
"Dharra.. sayang.. tunggu.." Aji mengejar Dharra yang kembali ke ruangan kru untuk mengambil tas.
Aji meraih lengan Dharra dan menariknya ke pelukannya. Dia tak mau kehilangannya lagi karena kesalah pahaman. Dia cukup menderita membayangkan dirinya dibenci Dharra.
Dharra meronta, tapi Aji menahannya dalam pelukannya. Membuat para kru dan beberapa pengunjung menonton drama yang mereka perankan.
"Lepas" pinta Dharra datar.
"Gak. Aku gak akan lepasin kamu lagi. Demi apapun, aku gak akan pernah lepasin kamu, sayang" suaranya lirih dan bergetar.
"Lepasin, malu dilihat orang orang. Bersikap profesional lah. Kita selesaikan di rumah" tegas Dharra yang langsung mendorong kuat tubuh Aji hingga terlepas. Lalu beranjak pergi dengan ekspresi dinginnya.
Dengan berat hati Aji melepasnya pergi. Namun rasa sesak memenuhi dadanya.
Dia menyugar rambutnya kasar karena frustasi.
"Cewek sialan. Dia sengaja bikin Dharra salah paham" gerutunya kesal.
Aji sama sekali tak menyentuh makanan yang Dharra bawa untuk mereka makan bersama. Seleranya menghilang jika tak makan dengan ditemani istrinya.
"Gimana malem bisa bobo? Jangan sampe lama lama merajuknya" Aji tak fokus dalam bekerja. Hingga dia menabrak tiang penyangga bangunan saat hendak menuju lobby Mall, karena mobilnya sudah berada di depan lobby.
"Ck... Siapa yang naro tiang disini. Sialan" Aji memaki tiang beton yang tak bersalah, membuatnya diam seribu bahasa. Namun gerutuan Aji terus terdengar hingga memasuki mobilnya sambil mengusap pelipis yang sedikit menonjol karena benturan.
Aji memarkirkan mobil di garasinya. Dengan wajah yang ditekuk, dia lalu masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Yuli yang mengintai sedari tadi merasa sumringah dengan ekspresi Dharra dan Aji yang masuk ke rumahnya masing masing.
"Asiiik... lagi berantem tuh" sumringah Yuli merasa mendapat kesempatan bagus. Dia lantas merapikan diri dan menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya.
Dengan bermodalkan baju tidur berbahan satin se paha dan semangkuk sup iga sapi yang dibumbui dengan cintah, dia menyebrang jalan dan memasuki pekarangan rumah Aji. Dia kembali merapikan rambutnya dan sedikit membuka baju tidur yang mirip kimono di bagian dadanya. Terlihat sedikit berisi memang. Namun tetap kalah montok dari yang Aji miliki pada diri Dharra.
"e khem... permisiii...." seru nya centil sambil mengetuk pintu rumah Aji. Dia sangat yakin jika pasangan itu sedang saling menjauh. Yuli berbalik membelakangi pintu rumah Aji sambil seyum senyum membayangkan apa yang akan mereka lakukan, ralat, apa yang akan ia lakukan untuk menghibur tetangga hot nya.
clek
Pintu dibuka, Yuli lalu berbalik sambil tersenyum manis dan menghempaskan rambutnya yang sengaja digerai agar menambah kesan sekseh seperti di filem india.
"aaaaa...." suaranya tercekat kala melihat yang membuka adalah Dharra dengan tampilan yang lebih seksi darinya.
"Ada perlu apa mbak Yuli?" tanya datar Dharra. Tatapannya lalu menyorot tajam pada penampilan tak biasa seorang tetangga kala bertamu.
"ah.. eh.. anu.. ini..." gelagap Yuli membuat Dharra jengah dan memutar bola matanya.
"Sop buat siapa itu" tanya Dharra langsung kala melihat mangkuk berisi sup iga yang masih mengepulkan asapnya.
"ini.. buat.. pak.. Rakha" lirihnya terbata bata. Ada rasa takut dilaporkan pada pak erte atas aksinya.
"Enggak dicampur obat laknat kan?" sarkas Dharra.
"ah? eng.. enggak koook... ga ada yang begituan-"
__ADS_1
"Tapi ga papa deng. Biar tambah kuat. Makasih ya mbak Yuli. Perhatian benget deh sama saya" Dharra memotong perkataan Yuli lalu mengambil mangkuk yang di pegang Yuli. Dan segera masuk lalu menutup pintu dengan kasar menggunakan kakinya.
brakk
Yuli mengepalkan kedua tangannya menahasn kesal. Dia gagal lagi menjerat tetangga hot nya.
clek
Pintu itu tiba tiba terbuka lagi membuat Yuli terkejut.
Dharra kembali muncul dan memberikan mangkuk yang sudah kosong itu.
"Mumpung masih ada disini. Nih, aku balikin. Makasih yaaa"
"Dharraaaa..... kamu..kamu.. nyebeliiiin..." geram Yuli yang langsung berbalik dan pulang ke kandangnya.
Sedangkan di dalam rumah, Dharra melanjutkan kegiatan masaknya sambil menutup rapat mulutnya. Dan sop yang tadi Yuli bawa, sudah terongok di wastafel.
"cih.. dipikir aku gak bisa bikin kek begituan?" gerutunya dalam hati sambil me-lap meja makan agar terhindar dari kotoran debu dan sebagainya saat mereka makan.
Pada penasaran sama keberadaan dan kondisi Aji gak nih?
Like n komen dulu
Tambah vote plus hadiah biar semangat up nya nih🤭
__ADS_1