My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Menyingkirkan Sampah Hubungan


__ADS_3

Tiba-tiba gawai pak Ayyas bergetar. Segera ia mengambilnya dan mengangkat panggilan itu.


“Halo! Assalamu 'alaykum,” ucap bu Tiara di seberang sana.


“Wa ‘alaykumsalam warahmatullah, Ma. Ada apa Ma nelpon malam-malam?”


“Ayahmu naik jabatan menjadi kepala sekolah.”


“Wah, alhamdulillah Ma. Akhirnya bapak jadi kepsek juga.” Rona kebahagiaan berhamburan di wajah pak Ayyas saat mengucapkannya.


“Lusa, mama mau adakan syukuran setelah asar, kamu dan Nisa harus datang. Besok sepulang sekolah, kalian langsung ke rumah ya. Nginap di rumah dulu. Bisa kan?”


“In Syaa Allah bisa ma.”


“Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, Nisa mana Nak?”


“Ini di sampingku. Mama mau bicara sama Nisa?”


“Tidak, tidak usah. Titip salam saja.”


“Ok Ma.”


“Sudah dulu ya. Mama mau nelpon mertuamu. Assalamu ‘alaykum.”


“Wa ’alaykumsalam warahmatullah, Ma.” Pak Ayyas lalu meletakkan kembali gawainya.


Bu Tiara kemudian menelpon besannya. “Halo! Assalamu a’laykum.”


“Wa ’alaykumsalam warahmatullah say.”


“Subroto baru saja terangkat jadi kepala sekolah. Rencananya kami mau mengadakan syukuran kecil-kecilan lusa. Kamu bisa datang kan?”


“Wah, alhamdulillah. Ikut senang dengarnya. In Syaa Allah bisa say.”


“Bisa nginap juga?” tanya bu Tiara lagi.


“Kalau itu, saya tidak bisa. Akhir-akhir ini ayahnya Nisa gampang capek soalnya. Kadang mual-mual juga. Maaf ya Tiara.”


“Tidak apa-apa say. Semoga ayahnya Nisa cepat membaik ya.”


“Aamiin.”


“Kalau begitu sudah dulu ya Arni. Masih ada beberapa orang yang mau saya hubungi.”


“Iya say.” “Assalamu ‘alaykum.”


“Wa ’alaykumsalam warahmatullah.”

__ADS_1


Keesokan harinya.


Nisa dan pak Ayyas berangkat ke sekolah. Pakaian ganti juga sudah mereka siapkan, agar bisa langsung mampir di rumah pak Ayyas nanti.


Karena akan nginap di rumah ibunya, pak Ayyas menunggui Nisa sampai sore di sekolah.


“Hey Syam,” ucap Nisa saat berjalan ke parkiran.


“Hey Nisa, bagaimana dengan roti itu?”


“Sudah saya kasih ke kak Sinta. Katanya terima kasih.”


“Alhamdulillah kalau begitu. Mau saya antar?”


“Oh, tidak perlu Syam. Kamu duluan saja. Terima kasih ya tawarannya.”


“Ok, kalau gitu see you tomorrow Sa!”


“See you Syam!”


Setelah memastikan Syam sudah pergi, Nisa langsung masuk ke mobil pak Ayyas. Mereka segera berangkat ke rumah pak Ayyas.


Setelah mengucapkan salam, mereka berdua langsung menghampiri ibu pak Ayyas di dapur.


“Kenapa telat sayang?” tanya bu Tiara pada anak semata wayangnya.


“Nungguin apa memangnya?” Bu Tiara penasaran.


“Nungguin dia ngajar kelompoknya. Jadi, Nisa tuh tiap hari mengajar siswa yang lain di kelompok belajarnya.”


“Wah, cerdas rupanya menantuku ini. Semoga anak kalian nanti cerdas kayak ibunya juga.”


“Aamiin Ma,” ucap Pak Ayyas. Disusul Nisa.


“Iya tenang saja bu, bu Susan cerdas kok. Anak mereka nanti bakal cerdas juga kayak mamanya.” Nisa bermonolog dalam hati.


“Ma, kuenya enak sekali. Beli dimana?” tanya pak Ayyas setelah mencicipi kue yang ada di hadapannya.


“Itu buatan Susan."


“Susan? Kapan dia ke sini Ma?”


“Tadi siang, setengah 3. Dia ada di dalam.” Bu Tiara menunjuk toilet dapur.


“Eh ada kak Ayyas di sini,” ucap bu Susan yang baru saja ke luar dari toilet.


“Iya, mau nginap ini.”

__ADS_1


“Oh iya, Susan barangkali mau ikut nginap juga. Sudah lama kan kamu tidak ke sini. Kamar tamunya kosong kok.”


“Beneran boleh Tante?” Bu Susan sangat antusias.


“Boleh dong sayang. Kamu kan sudah ibu anggap seperti anak sendiri.”


“Astaga, drama apa lagi ini?” tanya Nisa dalam hati.


Karena diizinkan oleh bu Tiara, akhirnya bu Susan ikutan nginap.


“Bu, saya ke kamar dulu ya.” Nisa eneg melihat tingkah bu Susan, ia lebih memilih langsung ke kamar daripada berlama-lama berada di sekitar guru genit itu.


“Iya silakan sayang. Kamu temani Nisa, dia belum pernah nginap di sini. Belum tahu kamarmu yang mana,” ucap bu Tiara pada pak Ayyas.


Nisa berjalan di belakang pak Ayyas.


“Aduh, saya lupa memindahkan foto-foto Susan. Bisa marah Nisa lihat ini.” Pak Ayyas bermonolog dalam hati setelah membuka pintu kamarnya.


Benar saja, Nisa merasa sedikit geram melihat beberapa foto bu Susan masih terpajang di kamar pak Ayyas.


“Saya mandi dulu ya Nisa.”


“Silakan Pak!”


Setelah pak Ayyas memasuki kamar mandi, Nisa lalu mengambil foto-foto bu Susan dan memasukkannya ke dalam box.


“Mau kemana Nak?" tanya bu Tiara pada menantunya.


“Mau buang sampah Bu.”


“Buang di dapur saja Nak!”


“Tempat sampah di dapur full, Bu.”


“Ya sudah, buang di luar saja. Jangan lama-lama ya sayang! Sudah mau magrib ini.”


“Iya Bu.”


Nisa lalu berjalan ke arah tempat sampah yang terletak di depan rumah.


“Bingkai? Jangan-jangan kak Ayyas masih simpan foto-foto saya di kamarnya. Tuh kan dia masih cinta sama saya,” lamun bu Susan.


“Untung saja tempat sampahnya full. Ya kali saya buang foto bu Susan di dalam, bisa-bisa dilihat yang lain. Sayang juga ya kalau bingkai ini dibuang.”


Nisa lalu mengeluarkan foto bu Susan dari bingkai. Segera ia merobek-robek foto si pelakor dan membuangnya ke tempat sampah. Sedangkan bingkainya ia simpan kembali di kamar.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2