bisa melihat ekspresi sang suami. Yang dibalas Aji dengan tatapan lembut sembari menyingkirkan helaian rambut di dahi sang istri.
"Kita akan tetap seperti ini, sayang. Karena Tuhan selalu mempunyai cara untuk mempersatukan dua insan yang memang diharuskan bersatu. Sama seperti aku yang berandai andai jika kejadian dulu tak pernah terjadi. Apakah kita akan bersatu? Semua sudah dalam genggaman Tuhan, sayang. Kita hanya bisa mengikuti alurnya. Tapi kita juga bisa merubah takdir yang telah ditentukan-Nya. Hanya dengan meminta dengan bersungguh sungguh pada-Nya"
Dharra menatapnya lekat. Mengangkat tangan kanannya untuk meraih pipi yang ditumbuhi rambut halus. Mengusapnya penuh makna, lalu berkata "tumben bijak"
Aji mengangkat sebelah alisnya "ini anak minta dikasih pelajaran ya. heh.. sini.. pak guru ajarin cara bercocok tanam yang baik dan benar..." Aji gemas dan merubah posisinya menjadi mengungkung Dharra sambil menghujaninya kecupan di wajah dan tubuhnya. Membuat Dharra tergelak kegelian "Ampun pak tua"
"Pak tua katamu? biar kau rasakan kemurkaan pak tua ini"
Dharra tak bisa berhenti tertawa karena gelitikan Aji yang diselingi kecupan nakal di bagian sensitif Dharra. Dan kemudian menghentak pakaian Dharra hingga kancing bertebaran. Dan pergulatan karena amukan si pak tua yang membuat Dharra ampun ampunan pun terjadi.
Aji benar benar menghukumnya sebanyak 3 kali. Membuat Dharra terkapar lemas.
Aji mendekapnya erat dari belakang, dibalik selimut tipis. Mengecup pundak polos sang istri yang sudah memejamkan mata karena kelelahan.
"Sayang... " bisik Aji memanggil sang empunya tubuh semok.
"hmm..." jawab Dharra lirih karena kehabisan tenaga.
__ADS_1
"Pak tua masih belum selesai ngasih hukuman" ucapnya serak, bibirnya menyusuri pundak dan punggung polos sang istri.
"Ampun pak guru. Neng udah ngerti kok. Sekarang bapak istirahat ya. Nanti kalo encok kan gak bisa hukum eneng lagi" jawab Dharra dengan suara serak nan lirih. Sejurus kemudian, Dharra benar benar terlelap. Aji tersenyum puas karena sudah memberi pelajaran berharga bagi murid nakalnya. Akhirnya, diapun ikut terlelap. Mempersiapkan tenaganya untuk hari esok yang belum tentu sesuai harapan dan rencananya.
Pagi menyongsong, Dharra dan Aji telah bersiap dengan stelan semi formal mereka. Menikmati sarapan yang di pesan kepada pihak hotel. Tentu saja dengan mode romantis yang berupa sup krim asparagus yang masih mengepul, disertai roti isi daging juga segelas susu dengan selipan strawbery yang menancap di bibir gelas yang membuat Dharra mengulum senyum. Semburat merah di wajahnya tak bisa ia sembunyikan. Baru kali ini dia mendapat perlakuan manis seperti ini.
"Ternyata enak juga ya nikah sama mantan player. Paling tau cara baperin perempuan" komentar Dharra sukses membuat Aji mendecak kesal.
"Jangan ingetin sama kelakuan bejat aku bisa ga?" Aji dengan tega memotong kasar roti isi yang ada di piringnya.
"Uuutututu ulu uluuu... pak tua ku merajuuk" Dharra menjewer gemas pipi Aji sambil memanyunkan bibirnya.
"Jangan suka merajuk. Nanti eneng digondol kucing garong"
"Eh.. eng.. engga.. ampun pak. Aku diem" Dharra melakukan gerakan menutup mulutnya seperti menutup seleting yang terpasang di mulutnya.
Aji mengangkat sebelah bibirnya "good girl"
Acara ulang tahun perusahaan sekaligus pemberian penghargaan kinerja dilakukan di ballroom hotel yang mereka tempati. Hal itu Aji yang atur agar Dharra tidak terlalu lelah dalam masa kehamilannya yang masih terbilang masih rentan. Apalagi setelah kemarin melakukan perjalanan jauh dan kejadian yang menguras tenaga dan pikirannya.
Saat memasuki ruangan ballroom hotel, tangan Dharra tak pernah lepas dari mengapit lengan berotot milik suaminya. Pasalnya, saat mereka baru memasuki lift dari kamarnya ke bawah, para kutu kupret selalu melirik nya dan menggodanya dengan bahasa tubuh mereka. Aji tentu saja tak bergeming, karena dia sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Namun tidak dengan Dharra. Dia terbiasa dengan kesendirian yang haqiqi. Dimana tak pernah gatal untuk menggoda laki laki se tampan atau se gagah apapun. Dharra bahkan merasa jijik dengan para wanita yang menggelayut manja meski pada pasangannya sendiri jika di tempat umum.
Dan sekarang, dia sedang memperingatkan Aji agar tak macam macam, dalam artian menanggapi godaan dan rayuan iblis dengan cara mencubit tipis kulit lengannya. Aji hanya bisa mengulum bibirnya menahan rasa panas pada lengannya.
__ADS_1
"Semut kecil. Awas ya nanti aku hukum lagi" batinnya.
"Ibu Dharra, selamat datang. Anda sudah ditunggu panitia. Silahkan lewat sini" seorang resepsionis mempersilahkan Dharra untuk mengikutinya ke arah ruangan yang berada di belakang panggung.
"Maaf,mas nya silahkan mencari meja yang telah disediakan atas nama ibu Dharra" resepsionis itu menahan Aji agar tidak mengikuti mereka, dan menyuruhnya agar menunggu di kursi khusus yang sudah disiapkan untuk Dharra.
"Gak apa apa, Mba. Dia ikut saya, atau saya pulang lagi" Dharra mendapat firasat buruk kala hendak dipisahkan. Jadi dia membuat keputusan yang Aji sendiri bahkan tak terfikirkan. Dia memang kecewa harus berpisah dengan Dharra di tempat asing itu yang bukan dunianya. Seharusnya dia yang mengatur sebuah acara, tapi sekarang dia diatur orang lain. Sungguh t e r l a l u.
Dharra lantas melipat kedua tangannya di depan dada menunggu keputusan sang resepsionis yang baru Dharra ketahui bernama Ajeng, melalui name tag di stelan blazer pas body yang sedikit menonjolkan yang seharusnya tidak ditonjolkan. Cih, baru segede gitu aja sombong. Batin Dharra.
"Tapi, bu.."
"Ajeng, mana- loh, bu Dharra kok ditahan disini sih? bukannya disuruh cepet masuk. Acara mau mulai loh. Ayo bu, ibu sudah ditunggu yang lain-" ucapan panitia dengan seragam yang sama mengenali Dharra melalui foto yang terpajang berjejer diantara foto foto para penerima penghargaan dari cabang kota lain. Dia menggantung ucapannya kala Dharra memotongnya dengan pernyataan "Saya gak akan kemana mana kalo gak sama suami saya" Dharra berkata tegas. Lalu mengeluarkan sepucuk amplop putih dan memberikannya pada salah satunya.
"Tolong sampaikan surat pengunduran diri saya pada manager HRD. Kamu cari tahulah sendiri.
Dharra lantas menarik tangan Aji untuk keluar dari area ballroom. Entahlah, firasatnya buruk jika berlama lama berada disana.
HARAP MAKLUM YA MAN TEMAN KALO UP NYA GAK MENENTU.
SELAIN NUNGGU MOOD YANG BAGUS, JUGA NUNGGU WANGSIT YANG DATENGNYA JUGA GAK MENENTU🤭
JEMPOLIN SAMA KOPI IN DULU BIAR OTAK OTHOR FRESH😉
__ADS_1