My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 74


__ADS_3

“Aduh kenapa ada Pak Ayyas juga sih?” batin Syam saat melihat Pak Ayyas datang bersama guru yang lain.


“Syam di sini juga? Jangan-jangan kamu pacarnya Lisna ya,” tegur Bu Susan.


“Bukan bu. Saya sama Lisna bersepupu.”


“Oh sepupu? Kirain kalian pacaran.”


“He he nggak bu. Kami bersepupu.” ucap Lisna.


”Sudah pada datang to? Silakan masuk bu, pak!” Ibu Lisna menyambut rekan-rekannya dengan penuh hangat.


Sejak di mobil hingga tiba di rumah Lisna, Bu Susan selalu saja berusaha berada di dekat Pak Ayyas.


“Syam fotoin ibu dong!” Bu Susan menyodorkan gawainya ke Syam.


“Nanti saja Syam! Tunggu guru yang lain selesai makan dulu! Sekalian foto bareng-bareng,” elak Pak Ayyas yang tak ingin foto berdua dengan Bu Susan.


“Katanya Pak Ayyas yang cinta sama Bu Susan. Ini kok malah kayak Bu Susan ya yang kelihatan cinta beut ke Pak Ayyas,” batin Syam.


Terlihat guru-guru itu makan dengan lahapnya. Setelah itu mereka berfoto bersama sebelum pulang. Tak ketinggalan juga Lisna.


“Kayaknya enak deh kalau kita singgah beli es bobanya Bu Lola!” ujar Bu Asma.


“Ide bagus tuh bu. Saya juga penasaran mau coba es boba buatan Bu Lola,” sahut Bu Susan.


Pak Ayyas lalu memarkirkan mobilnya di samping rumah Bu Lola. Ia membiarkan guru lain memesan terlebih dahulu.


Guru yang lain semuanya memesan es boba tea. Hal ini membuat Bu Lola berpikir kalau Pak Ayyas juga pasti memesan es boba tea.


“Ini pak,” ucap Bu Lola sembari menyodorkan es boba tea ke Pak Ayyas.


Pak Ayyas sebenarnya lebih suka yang pakai gula merah. Tapi karena Bu Lola terlanjur membuat yang rasa teh, jadi Pak Ayyas legowo saja menerimanya.


“Satu lagi, tapi jangan yang teh ya bu. Keponakan saya tidak suka yang teh. Sukanya yang pakai gula merah.”


“Dulu sering kau bilang. Aku yang terindah. Dulu sering kau bilang. Aku segalanya. Tapi kini kau paksakan. Tuk lupakan semua. Cerita kita.” Bu Susan menyanyikan potongan lagu Yangseku dengan suara pelan.


Lagu itu sengaja ia nyanyikan untuk Pak Ayyas. Menunjukkan perasaannya yang terluka hebat menyaksikan lelaki yang amat ia cintai semakin lama semakin menghindarinya karena lebih memilih istrinya.


Pesanannya sudah siap. Pak Ayyas lalu mengantarkan guru yang lain pulang ke kediamannya masing-masing.


Setibanya di rumah, Pak Ayyas masuk dengan menenteng dua es boba. Satu untuknya dan satu untuk Nisa. Terpancar jelas rona kebahagiaan di wajahnya.

__ADS_1


“Tidak ada di kamar. Pasti di balkon.”


Pak Ayyas meletakkan tasnya, lalu ke balkon untuk menemui Nisa. Benar saja, ada Nisa yang tengah bersantai menikmati senja di balkon.


“Selamat datang suamiku yang royal!” ucap Nisa tatkala melihat Pak Ayyas berjalan ke arahnya dengan menenteng es boba.


Segera Nisa mengambil es boba brown sugar yang dibawa Pak Ayyas.


“Enak pak.”


“Iya, enak. Eh Nisa, ada sesuatu di bibirmu.”


“Ada apa pak?” tanya Nisa ketakutan.


Pak Ayyas mendekat ke Nisa, lalu menciumnya. Nisa terbelalak kaget dengan tingkah spontan Pak Ayyas.


“I take your first kiss honey.” Pak Ayyas terlihat begitu bahagia.


“Semenyenangkan itukah ciuman baginya? Dasar aneh!” umpat Nisa dalam hati.


“Kamu pasti mau protes lagi kan karena saya menciummu tiba-tiba? Sebelum kamu protes, dengarkan dulu Hadist Riwayat Ahmad ini! Dari Hafshah, putri Umar Radiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa. Jadi, ciuman itu salah satu cara Rasulullah untuk menjalin keharmonisan dengan istrinya.”


“Tak perlu dilanjutkan lagi penjelasannya pak. Saya sudah tahu akal bulus bapak. Bapak pasti mau bilang jadi kita harus sering-sering ciuman supaya rumah tangga kita romantis seperti rasulullah kan?”


Lagi-lagi Pak Ayyas memandangi Nisa dengan ekspresi mesumnya. Nisa merasa begitu risih dengan tatapan itu.


Segera Nisa masuk ke rumah. Lalu dengan sengaja mengunci pintu dari dalam. Pak Ayyas membuka pintu, namun pintunya ternyata


terkunci.


“Nisa buka pintunya! Sudah mau magrib ini.” Pak Ayyas mengetuk pintu dengan keras.


“Saya akan buka pintunya, tapi bapak harus janji dulu.”


“Janji apa?”


“Bapak harus janji bapak tidak akan mencium saya,” pinta Nisa.


“Baiklah saya janji tidak akan mencium kamu.”


Dengan perasaan lega Nisa membuka pintu.


“Untuk nanti malam. Tapi tidak dengan besok dan seterusnya, ha ha.”

__ADS_1


“Dasar beruang licik. Tidak boleh ingkar janji pak!”


“Saya tidak akan ingkar janji. Saya serius, malam ini saya tidak akan melakukannya. Tapi tidak dengan besok dan ke depannya. Ha ha ha.”


Pak Ayyas berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Nisa yang merasa semakin jengkel karena tingkahnya.


Sebelum tidur, Nisa membuka WAnya. Hatinya tergerak untuk melihat story Lisna. Nisa memperhatikan foto Lisna dan para guru dengan seksama.


“Sudah kuduga, si Bear ternyata masih dekat-dekat dengan Bu Susan. Harus banget gitu ya fotonya berdekatan gini? Mana bodynya Bu Susan bagus beut lagi. Bikin perih mata saja memandangnya. Hey Nisa, positive thinking dong! Belum tentu dugaanmu salah. Bisa saja kan si Bear memang masih cinta sama Bu Susan.” Nisa membatin, berusaha menghibur dirinya sendiri.


Ia lalu mematikan lampu dan meletakkan bantal guling di tengah-tengah ranjang.


“Bukannya kemarin malam kamu bilang kita bed friend ya. Kenapa sekarang pakai pembatas lagi?” protes Pak Ayyas yang ingin memeluk Nisa saat tidur.


“Saya lagi bad mood pak. Besok-besok saja ya.”


“Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah cerita dong. Biar saya bantu menyelesaikannya.”


“Cuman bad mood pak. Oh iya, stok makanan untuk pekan ini sudah habis pak. Besok kita belanja ke pasar ya.”


“Iya, In Syaa Allah. Pulang sekolah kita langsung ke pasar. Btw, ini bantalnya masih disimpan di tengah?”


Nisa menganggukkan kepala, berarti tak ingin bantalnya dipindahkan.


“Kamu jangan bad mood terus dong Nisa! Kalau mau bad mood, bad moodnya pas siang saja. Jangan di malam hari. Bad moodmu di malam hari membuatku mumet dua kali lipat. Bantalnya saya pindahkan ya?” bujuk Pak Ayyas.


“Kalau bantalnya bapak pindahkan, saya akan tidur di kamar tamu.”


“Eh, jangan, jangan! Ini bantalnya masih di sini kok. Tidak saya pindahkan sama sekali.”


Malam ini Pak Ayyas terpaksa bergadang untuk menunggui Nisa terlelap.


“Alhamdulillah sudah tidur. Gini nih kalau nikah sama bocah labil. Moodnya kayak roller coaster. Untuk meluk saja harus pakai usaha ekstra.” Pak Ayyas bermonolog dalam hati.


Pak Ayyas memindahkan guling ke sisi kanan Nisa, agar tidak disalahkan saat kedapatan memeluk. Pak Ayyas tinggal bilang Nisa banyak goyang saat tidur. Atau mengatakan Nisa sendiri yang memindahkan bantal gulingnya.


“Berasa kayak pedofil. Tapi saya bukan pedofil kok. Pedofil kan yang tertarik pada remaja berusia di bawah 14 tahun. Sementara Nisa sudah 18 tahun sekarang. Lagipula Nisa kan istri saya. Tidak apa-apa dong saya menyentuhnya.” Pak Ayyas berujar lagi dalam hati.


Subuhnya, Pak Ayyas bangun lebih cepat daripada Nisa. Ia merasa lega sekali karena tidak perlu ngeles subuh ini.


“Aish, beruang mesum itu. Mentang-mentang saya masih SMA. Dia pikir dia bisa menipu saya dengan trik bodoh seperti ini,” ucap Nisa saat mendapati dirinya bangun dengan kondisi tengah memeluk guling.


Dengan wajah bantalnya, Nisa bangkit untuk mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan shalat subuh dan mengaji, ia langsung keluar rumah untuk menunggui Pak Ayyas pulang dari mesjid.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2