My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Pertahanan Runtuh


__ADS_3

Dharra terus mendumel tanpa memperdulikan Aji yang tengah berperang dengan dirinya sendiri. Dharra lantas melajukan mobilnya ke apartemen kecil yang disewanya selama kurun waktu yang tak bisa ditentukan.


Dharra naik ke lantai 9 tempat unitnya berada.


Mereka tak saling berbicara satu sama lain. Terutama Aji yang tengah berjuang menahan sesuatu yang bergejolak dibawah sana.


Dharra membuka pintu unitnya dan langsung masuk ke kamar. Sedangkan Aji hanya duduk terdiam di sofa ruang tengah. Dia menelisik dan memindai seluruh ruangan yang cukup mungil bagi seseorang yang masih single.


Single?


Kata itu berputar dikepalanya. Tak mungkin yang sudah menikah dan akan mempunyai anak tinggal di tempat sekecil ini. Apa lagi bagi orang yang mengendarai Maybach.


Sebenarnya apa pekerjaan suami Dharra? apa seorang supir? ya, pastinya begitu. Batin Aji bergumul kala Dharra menaruh selimut dan bantal di sofa, di sebelah Aji tepatnya.


"Ah iya. Terima kasih. Maaf merepotkan. Aku janji sebelum suamimu bangun, aku sudah pergi dari sini" ucap Aji dengan sopannya, membuat Dharra mengernyitkan dahi. Kemana larinya sikap arogan dan songong itu?


"Terserah kau saja" Dharra lantas masuk ke kamar dan menutup pintunya. Dia lelah. Tak lupa memberi pesan pada Aji yang masih termenung untuk mematikan lampu.


Lewat tengah malam, Dharra terbiasa bangun untuk minum. Dia keluar kamar dan berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil minum. Segelas air dingin sepertinya menyegarkan. Tapi kemudian dia memilih air hangat demi calon bayinya.


Aji yang tak bisa tidur dan hanya membolak balikan tubuhnya di sofa melihat Dharra yang keluar dari kamar.


Pemandangan yang dilihatnya membuatnya tambah tersiksa.


Bagaimana tidak. Dharra mengenakan pakaian tidur berbahan satin berwarna peach dengan model rok diatas lutut dan jubah tidur yang warnanya senada tak diikat itu melambai lambai karena gerakannya. Karena perut Dharra yang besar rok diatas lutut itu terangkat semakin tinggi dan setengah pahanya terekspose.


Aji menggigit kukunya habis karena gusar. Hasratnya sudah diubun ubun namun dia tak boleh sembarangan menyentuh milik orang lain.


Saat Dharra menghilang dibalik tembok dapur, Aji segera berlari menuju kamar mandi yang letaknya disebelah dapur.


Tak ada cara lain selain solo.


Dharra merasa segar setelah minum. Dan kebiasaannya setelah diisi, dia keluarkan. Dharra masuk ke kamar mandi di sebelah dapur, membuka kain segi tiganya lalu duduk dan membuang apa yang harus dibuang.


Dharra sedikit terkejut kala mendapati Aji sedang memepet pojokan kamar mandi memunggunginya melindungi asetnya agar tak terlihat Dharra. Namun kepalanya memutar dan melirik kearah Dharra.


Sungguh momen yang membagongkan. Susah payah dia bersolo karir, saat Dharra masuk reaksinya bertambah tergugah. Rasa yang sudah diujung itu langsung melesat dan membludak. Aji mengerang kala tembakan itu lepas. Menembak tembok yang dia kungkung. Tubuhnya mengejang dan bergetar. Akhirnya keluar juga.


"Sudah selesai?" tanya lembut Dharra namun dingin.

__ADS_1


"Hah? ah su sudah. He.. hei kenapa kamu masuk?" tanya Aji kemudian yang langsung membalikan badannya.


"Sebaiknya kamu segera mencucinya" Dharra tersenyum kala melihat penampakan rudal kesayangannya. Uh dia benar benar rindu dengan rudal itu.


Aji langsung gelagapan dan kembali berbalik. Dharra menarik naik segi tiganya, memencet tombol flush pada toilet lalu keluar dari kamar mandi dengan entengnya.


"Seorang Aji diginiin sama cinta pertamanya? heh.. benar benar diluar dugaan" monolog Aji yang langsung mencuci batangnya yang kembali mengeras karena mengingat Dharra yang tengah menaikan kain segitiganya.


Aji menangis frustasi karena kembali menginginkan pengeluaran namun tak bisa dilakukan sendiri.


Seandainya suaminya tak ada, mungkin dia bisa membujuknya. Toh wanita itu sedang hamil, dan tak mungkin hamil lagi kan jika tidur dengannya. Tak ada kasus menghamili wanita hamil kan. Pikiran licik Aji menguasai. Namun pertahanannya kokoh. Dia tak boleh menyentuh milik orang lain.


Sambil menahan pegal pada batangnya, dia memilih mencoba berbaring dan merelax kan diri.


"Kamu.. kamu belum tidur?" tanya Aji gugup kala mendapati Dharra tengah memakan keripik sambil menonton tv di depan sofa. Dharra duduk di sofa single sambil menyilangkan kakinya.


"Aku gak bisa tidur lagi kalo habis pipis. Harus ngemil dulu" jawabnya menatap tayangan tv yang tak menarik pada jam 2 dini hari itu.


"Apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Tidak. Hanya keripik ini yang kuinginkan. Apa kau tak keberatan jika aku disini sebentar? Di kamar tak ada tv"


Dharra bergeming. Dia melanjutkan memakan keripik hingga menyentuh dasar. Lalu sebelah tangannya memencet tombol remot hingga muncul tayangan drama korea.


Dharra menontonnya hingga matanya terasa berat. Tubuhnya bersandar pada sandaran sofa di sampingnya karena posisi duduknya menyamping.


Aji yang berbaring membelakangi tv tak kunjung bisa memejamkan matanya. Bukan karena terganggu oleh suara kunyahan keripik maupun suara tv. Namun karena sadar berada satu ruang dengan Dharra.


Aji sedikit memutar badannya karena tak mendengar suara selain suara tv. Ternyata tv yang menonton Dharra. Toples keripik itu miring posisinya dan akhirnya terjatuh, namu masih bisa Aji tangkap dengan gerakan sigapnya.


Dilihatnya Dharra sudah terlelap bersandar pada sofa dengan remahan bumbu keripik hampir memenuhi mulut hingga pipi chubbynya.


"Ya ampun, wanita hamil kok ceroboh gini? gak tahu ya kalo ngemil ketiduran tuh bisa ngerusak gigi?"


Aji memastikan posisi Dharra aman dari terjungkal. Dia tak mau menyentuhnya karena takut terpancing melakukan sesuatu yang sangat diidamkannya.


Aji memutuskan untuk membangunkan suami Dharra.


tok

__ADS_1


tok


"ehm.. mas.. permisi mas.. itu.. anu.. istrinya tidur di sofa.. mas.." Aji mencoba membuka handle pintu karena tak kunjung mendapat jawaban dari dalam kamar.


"Lah.. ga ada orang? katanya udah tidur? tidur dimana?" Aji menelisik setiap sudut kamar hingga ke kolong tempat tidur. Berhubung apartemen itu merupakan apartemen kecil jadi tak ada yang namanya kamar mandi di dalam kamar.


Aji benar benar bingung. Dia kembali memikirkan Dharra yang sudah terlelap.


"Apa dibangunkan saja? tapi kesian. Nanti gak bisa tidur lagi"


Aji memutuskan untuk memindahkannya tanpa membangunkannya.


"engh..." Dharra melenguh lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Aji kala Aji mengangkat tubuh bulatnya.


Dharra menyerukkan kepalanya di ceruk leher Aji membuat nafasnya menghembus leher kekarnya.


glekk


Hembusan itu sungguh menyerang pertahanannya. Ditambah dengan kenyataan jika Dharra ternyata sendirian di kamar itu.


Aji membaringkannya perlahan di ranjang empuk. Otaknya terus berperang dengan hasratnya. Ditambah dengan mulutnya yang tak henti merapalkan mantra pengusir otak mesum jahanam. Keringat muncul dipelipisnya. Aji lantas memejamkan mata. Mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya. Dan bertekad untuk tak menuruti hasratnya.


"Sayang aku kangen" Dharra mengigau dengan suara yang parau. Lengannya yang melingkar erat di leher Aji melonggar, namun sebelah tangannya mencengkeram kerah kaos Aji dan sebelah lagi menarik tengkuknya membuat bibir mereka bertemu.


dug


dug


dug


Jantung Aji berpacu.


Pertahanannya runtuh.


Persetan dengan istilah pebinor.


Hajar aja dolooo🤭


TINGGALKAN JEJAAAAAK😆

__ADS_1


__ADS_2