
Semakin lama, Adam semakin perhatian pada Nisa. Hal ini membuat Mirna, pacar Adam merasa geram melihat Nisa. Tanpa ragu-ragu, ia melabrak Nisa di dalam kelas.
“Kamu itu murahan sekali ya Nisa. Pakaian doang tertutup, kelakuan bobrok.” Mirna mengatai Nisa.
Nisa yang tidak mengerti ucapan Mirna berbalik ke belakang. Ia kebingungan saat mendapati tak ada orang lain di belakangnya.
“Nggak usah sok bingung deh. Saya bicara ke kamu,” bentak Mirna.
“Murahan apa ya? Saya tidak punya masalah sama kamu. Tapi tiba-tiba saja kamu bentak-bentak saya.”
“Oh ya? Tidak punya masalah katamu? Kamu ini bego atau pura-pura bego sih?” Mirna semakin emosi.
“To the point aja Mirna. Kamu sebenarnya kenapa? Salah saya ke kamu apa?”
“Salah kamu adalah karena kamu dekat-dekat dengan pacar saya. Dasar ulat bulu!”
“Pacar kamu? Siapa? Saya tidak pernah dekat-dekat dengan siapa pun.”
Nisa menangis sesenggukan dituduh seperti itu oleh Mirna. Ia merasa malu karena dihina di hadapan banyak orang.
“Terus kedekatan kamu sama kak Adam itu apa hah? Sudah salah, sok suci lagi. Drama nangis pula. Iyyuhhh. Alay beut.”
“Tutup mulut kamu ya Mirna! Bukan Nisa yang mendekati kak Adam. Tapi kak Adam yang selalu menghubungi Nisa. Kalau kamu mau marah, marah sana ke kak Adam.” Juliana membela Nisa.
“Ini juga satu, sama saja. Pastilah kamu bela Nisa. Nisa kan sahabat kamu.”
Mirna masih tidak bisa terima kenyataan kalau Adam lah yang mendekati Nisa.
“Asal kamu tahu ya Mirna. Nisa itu sudah menikah dengan guru PNS yang mengajar di SMA kami. Suami Nisa jauh lebih tampan dan mapan dari kak Adam,” balas Juliana sewot.
“Oh ya? Mana buktinya? Gaya doang kerudungan, tapi tukang bohong. Munafik.”
Nisa benar-benar tidak terima dengan tuduhan Mirna padanya dan Juliana. Ia segera menghubungi Pak Ayyas via VC.
“Tumben anak ini menghubungi saya,” batin pak Ayyas saat melihat notif VC dari Nisa.
Ia segera mengangkatnya. “Hey, kenapa menangis sayang?”
“Nih lihat, kak Adam tidak apa-apanya dibandingkan suami Nisa.” Juliana memperlihatkan muka pak Ayyas pada Mirna dan yang lain untuk menilai sendiri.
“Nanti kami hubungi lagi yah pak. Lagi ada masalah di kelas.” Juliana mematikan VC Nisa dengan pak Ayyas.
__ADS_1
“Iya, suami Nisa jauh lebih tampan. Saya sih percaya kalau bukan Nisa yang mendekati kak Adam.” Firman mengeluarkan pendapatnya.
“Saya juga,” ucap beberapa mahasiswa yang lain.
“Mirna minta maaf gih ke Nisa. Kamu sudah memfitnahnya yang tidak-tidak,” pinta Firman sebagai keti di kelas.
Mirna menolak untuk meminta maaf pada Nisa. Ia melangkah keluar meninggalkan kelas.
Juliana dan yang lain bergegas mendekati Nisa. Membujuknya agar tidak menangis lagi.
Nisa benar-benar kecewa pada Adam. Ternyata dia sudah punya pacar, tapi masih saja mendekatinya. Nisa tak tahu kalau mereka pacaran, karena selama ini mereka tidak pernah sama sekali mengekspos hubungannya. Mungkin saja supaya Adam mudah mendekati banyak perempuan.
Ujian final semester telah berakhir.
Nisa, Juliana, dan Ridwan memutuskan untuk pulang ke Pare.
Kak Tonny mengantar mereka ke Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara. Mereka kemudian naik pesawat yang mendarat setelah dua jam lebih di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.
Ibu Nisa menelpon Nisa kalau pak Ayyas yang akan menjemput mereka. Ibunya juga meminta Nisa untuk menuruti semua yang pak Ayyas perintahkan. Nisa mengiyakan saja.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Pak Ayyas datang juga.
Pak Ayyas langsung mengantar mereka pulang. Nisa ia bawa ke rumah orang tuanya. Selama Nisa di Bandung, pak Ayyas tinggal di situ.
Nisa langsung menyalami mertuanya, kemudian bergegas mandi. Baru saja keluar dari kamar mandi, pak Ayyas langsung memberikan ia parfum Pucelle untuk digunakan.
“Kamu sedang haid atau tidak?” tanya suaminya itu setelahnya.
“Tidak, kenapa Pak?”
“Shalat sunnah yuk!” ajak pak Ayyas.
Nisa mengambil mukena lalu berdiri tepat di belakang pak Ayyas.
Setelah shalat sunnah pak Ayyas membaca doa. “Allahumma baarik lii fii ahlii. Wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma’ baynanaa maa jama’ta ila khairin. Wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.”
Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.
Nisa menyimpan mukena lalu naik ke ranjang untuk membaringkan tubuh. Pak Ayyas mendekat ke arahnya, memintanya untuk duduk.
Nisa mulai ngeh apa yang akan pak Ayyas lakukan padanya. Ia ingin sekali keluar kamar untuk menghindari pak Ayyas, tapi teringat kembali ucapan ibunya yang memintanya untuk menuruti semua perintah pak Ayyas.
__ADS_1
Konsekuensi dari menuruti keinginan pak Ayyas adalah ia harus siap dimadu dengan bu Susan.
Nisa pasrah, di matanya semua lelaki sama saja. Seperti pak Ayyas dan Adam yang tak bisa hidup hanya dengan satu perempuan di sisinya. Mindsetnya saat ini adalah menikah dengan siapapun, akan selalu ada peluang untuk dimadu.
Nisa kemudian duduk, sementara pak ayyas kembali membaca doa. “Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa.”
Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Pak Ayyas mendekat, semakin dekat, dan terjadilah proses pembuahan di antara mereka.
“Terima kasih sudah menjaganya untukku sayang.” Pak Ayyas lalu mencium kening Nisa.
Ia kemudian mengajak Nisa untuk mandi junub bersama sebelum tidur.
Keesokan harinya.
Nisa bersiap-siap untuk menemani Pak Ayyas menikah dengan Bu Susan di KUA.
“Kenapa pakaiannya bukan pakaian pengantin ya?” batin Nisa ketika melihat pak Ayyas di dalam mobil.
Ia lalu duduk di samping pak Ayyas. Sementara mertuanya duduk di belakang. Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di KUA.
“Itu yang duduk di samping bu Susan siapa?” batin Nisa. Ia semakin kebingungan.
“Ananda Rahman bin Sewali. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Susan Pratama binti Marzuki dengan maskawinnya berupa surah Ar-Rahman, tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Susan Pratama binti Marzuki dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”
“Sah?”
“SAH,” ucap saksi kegirangan.
Pernikahan sudah selesai, mereka kembali ke rumah.
“Bukannya Bapak yang mau nikah sama bu Susan? Kenapa jadi orang lain?” tanya Nisa dengan penuh kebingungan di dalam kamar.
“Sudah berapa kali saya bilang saya cintanya cuman sama kamu. Tapi kamu masih saja salah paham terus ke saya. Diam-diam cerita ke ibu kalau saya selingkuh dengan Susan.”
“Waktu itu bu Susan kirim chat ke Bapak, katanya yakin siap menikah. Bapak juga ketemu diam-diam di mushallah membahas waktu pernikahan. Bapak juga membanding-bandingkan saya dengan bu Susan. Sampai mengatai saya yang tidak-tidak demi membela bu Susan.”
“Untung saja ibu cerita semuanya ke mama. Kalau tidak, kita akan salah paham terus sampai sekarang. Maaf yah Nisa. Saya bukannya mau menyembunyikan sesuatu dari kamu. Waktu itu Susan meminta saya untuk merahasiakannya. Tidak menceritakan ke siapapun, termasuk kamu. Soalnya katanya dia bisa malu kalau pernikahannya batal sementara sudah ada yang tahu. Susan yakin menikah dengan Rahman, bukan ke saya. Dia chat begitu setelah saya meyakinkan dia kalau Rahman itu laki-laki yang baik. Maaf juga karena saya mengata-ngatai kamu. Saat itu, emosi saya memuncak karena kamu tidak pernah menghargai perjuangan saya. Saya menjadi semakin emosi karena kamu selalu menuduh saya selingkuh. Saya janji ke depannya akan bersikap dewasa dan tidak berkata kasar lagi ke kamu.”
__ADS_1
Nisa menitikkan air mata mendengar semua penjelasan pak Ayyas. Ternyata selama ini ia hanya salah paham pada suaminya. Ia langsung memeluk pak Ayyas, segera pak Ayyas membalas pelukan Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak