My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Tipe Sapiophile Girl


__ADS_3

“Aduh guys saya ke toilet dulu yah. Kebelet ni,” ucap Nisa.


“Percuma Zul kamu comblangin Nisa sama sepupunya kak Erna itu,” ucap Juliana.


“Kok percuma sih?” tanya Zulfitri keheranan.


“Nisa tuh tipe sapiophile girl. Jadi cowok kayak sepupu kak Erna itu, siapa namanya?”


“Syam, Jul.”


“Iya. Cowok kayak Syam itu bukan tipe Nisa banget.”


“Sapiophile girl itu apa sih?” tanya Zulfitri. Ia benar-benar belum tahu istilah itu.


“Sapiophile girl itu tipe cewek yang memiliki ketertarikan terhadap lelaki yang dianggap cerdas.”


“Harus berpendidikan tinggi dong kalau gitu."


“Ya nggak gitu juga Zul. Kecerdasan itu tidak hanya diukur dari tingkatan pendidikan saja. Banyak kok yang sarjana tapi minim pengetahuan. Ada juga yang tidak sarjana tapi pengetahuannya luas. Tergantung orangnya sih mau belajar atau tidak.”


“Berarti Nisa memang cocoknya sama Ridwan. Ridwan tuh keren banget tau, wawasannya luuuaaass banget. Dia tuh diajak bahas apa saja pasti nyambung,” tambah Fina.


“Iya. Benar banget.” Saleha menyetujui ucapan Fina tadi.

__ADS_1


“Cinta ternyata serumit itu ya. Apalah dayaku yang kosong (mengangkat tangan kanan), kosong (mengangkat tangan kiri), kosong (menyatukan kedua tangan di dada).” Aida mengikuti gaya sulap Pak Tarno yang mengisyaratkan hati yang kosong.


“Apalah dayaku yang kosong (mengangkat tangan kanan), kosong (mengangkat tangan kiri), kosong (memegang saku baju).” Dania mengisyaratkan saku yang kosong.


“Apalah dayaku yang kosong (mengangkat tangan kanan), kosong (mengangkat tangan kiri), kosong (menyentuh kepala).” Zulfitri mengisyaratkan otak yang kosong.


“Candaanmu Zul,” Saleha menggerutu menegur sahabatnya itu.


“Iya nih, sayang banget kalau udah cantik gini. Muka udah kayak Ratu Salome tapi gesrek. Naudzubillah, jangan bercanda seperti itu lagi Zul!” tegur Fina tegas.


“Kalian bahas apa sih? Asyik banget kelihatannya?” tanya Nisa yang sudah kembali dari toilet.


“Masih yang tadi. Menurut kamu orangnya gimana Sa?” tanya Zulfitri.


“Aduh kamu tuh Nisa, jangan menilai buku dari sampulnya saja!” tegur Juliana.


“Tapi kebanyakan orang memang menilai buku dari sampulnya Jul. Pakaian kan juga bisa dijadikan tolok ukur atas ketaatan seseorang. Kalau bajunya di dalam kayak Ridwan berarti orangnya sopan. Taat pada aturan sekolah.”


Belum selesai Nisa menjelaskan, bu Hasna sudah datang duluan menghampiri mereka. Segera mereka ke rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, para pembina organisasi meminta siswa untuk menghentikan aktivitasnya. Uang yang telah dikumpulkan masing-masing organisasi disatukan dalam satu box besar. Siswa juga sudah dibolehkan pulang.


Setelah mandi, Nisa membaringkan punggungnya di atas ranjang. Rasa lelah membuatnya ketiduran.

__ADS_1


“Sa bangun!” ucap Pak Ayyas saat melihat istrinya itu masih tidur sementara adzan magrib sedang dikumandangkan.


“Ada apa pak?” tanya Nisa sedikit lemas.


“Bangun! Salat magrib dulu.”


“Saya lagi menstruasi pak.”


“Tapi tidak boleh tidur di waktu setelah magrib hingga memasuki isya Nisa.”


Setelah Pak Ayyas ke mesjid untuk salat magrib, Nisa lalu duduk. Membuka gawai, lalu scroll di WA. Ia membuka chat yang belum ia baca di grup Kemah Bersama itu.


Beberapa foto kegiatan penggalangan dana berseliweran di grup. Hal yang paling mengusik matanya adalah foto-foto yang menunjukkan kedekatan Pak Ayyas dan Bu Susan.


“Seragam yang sama, pekerjaan yang sama, tempat kerja yang sama, jurusan yang sama, dan juga perasaan yang sama.”


Ucapan itu Nisa lontarkan setelah melihat foto-foto tadi.


“Rumah yang sama, buku nikah yang sama, dan perasaan yang tidak sama.”


Nisa hanya bisa tersenyum pahit saat mengingat nasib pernikahannya dengan pak Ayyas.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2