My Ex- Is My Neighbour

My Ex- Is My Neighbour
Sidang


__ADS_3

Menjelang sore, sebelum waktunya pulang kantor. Aji dan Dharra mengumpulkan semua kru ruang kontrol dan security. Tak lupa mengadakan siaran investigasi secara live bersama oma dan para pemegang saham yang lain juga Raul yang sudah resmi tergabung dalam tim penyidik di kepolisian.


Rumor mengenai insiden terjebak didalam lift sudah tersebar dikalangan petinggi. Dan itu tak pernah terjadi sebelumnya.


"Ada yang ingin disampaikan?" tanya Aji sembari melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Dharra berdiri dibelakangnya dan menyorot kelima tersangka plus 3 orang security sebagai saksi.


Kelima tersangka bungkam dan saling melirik satu sama lain.


Aji melempar 5 name tag yang masing masing tercantum nama 5 orang kru keatas meja.


"Jika kalian membuka suara, kalian bisa mengambil kembali pekerjaan kalian"


"Kami sebenarnya tidak tahu maksud pak Indra. Beliau hanya bersikap baik pada kami. Beliau bilang jika beliau sedang senang, untuk itulah beliau membelikan kami makanan mahal sebagai bentuk perayaannya" ucap salah seorang dari mereka.


"Maafkan kelalaian kami. Karena selama ini tak pernah ada masalah apapun, jadi kami lalai dan mengabaikan pekerjaan kami. Kami benar benar tidak menyangka hal itu terjadi pada anda" satu orang lagi berbicara dan meminta maaf.


"Saya juga minta maaf, karena tidak melaporkan apa yang saya lihat sebelumnya" semua orang menyorot pada orang yang berperawakan lebih pendek dibanding rekannya yang lain.


"Saya sempat melihat pak Indra masuk ke ruang kontrol dan ke lubang teknis dimana jika ada masalah teknis pada lift. Saya ingin bertanya padanya namun saat itu bertepatan dengan kabar bahwa istri saya sudah melahirkan di kampung sana. Dan saya melupakan itu. Maaf.."


"Begitu ya. Ada lagi yang ingin disampaikan?" Aji bersikap dingin menanggapi penuturan mereka.


"To-tolong jangan pecat kami tuan. Mencari pekerjaan sangat sulit sekarang ini. Kami harus menafkahi keluarga kami"


"Benar tuan. Tak ada satu pun dari kami yang berniat buruk pada perusahaan yang sudah baik terhadap kami"


Dharra memegang pundak Aji dengan lembut. Aji memahami kode yang diberikan istrinya.


"Ambil kembali name tag kalian. Saya harap tidak ada yang selanjutnya. Karena ini menyangkut nyawa"

__ADS_1


"Terima kasih tuan, terima kasih nyonya" ucap mereka bersamaan. Euphoria para kru membuat situasi menjadi haru.


Setelah mereka keluar ruangan sidang dengan wajah sumringah, Aji memberi perintah pada security.


"Bereskan barang barang pak Indra yang ada di ruangannya. Lalu taruh di tengah lobby"


Para security mengerti dengan perintah atasannya yang merupakan pemecatan secara tidak hormat pada pak Indra.


Salah satu direktur yang bersikap baik pada karyawan, namun ada maksud tersembunyi dibalik kebaikannya.


Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan.


"Bagaimana para dewan?" tanya Aji pada para pemegang saham.


"Tak kusangka pak Indra bisa bertindak sejauh itu"


"Dalamnya lautan bisa diukur. Tapi dalamnya hati manusia, tidak ada yang tahu. Hanya orang yang berfikiran dangkal yang sanggup berbuat serendah itu"


"Tapi pak Rakha. Pendapat pribadi saya, apa tak berlebihan menempatkan tempat pribadi anda di gedung ini? apa itu akan tampak tidak profesional?"


"Ketidak profesionalan itulah yang menyelamatkan nyawa saya, bukan? coba anda bayangkan jika saat itu istri saya tidak melihat layar cctv. Atau dia berada jauh dari kantor. Mungkin saat ini anda sekalian sedang melayat jenazah saya"


Ungkapan Aji membungkam para anggota dewan.


Dharra sekali lagi menepuk pundak Aji dengan lembut. Menenangkannya.


"Lalu apa saran anda sekalian mengenai pak Indra?" Aji lanjut bertanya.


"Saya rasa untuk saat ini biar pak Indra merenungi kesalahannya. Toh dia sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Tidak usah melibatkan kepolisian dahulu"

__ADS_1


"Saya setuju. Pemecatan seharusnya menjadi cambuk baginya. Namun untuk berjaga jaga, silahkan pihak kepolisian mengawasinya jika saja dia melakukan tindakan lanjutan"


Para pemegang saham berdiskusi tentang sanksi yang mereka berikan untuk mantan Direktur Keuangan perusahaan.


Hingga mereka sepakat untuk tak membawa kasus sabotase yang dilakukan Indra ke ranah hukum.


Hari mulai gelap saat mereka selesai diskusi. Untunglah Bintang ada yang mengantar-jemput sekolah nya. Bintang benar benar anak yang pintar dan pengertian. Dia tak banyak protes jika Dharra maupun Aji sibuk dengan pekerjaan mereka. Yang terpenting baginya adalah mereka selalu bersama.


Dharra selalu memasak untuk makan malam. Itu caranya menebus perhatian yang tidak bisa dia berikan selama siang hari. Dan saat makan malam itu pula waktunya quality time mereka hingga waktunya tidur.


Dharra selalu menyanyikan lagu pengantar tidur bagi Bintang. Menemaninya hingga terlelap. Barulah dia menidurkan sang jagoan kecilnya sebelum ditiduri jagoan neon nya.


"Sayang, apa aku dapat hukuman lagi?" tanya Aji menyusuri telinga Dharra dengan suara parau.


"Tentu saja. Hukumanmu adalah mencuci baju baby El, mengganti popok, dan menyanyikannya lagu pengantar tidur" telunjuk Dharra menyusuri hidung mancung Aji.


"Itu sih main anak anakan. Terlalu mudah. Sekarang kita main dokter dokteran aja"


Dharra melipat dahi.


"Iya, kita belajar tentang anatomi. Sub bab nya tentang alat reproduksi manusia" Aji melepas satu per satu kain yang menempel pada tubuh istrinya. Lalu bagian yang paling disukainya adalah kain segi tiga transparan yang membuatnya selalu meneteskan air liur. Entah apa yang ditutupi kain transparan itu, karena dia bisa melihatnya tembus pandang.


Aji melemparnya asal lalu melum*at lembah lembab itu yang membuat Dharra menggila.


"Bagian paling penting dalam belajar anatomi adalah belajar menyuntik. Tapi aku sudah mahir bukan?" ucapnya serak menggoda sembari melesakan suntikan tumpulnya.


"aahhh... dokter cabul.. suntik lagi...enghh..."


🙈🙈🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2