My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Junaidi vs Justin


__ADS_3

Siap siap karya baru beibz😗



Cek waktu terbit yak😉


Aji berkeringat hebat, dan itu disadari Dharra dan Oma. Juga Justin yang baru masuk ke ruangan.


"Selamat pagi semua. Kenalkan, nama saya Junaidi Kartiwa. Santai saja dengan saya. Anda bisa memanggil saya Justin"


Ppfft...


Dharra tak kuasa menahan tawa saat mendengar nama asli dan nama panggilan yang tidak ada kaitannya sama sekali.


"Apa ada yang lucu?" perhatian Justin teralihkan oleh kikikan Dharra.


"Oh maaf.. maaf.. saya hanya bersikap santai, seperti yang anda sarankan. Silahkan lanjutkan perkenalannya" Dharra masih dengan tawanya yang tertahan yang kemudian bibirnya ia lipat dalam dalam.


Oma yang memperhatikan hanya tersenyum.


Sedangkan Aji yang tadi tegang, sedikit relax dengan tingkah Dharra karena perhatiannya terfokus pada tingkah menggemaskan istrinya.


"Baiklah saya lanjutkan. Seperti yang terlampir dalam portofolio saya. Saya mempunyai 2 gelar magister, dan saya pernah menjabat selama 15 tahun sebagai Manajer Keuangan di sebuah perusahaan bonafit di kota D. Dan kemudian menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan yang sama selama 15 tahun. Dan kini perkenankan saya untuk bergabung di perusahaan ini sebagai Direktur Operasional"


Dharra dan Aji saling melirik. Kemudian serempak melihat ke arah oma yang hanya mengedikkan bahunya.


"Baiklah, sekian perkenalan dari saya. Saya harap bisa bekerja bersama anda semua-"


"Tunggu" potong Dharra.


"Kalau boleh saya tahu. Siapa yang membuka posisi yang tadi anda sebutkan? setahu saya posisi itu sedang tidak mencari pengganti. Meskipun iya, saya sebagai pemegang jabatan itu tidak merasa melakukan kesalahan sehingga saya pantas untuk diganti. Dan diantara anda sekalian, apakah sudah membuat keputusan tanpa saya ketahui? ataukah anda sudah mendapat acc dari Direktur Utama, yaitu Oma Sekar?"


"Heh..begini nona-"


"Nyonya"

__ADS_1


"Ah.. maaf, Nyonya. Perlu anda ketahui kalau saya adalah keponakan dari ipar Oma Sekar. Jadi tentu saja saya juga mempunyai hak untuk andil dalam perusahaan, bukan?"


"Ah.. begitu. Hanya mengandalkan hubungan kerabat. Saya pikir posisi anda sudah sangat luar biasa di perusahaan sebelumnya. Dan perusahaan itu merupakan perusahaan yang lebih besar dari perusahaan ini.


Apa tujuan anda sebenarnya?"


Dharra tak mau berbasa basi lagi.


"Hahaha... apa anda merasa terancam saya akan merebut posisi anda?"


"Jangan bercanda. Jika saya bisa digantikan, dengan senang hati akan saya serahkan posisi saya. Dengan catatan, oma Sekar yang memutuskan. Tapi sayangnya, jika oma memutuskannya dalam waktu dekat ini, tanpa ada kesalahan fatal yang saya perbuat. Keputusan itu tidaklah valid. Karena oma pastilah sedang dalam keadaan terancam. Saya bukan orang yang gila harta maupun jabatan. Yang saya pegang saat ini adalah amanat.


Tapi.... apa disini ada yang berharap saya mundur?" Dharra menatap jajaran direksi yang seketika saling berpandangan. Lalu serempak menggelengkan kepala. Tapi hanya satu orang yang terlihat menundukkan kepalanya.


Ya, dia adalah pak Indra, sang Direktur Keuangan. Orang yang merekomendasikan Justin untuk menggantikannya.


"Dilihat dari portofolio anda. Bagai mana jika anda kembali menjabat sebagai direktur keuangan menggantikan pak Indra. Jadi pengalaman anda selama 30 tahun tidak melenceng, bukan?"


Sontak para anggota direksi saling menggumamkan keberatan. Terutama pak Indra. Oma dan Aji hanya tersenyum miring.


"Lalu dengan pengalaman seperti ini, posisi apa yang cocok untuknya? Apa Direktur pemasaran?"


Sang direktur pemasaran menggeleng.


"Atau Direktur Personalia?"


"Direktur Keuangan saja lebih cocok" teriak sang Direktur Personalia dengan kesal.


"Maaf bu Dharra. Sebenarnya kenapa kita harus membahas ini? Setahu saya perusahaan baik baik saja, dan justru keuntungan semakin meningkat. Kenapa harus menyingkirkan yang menjabat saat ini? kalau tuan ini memanglah masih kerabat Nyonya Sekar, tempatkanlah di posisi yang sedang tak dijabat siapapun" sergah anggota lain yang tak mau posisinya terancam.


"Saya juga berfikir seperti itu. Coba saya minta posisi yang sedang kosong di perusahaan" Aji akhirnya bersuara dan meminta daftar posisi jabatan kosong pada sekertaris direktur personalia.


"Hmm... ada yang kosong. Tapi... jika anda bersikeras bergabung diperusahaan ini, ya keputusan ada pada anda" Aji melempar daftar ke hadapan Justin.


"Senior Sales? apa anda bercanda?"

__ADS_1


"Itu yang ada. Tentunya dengan pengalaman minimal 5 tahun. Apa anda mempunyai pengalaman di bidang sales?"


Justin terlihat mengetatkan rahangnya.


"Atau begini saja. Silahkan anda berdiskusi dengan pak Indra. Siapa yang pantas menjadi Direktur Keuangan, dan siapa yang menjadi wakilnya"


"Tidak mungkin" Justin dan pak Indra serempak mengajukan keberatan.


Aji hanya menampilkan senyum tipis sembari mengedikkan bahu.


"Satu hal lagi, tuan tuan sekalian. Jika saya tidak salah, maaf hanya mengulang isi peraturan perusahaan. Bahwasanya orang yang bergabung dengan perusahaan sedang tidak mempunyai masalah ataupun sedang dalam proses pengadilan hukum. Dan menurut informasi yang saya baru dapat melalui pesan pendek, anda sedang dalam daftar pencarian orang dari kepolisian"


jeglek


Beberapa pria berseragam polisi dan beberapa berpakaian bebas, masuk ke ruang rapat setelah mendapat aba aba dari sang sekertaris andalan. Mario.


Mario sudah oma beri perintah agar diam diam menghubungi kepolisian yang sempat di sogok oleh Justin akan keberadaannya. Sehingga dia bisa bebas berjalan jalan di kota ini.


Oma memang membiarkannya sembari terus memantau siapa orang dalam di kepolisian yang berkhianat.


Tentu saja sambil mengumpulkan bukti keterlibatannya dalam kejahatan lain.


Sontak para anggota dewan terkejut. Terutama pak Indra yang awalnya menganggap jika Justin adalah jalan keluarnya terbebas dari kepemimpinan wanita.


"Pak Indra" panggil oma.


"I-iya nyonya Sekar?"


"Apa anda ingin menemaninya" oma menawarkan pak Indra apakah dia mau menemani Justin ke hotel prodeo.


"Ti-tidak, nyonya. sa-saya disini saja" jawab pak Indra terbata. Wajahnya memerah antara malu dan kesal.


Justin akhirnya digiring petugas keluar ruangan. Namun sebelum sampai di pintu, oma menghentikan mereka.


"Tunggu. Satu hal lagi. Mumpung kalian semua berkumpul. Jika sesuatu terjadi pada saya, ataupun Dharra. Maka perusahaan ini pasti hancur. Karena saya sudah menulis wasiat yang sudah saya tanda tangani di depan notaris, bahwa jika terjadi hal yang tak wajar pada kami, maka semua asset saya sumbangkan pada yayasan anak dunia. Kalian tahu jika pemegang kunci asset perusahaan dan asset pribadi saya adalah Dharra. Jadi, siapapun yang mencoba merebut kepemimpinan perusahaan. Sudah dipastikan dia tak akan mendapatkan apapun.

__ADS_1


__ADS_2