
Dalam ke-buru buru-annya, Dharra menyempatkan memesan sarapan kilat seperti roti isi daging beserta susu ibu hamil dalam kemasan sekali minum. Dia tak mau mengabaikan janinnya demi pekerjaan.
Dharra juga meminta fasilitas antar-jemput agar memudahkannya pergi dan pulang dari kantor. Salah satu syarat yang diajukan Aji, suaminya, untuk menjamin keamanan istrinya selama Aji tak mendampinginya. Karena mobilnya dibawa Aji pulang ke kota M.
Dalam sarapannya, Dharra menyempatkan mengecek ponsel. Tepatnya mengecek chat untuk suami tercinta. Namun kondisinya masih sama. Tanda centang satu itu masih setia, dan tak mau mendua.
"Apa dia sangat kelelahan ya?"
Saat Dharra memutuskan untuk menelpon rumah, telpon dari nomor tak dikenal berdering.
"Halo... iya, saya... oh sudah sampai? di lobby?... baik, tolong tunggu sebentar"
Dharra segera menghabiskan rotinya yang tinggal satu gigit itu. Lalu membawa susu kotak kemasan satu kali minum itu dan menyedotnya di dalam lift.
Saat sudah berada di lobby, seorang laki laki paruh baya terlihat membungkukkan badannya tanda mengenali Dharra.
"Selamat pagi, bu. Silahkan dipelajari selama perjalanan. Maaf, tapi saya dapat perintah dari direktur untuk memberikan berkas agar ibu segera mempelajarinya. Karena pagi ini kita ada meeting internal dadakan"
Sang sopir yang bernama Rudi itu menyodorkan map hitam hard cover yang berisi data data untuk dipelajari. Dimana kesemuanya sudah Dharra pahami dan kuasai selama menjabat di kota M. Hanya perubahan angka yang lebih besar dari diagram batang yang tergambar pada dokumen.
Dharra melupakan untuk menghubungi pihak rumah karena kesibukan di awal hari nya.
Waktu tak terasa berlalu. Matahari mulai turun dari singgasananya. Di sela sela kesibukannya, Dharra selalu menyempatkan mengecek ponselnya. Namun tak ada satupun pesan dari orang tercinta. Sedangkan pesan beruntun dari nomor tak dikenal yang menawarkan pinjaman online menguasai beranda chatnya.
Bahkan chat semalam yang dikirimkannya tetap centang satu.
"Apa hape nya rusak?" Dharra menepuk nepuk ponselnya. Berharap centang satu itu bertambah menjadi dua.
hhhh
"Apa dia sakit? Kenapa belum aktif juga?"
tok
tok
__ADS_1
"Masuk"
"Maaf bu, kata pak Rudi apa ibu mau pulang sekarang?" seorang sekertaris memberi informasi jika sang supir perusahaan yang ditugaskan mengantar-jemput Dharra sudah menunggunya untuk pulang.
"Oh iya. Tolong tunggu 15 menit lagi. Saya bereskan berkas dulu"
"Baik bu"
hhh
Dharra kembali menghela nafas, lalu segera membereskan berkas dan keluar ruangan. Dia tak mau membiarkan karyawan lain menunggunya terlalu lama karena urusan perusahaan ataupun pribadi. Karena tidak ada sistem lembur.
"Maaf menunggu lama pak"
"Tidak apa apa bu. Kebetulan tadi ada yang harus saya beli, pesan dari anak minta dibelikan mainan"
"Oiya? berapa umur anak bapa?"
"Lima tahun, bu. Saya lumayan lama menunggu. Akhirnya setelah penantian 7 tahun, akhirnya istri saya hamil juga"
"Wow.. bapak hebat. Bisa sabar dengan keadaan"
Dharra termenung. Dia jadi teringat dengan suaminya. Air matanya tiba tiba menetes.
"Bu.. bu... ibu gak apa apa?"
"Hah? apa?"
"Kita sudah sampai bu"
"Oh, sudah sampai ya. Maaf saya melamun. Terima kasih ya pak. Ini ada sedikit buat jajan anaknya. Semoga bapak sekeluarga sehat selalu ya" Dharra memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Aduh bu, gak usah repot repot" Rudi mengibaskan kedua tangannya tanda menolak.
"Ambil aja pak. Toh ini rejeki anak bapa. Bukan rejeki bapa. Gawat kalo saya ngasih buat bapa. Bisa digantung sama suami saya bapak nya" Dharra menyeringai sambil menyelipkan lipatan uang itu ke telapak tangan Rudi.
__ADS_1
"Anggap aja hadiah ulang tahun anak bapa nanti kalo saya udah pindah lagi"
"Waduuh... terima kasih banyak ya bu. Semoga ibu dan keluarga ibu selalu dalam lindungan Tuhan. Dan semoga ibu cepat berkumpul lagi sama suami dan keluarga. Gak baik bu lama lama berjauhan sama suami"
"Iya, saya tahu pak. Saya juga gak mau jauh jauh sama suami. Gara gara atasan bapak nih. Kalo bisa bapak aja yang gentiin saya, gimana?" kelakar Dharra menghibur diri.
"Ah ibu, bercanda. Saya gak pinter mikir kayak ibu. Kalo saya pinter mah gak akan jadi sopir bu. Ada ada aja"
Dharra tergelak, lalu turun dari mobil yang dibantu dibukakan pintu oleh Rudi.
Sesampainya di kamar hotel, Dharra langsung membersihkan diri. Setelah itu memesan makanan hotel melalui layanan kamar.
Sambil menunggu, Dharra kembali melihat beranda chatnya. Pesannya kepada Aji masih centang satu. Perasaannya mulai tak karuan. Kekhawatirannya teralihkan karena kesibukannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi rumah oma.
Pada dering ke tiga, seseorang mengangkat panggilannya.
"Halo.. mbok Iyem?"
"Iya non. Ini mbok. Non apa kabar?
"Baik mbok. Tuan masih tidur?"
"Tuan? Bukannya sama non Dharra, ya?"
"Apa? tapi kemarin dia mau pulang dulu. Katanya janji sama Bin- Bintang mana mbok?"
"Lha, non ini gimana toh? non Bintang kan sama nyonya besar pergi nyusul non Dharra. Kemarin sekitar jam 3 sore, nyonya besar dapet sms dari den Rakha. Katanya nyuruh Bintang sama nyonya besar buat nyusulin non Dharra. Katanya non Dharra ngidam ketemu nyonya sama non kecil"
"Mbok, lapor polisi ya. Ceritain semua yang mbok tahu. Bilang sama tangan kanannya oma juga. Ini ada yang gak beres. Saya gak pernah minta oma sama Bintang kesini. Aji juga kemarin berangkat dari sini jam 1 siang buat pulang dulu ke sana buat ketemu Bintang. Setelah itu dia gak bisa dihubungi. Cepet mbok, sekarang ya"
Titah Dharra yang langsung menghubungi pihak kepolisian. Karena Aji sudah menghilang lebih dari 24 jam. Semoga gak 2x24 jam kayak plang yang berdiri tak dianggap di depan komplek perumahannya.
Dharra tak peduli seberapa banyak harus merogoh koceknya untuk bisa menemukan keluarga barunya.
__ADS_1
Makanan datang. Dharra segera menghabiskan makanan yang dia pesan. Kali ini tak sebanyak biasanya. Dia tak mau membuang makanan. Butuh tenaga ekstra untuk menemukan orang orang terkasihnya.
Beberapa hari berlalu. Dharra diberitahu seorang detektif yang ia sewa bahwa mobil yang Aji kendarai terlihat terparkir di sebuah rumah sederhana. Selain itu, menurut tetangga sekitar, rumah itu sudah lama dibeli oleh seorang wanita yang mana terlihat keluar bersama seorang laki laki yang mereka kenal sebagai suaminya. Dan mereka tinggal di rumah itu bersama seorang wanita paruh baya dan seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun.