My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Trauma Masa Lalu


__ADS_3

Waktu berlalu, Aji benar benar memindahkan pekerjaannya ke kantor Dharra. Atas ijin kantor pusat tentunya alasannya tentu saja agar mempermudah dalam mendiskusikan event yang satu bulan lagi akan di gelar.


Tanggal pernikahan mereka telah diputuskan bersama, yaitu setelah event selesai.


brakk


hosh hosh hosh


"Gila ada mahluk kek begituan disini" Aji menutup kasar pintu ruangan Dharra yang orangnya tengah melakukan morbrief. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Traumanya masih belum hilang kala bertemu dengan Marvin yang terus memepetnya di ruangan pantry. Pasalnya dahulu saat dia masih remaja, pernah dilecehkan oleh mahluk yang berjenis kelamin setengah.


"Ya ampun, kenapa aku gak pernah nyadar sama kehadiran tu mahluk? selama ini dia keliatan normal. Kenapa.. kenapa tadi... aaargh... sialan... masa pisang makan pisang? mana aku ga bisa pecat tu orang lagi" Aji berjalan mondar mandir di ruangan itu.


ceklek


Aji waspada dengan orang yang berusaha membuka pintu yang terkunci itu. Bayangan serangan predator anak kala itu memenuhi pikirannya.


tok


tok


"siapa didalam?" suara Dharra mengembalikan kesadarnnya. Aji segera membuka kunci pintu, lalu masuklah Dharra bersama rombongan.

__ADS_1


"Kenapa dikunci? kamu sama siapa? lagi apa?" tanya Dharra sambil berkeliling ruangan. Sedikit takut kebiasaan lamanya kambuh. Sedangkan yang menjadi tersangka terlihat gelagapan, seolah menyembunyikan sesuatu.


Orang yang berdiri di pintu terlihat menyunggingkan senyum menawannya pada Aji. Namun Aji terlihat gelisah.


"Kamu kenapa sih?" Dharra terheran dengan sikap tak biasa calon suaminya. Orang kantor mengetahui kedekatan mereka, namun belum tahu perihal rencana pernikahan mereka.


"Anter aku ke parkiran" pinta Aji yang langsung menggenggam erat tangan Dharra, menariknya keluar dari ruangan.


Saat berpapasan dengan Marvin


"EKHEM"


"Ya ampun, badan keker, ngadepin Marvin aja ketar ketir"


Di parkiran, Aji terlihat sudah mengunci diri di dalam mobil.


tok


tok


Dharra mengetuk kaca jendela mobil. Aji menurunkan kaca itu. Wajahnya pucat, keringat sebesar biji jagung bermunculan di dahi nya. Dharra merasa prihatin dengan kondisinya, pasti ada sesuatu tentang masa lalu nya, pikir Dharra.

__ADS_1


"Kamu ada perlu keluar?" tanya Dharra lembut. Badannya membungkuk, menopangkan kedua lengannya pada pintu mobil yang jendelanya dibuka secara full oleh Aji.


Wajah pucat Aji berubah memerah kala kesadarannya teralihkan oleh pemandangan menggantung dari Dharra.


"Aku.. aku.. mau pindahin kerjaanku lagi ke kantorku" matanya tak pernah terlepas dari bongkahan menggantung yang terlihat penuh memenuhi otak nya kini.


"Boleh. Nanti biar aku suruh Marvin buat bulak balik perusahaanmu kalau ada yang harus didiskusikan"


"Hah? Marvin?" fokusnya teralihkan dan wajahnya kembali memucat kala mendengar nama yang tak boleh disebut.


"Jangan.. j..jangan dia..kamu aja, sekalian makan siang bareng. Tiap hari. Harus. Aku.. aku pergi dulu"


Tanpa aba aba Aji menangkup kedua pipi Dharra dan menciumnya dalam, sedikit **********.


Aji langsung meninggalkan area parkiran dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan setelah lagi lagi mencuri ciuman di parkiran kantor Dharra.


Bukan kantor yang dia tuju, namun tebing tempatnya biasa menenangkan diri.


Bayangan kelam itu muncul kembali setelah bertahun tahun dia memulihkan diri dan melupakan kejadian tragis itu.


Tangannya terus bergetar, nafasnya tak teratur, juga detak jantungnya. Dia juga tak mau menemui psikolog. Terakhir, malah psikolog itu yang hendak melecehkannya. Padahal dia memilih psikolog wanita. Aneh memang. Seorang player, yang biasa bermain wanita, tapi punya rasa takut terhadap wanita tertentu. Terutama wanita jadi jadian dan wanita agresif yang sudah berpasangan.

__ADS_1


__ADS_2