My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 81


__ADS_3

Bell istirahat berbunyi, Pak Ayyas segera mengakhiri kelasnya. Tiba-tiba saja Bu Susan menghampiri Pak Ayyas yang masih berkemas di kelas Nisa.


“Ini pulpennya pak. Selain cantik, tintanya juga ternyata bagus sekali. Terima kasih ya sudah dipinjamkan.” Senyum manis menghiasi wajah cantik Bu Susan.


“Iya, sama-sama bu.” Tak kalah manisnya, Pak Ayyas membalas senyuman Bu Susan.


“Ya Allah romantis sekali. Suami meminjamkan pulpen pemberian istri ke selingkuhannya.” Nisa membatin sedih.


“Oh ya pak. Ke kantin yuk,” ajak Bu Susan.


“Boleh, kebetulan saya belum sarapan tadi.” Pak Ayyas memang belum sarapan. Ia terlalu sibuk belajar naik sepeda di subuh hari.


Melihat kedekatan Bu Susan dan Pak Ayyas yang semakin intim membuat Nisa benar-benar sadar kalau Pak Ayyas ternyata masih sangat mencintai Bu Susan.


“Serasi banget ya Pak Ayyas sama Bu Susan. Yang satu tampan, yang satu cantik. Yang satu sholeh, yang satu sholehah. So sweetnya, semoga mereka berjodoh.” Zulfitri berkata seperti itu setelah Pak Ayyas dan Bu Susan berlalu ke kantin.


“Aamin,” sahut Nisa.


“Sholehah apanya? Bu Susan kek ulat bulu gitu lu bilang sholehah, iyuhhh. Tapi mereka beneran serasi kok. Mereka berdua kan satu spesies. Sama-sama ulat bulu, ha ha.”


“Astaghfirullah. Ada masalah apa sih Jul? Biasanya kamu yang paling tidak suka mengghibahi orang lain. Kenapa hari ini jadi kamu yang mengghibah? Mana lebih parah lagi, memfitnah guru sendiri dengan mengatai ulat bulu. Padahal Bu Susan dan Pak Ayyas kan bisa menjaga diri,” bela Saleha.


“Kalian jangan cek cok terus dong! Malu dilihat sama teman yang lain,” tegur Nisa. Mereka akhirnya pada diam karena teguran Nisa.


Tak terasa bell pulang telah berbunyi. Nisa pulang duluan lagi karena Pak Ayyas harus ikut rapat sepulang sekolah.


Karena pulangnya sore, Pak Ayyas hanya bisa singgah sebentar saja di rumah Nisa. Ia memberikan sesuatu ke Nisa. Setelah itu ia langsung pamit pulang.


Nisa menyimpan pemberian Pak Ayyas dan membukanya setelah shalat isya. Di dalamnya ada buku Teka Teki Silang, sepatu olahraga merek FASHION, dan juga sepucuk surat. Nisa langsung membaca surat itu.


“Kata Aisyah, kamu suka sekali mengisi Teka Teki Silang. Tapi sudah tidak pernah lagi, semenjak langganan penjual bukumu di pasar sudah tidak menjual buku TTS. Saya bela-belain mencarikannya untukmu. Saya juga membelikanmu sepatu, setelah Ujian Nasional nanti kita harus sering-sering jogging bersama. Mengurangi makan saja tidak akan bisa membuat kamu kurus. Kamu harus rajin olahraga juga untuk membakar lemak. Oh ya, ini ada puisi untukmu. Dibaca yah sayang!


Jika Tanpamu


Tak pernah


Dan tak ingin kubayangkan


Kan seperti apa diriku


Ketika nanti


Senyummu tak lagi kulihat


Kasihmu tak lagi kurasa


Dan ketika

__ADS_1


Mata ini buta akan hadirmu


Jiwa ini kosong akan nasihatmu


Akankah diri ini seperti matahari


Tetap menyinari meski sendiri?


Atau mungkin


Ku akan seperti pena tanpa tinta, tak berguna?


Ya . . . Mungkin itulah diriku


Jika tanpamu


Nisa . . . Istriku . . .


Umurmu sudah 18 tahun kemarin. Ingat ya, tugas kamu setelah perpisahan sekolah nanti. Nenek dan mama sudah tidak sabar menimang anak kita.


“Ini kan puisinya Saleha. Gombal kok nggak modal banget sih pak. Well, saya akan balas pakai puisinya Ridwan.”


Nisa mulai mengetik pesan di WA.


Lelaki Homopon


Kau berlagak bak antonim


Kau bertingkah seolah alim


Kau pembohong wahai kaum Adam


Ku sebut dirimu homonim


Makna berbeda meski memuja


Ku sebut dirimu homopon


Menggoda dengan maksud berbeda


Tobatlah lelaki homopon


Jangan hanya indah di ucapan


Tapi juga indah di perbuatan


Dan setialah pada satu insan.

__ADS_1


Setelah itu, ia mengirimkan pesannya ke Pak Ayyas.


Pak Ayyas merasa sangat senang mendapatkan balasan chat dari Nisa. Ia segera membuka chat dari istrinya itu.


“He he, dibalas pakai puisinya Ridwan. Tau aja ini puisi Saleha,” balas Pak Ayyas setelah membaca balasan dari Nisa.


“Tau lah, Saleha kan sahabat saya pak. Gimana sih.” Nisa membalasnya dengan muka judes.


“Bagaimana hadiahnya, suka kan?” ketik Pak Ayyas serius.


“Kemarin memang hari ulang tahun saya pak. Tapi saya tidak meminta bapak untuk merayakannya. Bapak kan guru agama, masa hukum merayakan ulang tahun saja tidak tahu. Nabi saja tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Lalu kenapa kita melakukan sesuatu yang tidak Nabi contohkan?”


“Maaf, anggap saja itu hadiah dari suami ke istrinya. Hadiahnya bagus kan?”


“Terima kasih untuk niat baik bapak. Hadiahnya biasa saja.”


“Biasa saja? Yaahhh, padahal saya bela-belain keluar malam-malam mencarikannya untukmu. Well, sekarang katakan hadiah apa yang paling kamu inginkan saat ini. Biar saya kabulkan.”


“Mau jawaban yang bohongnya dulu atau yang jujurnya dulu pak?”


“Yang bohongnya dulu!”


“Maaf, saya tidak terbiasa berbohong seperti bapak.”


“Sabar Ayyas, jangan rusak momen romantis ini! Istrimu hanya sedang bad mood. Nanti juga moodnya baikan kok,” batin Pak Ayyas.


Setelah menahan emosinya beberapa detik, Pak Ayyas melanjutkan membalas chat Nisa. “Ok, yang jujur saja.”


“Hadiah yang paling saya inginkan saat ini adalah perceraian kita pak. Saya benar-benar sudah tidak sanggup menjalani rumah tangga kita lagi pak. Saya mau fokus sekolah saja, terus kuliah, bekerja setelah sarjana, dan menikah dengan lelaki yang baik.”


“Wah, wah, wah. Jadi maksud kamu saya bukan lelaki yang baik? Sampai-sampai kamu punya rencana untuk menikah dengan lelaki yang lain.” Pak Ayyas mulai tersulut emosi.


“Bapak memang bukan lelaki yang baik. Bapak seorang guru agama, tapi sikap bapak tidak mencerminkan orang yang paham akan ilmu agama sama sekali. Bapak bermudah-mudahan berinteraksi dengan perempuan yang bukan mahram bapak.”


Kecemburuan tadi siang membuat Nisa blak-blakan menyampaikan uneg-unegnya ke Pak Ayyas.


“Kamu berbicara seolah kamu perempuan yang baik saja. Selama ini saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Saya menyayangi keluarga kamu seperti saya menyayangi keluarga saya sendiri. Tapi balasan kamu malah seperti ini, memojokkan saya terus. Setiap usaha saya untuk membahagiakan kamu tidak berarti apa-apa sama sekali bagimu.”


“Saya tidak pernah meminta bapak untuk perhatian ke saya. Kalau bapak tidak suka sama sikap saya ya terserah bapak saja. Dari dulu kan saya minta diceraikan. Tapi bapak sendiri yang bersikukuh mempertahankan pernikahan kita. Bapak terlalu serakah mempertahankan saya di sisi bapak. Kalau bapak merasa saya tidak bisa menghargai bapak, ya nikahi saja Bu Susan si ulat bulu yang selalu bisa menghargai bapak. Bapak sama Bu Susan kan sama-sama ulat bulu.”


Nisa tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia kesal sekali melihat kedekatan Pak Ayyas dan Bu Susan.


“Kamu percaya diri sekali mengatai Susan ulat bulu. Kamu pikir kamu semahal apa? Dulu saya pacaran sama Susan, saya yang bucin. Saya yang mengejar-ngejar dia duluan. Sedangkan kamu, saya menikahi kamu karena terpaksa. Jangan pernah lupa kalau kamu duluan yang bucin ke saya! Saya mulai jatuh cinta hanya karena kamu istriku. Setelah saya menunjukkan rasa cinta ke kamu, kamu malah berlaga bak seorang diva. Tidak mau disentuh lah, marah saat dipeluklah. Cih, sadar diri dong Nisa. Kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan Susan. Sok jual mahal terus. Kamu pikir kamu siapa? Cantik tidak, baik tidak, kekanakan iya. Ke laut aja kamu jadi kerang!”


Baru kali ini Pak Ayyas menghina Nisa. Ia merasa tingkah Nisa kali ini benar-benar keterlaluan. Harga dirinya sebagai lelaki diinjak-injak. Nisa shock sekali membaca balasan dari Pak Ayyas dan semakin yakin untuk bercerai dengan Pak Ayyas.


“Ha ha ha terima kasih loh pak pujiannya. Mulai detik ini, jangan pernah mengunjungi rumah saya lagi! Jangan coba-coba dekati saya dan keluarga saya lagi! SONOVABITCH.”

__ADS_1


“KePDan sekali kamu berpikir saya mau dekati kamu lagi. Ada banyak perempuan yang jauh lebih baik di luar sana. Kamu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka. SOK SUCI.”


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2