My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Senatural Mungkin


__ADS_3

Setelah kegiatan Kemah Bersama di sekolah, ketua panitia membuat grup WhatsApp sebagai wadah untuk mempererat silaturahmi antara para peserta dan juga guru yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.


Juliana sebagai salah satu peserta di Kemah Bersama merasa senang sekali dengan kehadiran grup itu. Berada di grup yang sama dengan pak Ayyas adalah hal yang menyenangkan baginya.


Bahkan hal kecil seperti itu saja bisa membuat Juliana bahagia. Aneh memang, tapi perasaan seperti itu benar adanya. Dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar mencinta.


Kedekatan penghuni grup kian intim. Terlebih ketika salah satu anggotanya iseng membagikan video dirinya sedang bernyanyi di mobil. Caption “pengamen” ia tambahkan saat membagikan videonya.


Nisa yang merasa gemas menanggapi caption tersebut dengan foto selembar uang seribu rupiah. Hal itu mengundang tawa penghuni grup.


Sementara Ridwan ketua Remus, turut bereaksi . Ia juga membalas caption tersebut dengan foto uang 500 perak.


“Wizzz ada yang sefrekuensi nih,” ucap Nisa kala melihat Ridwan melakukan hal yang sama dengannya.


“Apa yang sefrekuensi?” tanya pak Ayyas kepo.


“Lihat sendiri saja pak di grup,” pinta Nisa sembari melirik gawai pak Ayyas.


“Pantesan nggak tau. Ternyata lagi asyik toh chatan sama bu cantik. Hati-hati loh pak. Chatan mesra dengan perempuan yang bukan mahram itu dosa,” tegur Nisa.


“Sok tahu kamu. Siapa juga yang chat mesra. Ini lagi bahas kurikulum kok.”


“Oh kurikulum sekarang sudah ada lawakannya ya? Sampai yang bahas dibikin senyum-senyum gitu.”

__ADS_1


“Sudah, sudah! Saya ngantuk mau tidur. Cepat kamu matikan lampunya.”


“Yeee ngelak,” kata Nisa sembari mematikan lampu.


“Pak beneran udah tidur ni?” tanya Nisa.


“Belum, kenapa memangnya?” jawab Pak Ayyas.


“Jangan tidur dulu pak! Saya kok insomnia gini sih? Gara-gara bapak nih sering nyuruh meriksa tugas sampai larut malam. Jadinya nggak terbiasa deh tidur cepat. Pokoknya bapak harus tanggung jawab. Bapak nggak boleh tidur duluan,” ujar Nisa.


“Eh Nisa kamu bagus banget ya baca puisinya,” puji Pak Ayyas.


“Iya dong. Nggak lebay dan nggak dibuat-buat. Bacanya pake hati pak,” sindir Nisa.


“Jangan senggol-senggol pak. Nanti bapak bisa jatuh cinta ke saya,” ucap Nisa terbahak-bahak.


“Tapi nggak bakal sih. Hati bapak kan milik Bu Susan seorang,” celoteh Nisa lagi.


“Kamu kok tau sih?” tanya pak Ayyas penasaran.


“Perempuan tuh memang terlahir dengan bakat CIA pak,” jawab Nisa santai.


“Bapak suka bu Susan karena apa?” lanjut Nisa.

__ADS_1


“Dia tidak menor seperti cewek kebanyakan,” jawab pak Ayyas spontan.


“Kayak aku dong." Nisa terbahak lagi.


“Tapi kamu cengeng, tidak seperti Susan. Susan tuh orangnya tegar.”


Di tengah perbincangan itu, Nisa akhirnya mengantuk dan tertidur. Disusul pak Ayyas.


Keesokan harinya mereka berangkat ke sekolah bersama. Seperti biasa, sesampainya di sekolah Nisa turun dari mobil saat parkiran sepi. Hal ini terus mereka lakukan agar tidak ketahuan yang lain.


Sesampainya di kelas Nisa kaget melihat perubahan Juliana. Ia segera menghampiri Juliana.


“Juliana sayang ada apa dengan bibirmu ini?” tanya Nisa lebay.


“Katanya laki-laki tuh suka sama perempuan yang cantik Sa. Makanya saya pake lipstick biar makin cantik,” ucap Juliana.


“Tapi tidak setebal ini juga kali Jul,” kata Nisa sambil menghapus tipis gincu Juliana pakai tisu yang diambil dari tasnya.


“Juli, let me tell you. Pak Ayyas itu suka perempuan yang make up-nya natural,” ucap Nisa keceplosan.


“Kamu kok tau banyak hal tentang pak Ayyas sih Sa?” tanya Juliana mulai curiga.


“Laki-laki alim kan memang nggak terlalu suka yang menor-menor. Kalaupun suka, dia pasti nggak mengizinkan orang-orang yang dicintainya berdandan berlebihan di luar rumah. Jadi kalau kamu mau pak Ayyas suka sama kamu jangan kek gini lagi ya,” titah Nisa keibuan.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2