My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 66


__ADS_3

Setelah melontarkan uneg-unegnya, Nisa melangkah cepat meninggalkan Pak Ayyas yang masih tersulut emosi.


“Saya kan belum kasih dia uang. Tabungannya juga sudah dia buka sejak lama. Terus dia bayar angkot pakai apa?”


Pak Ayyas lalu menyusul Nisa. Ia terpaksa batal mandi. Padahal badannya terasa sangat lengket dan berkeringat.


“Sudah kuduga si tukang ngambek ini pasti nekat jalan kaki ke sekolah. Pantas berangkatnya lebih awal,” batin Pak Ayyas.


“Cepat masuk!” Pak Ayyas meminta Nisa untuk naik ke mobil. Tapi Nisa hanya mematung.


“Atau kita akan terus seperti ini, biar dilihat orang sekalian. Supaya mereka tahu kalau kita ini suami istri,” ancam Pak Ayyas.


Nisa malah semakin mempercepat langkahnya untuk menghindari Pak Ayyas.


“Masuk dulu, biar saya jelaskan ke kamu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Hey Nisa, ayo cepat masuk. Saya tidak bisa turun ini. Saya cuman pakai handuk sama cel*na d*lam. Malu kalau dilihat orang. Kamu sih ngambek di saat saya ingin mandi.”


Pak Ayyas yang hanya menggunakan handuk terpaksa keluar dari mobil, menarik paksa Nisa untuk masuk ke kendaraan beroda empatnya tersebut.


“Kok putar balik sih pak?” tanya Nisa sewot.


“Saya kan sudah bilang, saya mandi dulu. Terus makan, setelah makan baru deh kita berangkat ke sekolah bareng.”


“Kalau begitu saya turun saja pak,” ucap Nisa kesal.


“Jangan! Baiklah, saya antar kamu ke sekolah sekarang. Nanti saya berangkat belakangan."


Kali ini pak Ayyas mengalah pada Nisa. Nisa bertindak konyol karena ulahnya.


"Jadi gini Nisa, tadi malam saya tidak menjemput kamu dan Juliana karena saya menjaga Susan di rumah sakit.”


“Kenapa harus bapak yang jagain?” Nisa jadi semakin kesal.


“Kamu kan tahu Susan tinggal sendiri di kostnya. Keluarganya tinggal di Bone.”


“Salah sendiri milih ngajar di sini, bukan di kampungnya.” Ia terus saja menggerutu.


“Aduh Nisa, dia itu mengajar di sini karena dimutasi. Bukan karena kemauannya sendiri.”


“Tapi kan bapak bisa ke sekolah dulu, antar saya sama Juliana pulang. Baru balik ke rumah sakit setelahnya. Kalau perlu saya temani bapak menjaga bu Susan, biar nggak berdua-duaan di sana.”


“Tadi malam rencana saya juga begitu Nisa. Tapi dokternya marah kalau saya meninggalkan ruangan. Katanya pasien tidak boleh ditinggal sendirian di ruangan, harus ada penjaganya.”


“Terus kenapa bapak tidak kabari saya lewat chat? Atau nelpon ngasih kabar?”

__ADS_1


“Mine is lowbat honey." Ayyas menunjukkan ponselnya. "Tolong dong Nisa kamu mengerti sedikit saja. Let bygones be bygones, okay?”


“Bagaimana saya akan mengerti, Pak? Bapak itu terlalu plin plan. Hari ini janjinya A, besok buatnya B. Kalau bapak masih suka sama bu Susan, nikahi saja dia. Dari dulu kan saya bilang lebih baik kita bercerai saja. Untuk apa lagi kita mempertahankan pernikahan yang abu-abu ini?”


“Shut up, or I will kiss you right now!” Bukannya memberi kepastian, pak Ayyas malah membungkam Nisa dengan ancaman.


“Sudah sampai, ambil ini!” Pak Ayyas memberikan uang ke Nisa sebelum kembali ke rumah.


Dengan perasaan dongkol Nisa mengambil uang dari Pak Ayyas, lalu berjalan ke kelas. Ia menunggu apel pagi dimulai dengan membaca novel yang berjudul Aku Bukan Wanita Murahan karya Distinguish di taman depan kelas. Sesekali ia menitikkan air mata saat membaca novel yang mengandung bawang itu.


“Gosh, I am falling in love to this sad novel. However, I like the ending. I hope so do the other readers.”


Mendekati pukul tujuh.


Siswa mulai berdatangan ke sekolah, termasuk Juliana tentunya. Ia masuk ke kelas dan langsung meletakkan tas. Setelah itu, ia berlari kegirangan ke arah Nisa sedang duduk.


“Ada apa Jul? You look so happy,” tanya Nisa penasaran.


“Saya lulus SNMPTN di UPI Sa.” Terlihat senyum manis menghiasi wajah oval Juliana.


“Alhamdulillah, selamat ya Jul!” Rona wajah Nisa menunjukkan kegembiraan setelah mendengar ucapan Juliana.


“Cepat cek punya kamu Sa! Mumpung belum apel ini.”


Segera, ia membuka laman kelulusan SNMPTN 2021. Kemudian memasukkan email dan password nya. Segera ia mengklik Lihat Hasil Seleksi.


Seketika Nisa menampakkan wajah sedih. “What happened Sa? Kok sedih sih? Kamu gagal ya?” tanya Juliana khawatir.


“Saya tidak . . . Saya tidak . . . . . ditolak. Ha ha ha.”


Juliana spontan mencubit Nisa, saking kesalnya ia dengan sikap sahabatnya itu.


“UPI, we are coming. Yeyyyy,” teriak Juliana yang merasa sangat senang karena ia dan Nisa lulus jalur undangan di UPI.


Tak lama setelahnya, bell apel berbunyi. Nisa meletakkan gawai di saku baju saat sedang mengikuti apel.


Kali ini Pak Anwar membahas tentang pasca SMA.


“Saya lihat pengumuman kelulusan SNMPTN sudah bisa diakses. Saya ucapkan selamat untuk kalian yang lulus SNMPTN. Terkhusus untuk anak-anakku yang kelas tiga. Setelah tamat nanti, sekolah ini selalu terbuka untuk kalian. Kami akan sangat senang kalau kalian mengunjungi sekolah. Kami tidak akan melarang kalian untuk datang ke sekolah meski sudah tamat. Hanya saja, kami akan lebih senang kalau kalian kuliah dulu atau bekerja dulu. Supaya nanti kalian datang dengan membawa kesuksesan masing-masing. Kami sebagai guru tentunya akan merasa sangat bangga memiliki siswa yang sukses. Oh ya, satu lagi. Saya ingin menginfokan kalau belajar kelompok untuk kelas tiga resmi dibubarkan. Bapak harap dengan begini, kalian bisa lebih fokus belajar di rumah. Sekian dulu amanat dari saya, wassalamu ‘alaykum warahamtullahi wabarakatuhu.”


“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu,” jawab siswa serentak.


Pak Ayyas memasuki kelas Nisa untuk mengajar setelah apel pagi berakhir. Setelah mengucapkan salam, ia langsung bertanya ke siswa.

__ADS_1


“Siapa di sini yang lulus SNMPTN?” tanyanya. Beberapa siswa mengangkat tangan, termasuk Nisa.


“Fikri lulus dimana?”


“Di UI pak.”


“Kalau Saleha dimana?”


“Di Unsulbar pak.”


“Nisa?” Kali ini, pak Ayyas penasaran.


“Di UPI pak.”


Setelah menanyai satu per satu siswa yang


mengacungkan tangan, Pak Ayyas masuk ke materi.


Beberapa jam setelahnya.


Bell pulang telah berbunyi, Nisa dan pak Ayyas pulang bareng.


Sesampainya di rumah, Nisa langsung menyimpan tas dan mengganti seragam sekolahnya.


“Saya tidak mengizinkan kamu kuliah. Saya tidak bisa jauh-jauh dari kamu,” ucap pak Ayyas serius.


“Stop mempermainkan perasaan saya Pak!” Nisa ketus.


“Siapa yang mempermainkan perasaan kamu? Saya serius Nisa.”


“Bapak itu egois sekali. Bapak suka sama bu Susan, tapi bapak juga tidak bisa jauh dari saya. Sebenarnya bapak maunya apa? For times saya katakan, saya tidak mau dipoligami pak. So, kalau bapak mau sama bu Susan bapak ceraikan saya! Saya lulus jalur SNMPTN di UPI. Dengan bercerai, saya akan lebih fokus untuk kuliah.”


“Nenek sakit, kita izin tidak ke sekolah dulu beberapa hari untuk mengunjungi nenek di Bone. Supaya tidak ketahuan pihak sekolah, kita minta izin dengan alasan yang berbeda.”


“Saya tidak mau ikut. Bapak saja yang pergi sendiri. Kalau nggak mau sendiri, bawa Bu Susan saja. Sekalian kenalin ke nenek kalau Bu Susan itu calon istri bapak.”


“Jaga ucapan kamu!” ucap Pak Ayyas sedikit emosi.


“Nggak usah munafik deh pak. Bapak memang suka sama Bu Susan. Selama ini cinta bapak dan Bu Susan terhalang karena perjodohan kita. Tenang saja pak, biar saya bantu untuk cerita ke orang tua kita. Kita sama-sama diuntungkan dengan perceraian kita pak. Saya bisa fokus kuliah dan bapak bisa menikah dengan Bu Susan.”


“Tapi saya sudah tidak mencintai Susan lagi Nisa. Biar saya jelaskan kesalahpahaman kamu selama ini. Saya mempertahankan kamu di sisi saya, bukan karena takut sama orang tua saya kalau menceraikan kamu. Bukan juga karena amanah dari ayah kamu. Tapi karena saya memang cinta sama kamu Nisa. So, stop bahas perceraian lagi!”


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2