
“Bagaimana dengan nilai Seni Budaya saya pak?” tanya Nisa dengan tujuan untuk mengalihkan pembicaraan.
“Saya sudah nego tadi ke Bu Suryana, katanya untuk dapat nilai Seni Budaya kalian boleh tidak ikut dance. Tapi, kalian harus baca doa pembukaan acara pentas seninya.”
“Gimana caranya baca doa berdua?” tanya Nisa kebingungan.
“Juliana pakai bahasa Arab dan kamu pakai bahasa Indonesia.”
“Mending gitu sih, daripada harus tampil dance di depan khalayak. Meski sebenarnya lebih baik untuk tidak melakukan keduanya. Tapi kalau masih menolak untuk baca doa, Bu Suryana pasti murka. Tapi bapak ikut kan? Kalau acaranya malam kan nggak ada angkot.”
“Kamu tenang saja, saya akan ikut ke sekolah.” Tiba-tiba Pak Ayyas mencubit pipi Nisa.
“Apaan sih pak, tangannya nggak usah hiperaktif gini.”
“Semua yang ada padamu adalah milikku,” ucap Pak Ayyas enteng.
“What? Bapak itu ya akhy outside tapi naughty inside, wuuu. Dasar mesum,” ledek Nisa.
“Tidak apa-apa kan mesum sama istri sendiri? Yang salah itu kalau saya mesum ke istri orang. Atau ke perempuan yang belum halal bagi saya.”
“Idih, sok bijak lagi. Sering-sering nonton acara Menolak Lupa deh pak! Supaya bapak tidak amnesia gini. Bu Susan kan bukan istri bapak. Tapi bapak sering banget melempar perhatian ke dia. Cie, cie, yang tiba-tiba amnesia. Ha ha ha.”
“Bilang saja kalau kamu cemburu, ha ha ha. Kamu cemburu kan? Cie, cie, yang cemburu,” ledek pak Ayyas balik.
“Tolong ambilin kresek dong pak!” canda Nisa.
“Untuk apa?” tanya pak Ayyas serius.
__ADS_1
“Saya jadi mual mendengar kata-kata bapak barusan,” balas Nisa.
“Oh ya? Atau jangan-jangan kamu sedang simulasi jadi ibu hamil ya,” goda pak Ayyas.
“Idih, gak nyambung pak. Sudah, sudah, saya mau tidur.” Nisa lalu mematikan lampu kamar.
“Okay, kita lanjutkan ngobrolnya di mimpi saja.”
“Bapak tuh ya kayak Spongebob,” ucap Nisa.
“Iya dong. Selalu ceria,” jawab pak Ayyas kePDan.
“Bukan itu pak,” balas Nisa sewot.
“Terus apa?” Pak Ayyas menjadi semakin penasaran.
“Kebiasaan sekali kamu ini,” balas Pak Ayyas.
Hanya beberapa menit setelahnya, mereka akhirnya terlelap.
Keesokan harinya di sekolah, Manda tidak ikut matpel Penjas dengan alasan sedang menstruasi. Ia tidak bisa ikut berolahraga lantaran perutnya sakit sekali.
Setelah berolahraga, teman kelas Nisa kembali ke kelas. Ekki membuka tasnya untuk mengambil baju ganti. Ia tercengang melihat uangnya telah kembali.
Semuanya kini curiga pada Manda, Ekki juga. Meski begitu, Ekki yang baik hati memutuskan untuk tetap berteman baik dengan Manda.
Baginya, setiap orang memiliki alasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Termasuk Manda, mungkin saja Manda mencuri karena terdesak. Apapun itu, hanya Manda yang tahu alasan sebenarnya dia mencuri.
__ADS_1
Sementara Nisa dan Juliana segera ke ruang ganti untuk mengganti baju.
“Jul, nanti malam kita baca doa pembukaan acara pentas seni. Kamu versi bahasa Arabnya, saya versi bahasa Indonesianya.”
“Alhamdulillah, akhirnya kita nggak harus ikut dance Sa.”
“Iya, kita harus banyak berterima kasih ke Bear. Karena dia yang bantuin kita ngomong ke Bu Suryana.”
“Tapiiii, kalau acara pentas seninya malam. Kita nggak bisa pulang pake angkot dong Sa,” keluh Juliana.
“Keep calm Jul! Kan ada Bear,” ucap Nisa lalu tersenyum.
“Ini nih enaknya nikah sama guru sendiri,” celetuk Juliana.
“Hadeh, banyakan jeleknya keles.”
“Ha ha ha, semangat anak muda!"
"Btw, kenapa kemarin kamu bilang ke pak Masri kalau kamu hanya di kelas saja. Padahal kemarin kamu sempat ke mushallah."
"Supaya pak Masri tidak menuduh kamu yang mengambil uang Ekki."
"Thanks a lot yah Jul. Kamu baik banget."
"Don't mention it, kita kan bersahabat. Harus saling membantu."
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1