
“Apa kabar?” tanya Pak Ayyas pada Nisa di dalam mobil. “Alhamdulillah, sangat baik.”
“Kamu merasa sangat baik selama sepekan tak bersama suamimu?” tanya Pak Ayyas lagi. “Seperti yang bapak lihat. Saya sangat baik,” jawab Nisa santai.
“Sampai,” ucap Pak Ayyas lalu keluar dari mobil. Bersama-sama mereka memasuki rumah.
“Kata ibu si Bear bisa mengurus dirinya sendiri karena sudah terbiasa menjadi anak kost. Rumah malah berantakan gini,” batin Nisa tatkala memasuki rumah.
“Tapi kamar bersih. Apa mungkin karena kamar ukurannya kecil kayak kost-an, jadi si Bear bisa bersihin. Kangen juga aku sama kamar ini.” Nisa kembali membatin.
“Periksa sekarang!” Pak Ayyas meletakkan buku tugas siswa kelas XII IPS 3 di hadapan Nisa. “Cuman ini pak?” tanya Nisa.
“Kamu mau periksa banyak-banyak?” tanya Pak Ayyas. “Tidak, bukan begitu pak. Tapi bapak kan ngeluh ke mama kewalahan memeriksa tugas yang sangat banyak. Ini mah cuman sedikit pak,” ucap Nisa. Ia merasa dibohongi Pak Ayyas.
“Yang lain sudah saya periksa. Sisa tugas dari kelas XII IPS 3 yang belum. Sudah, kamu jangan banyak bicara! Periksa sekarang jika tidak mau tidur larut malam!”
“Kalau saya tidur larut malam, bapak juga dong. Masa’ iya saya periksa tugas. Bapak enak-enakan mau tidur duluan,” protes Nisa.
__ADS_1
“Tenang saja istriku sayang. Saya akan menemani kamu memeriksa tugas. Kamu periksalah tugasnya, saya mau refresh otak dulu. Baca novel kamu, My Teacher My Mate.”
“Iyuh, sayang, sayang. Simpan saja kata sayang itu untuk Bu Susan. Saya tidak butuh,” ucap Nisa kesal.
Nisa mulai memeriksa tugas agama kelas XII IPS 3. Pak Ayyas yang katanya mau membaca novel, diam-diam justru memperhatikan Nisa memeriksa tugas.
“Kenapa berhenti? Belum selesai semua itu,” tegur Pak Ayyas. “Mau buang pulpen dulu pak!” balas Nisa singkat.
“Loh kok dibuang? Tintanya habis?” tanya Pak Ayyas keheranan. Baru tadi pagi ia membeli pulpen yang dipakai Nisa. “Nggak pak. Pulpennya macet tapi.”
“Kok dibuang sih? Kan masih bisa diperbaiki Nisa,” protes Pak Ayyas. “Tidak semua hal bisa diperbaiki pak.”
“Jangan memaksakan memperbaiki sesuatu yang memang sudah tidak bisa diperbaiki pak,” ujar Nisa.
“Siapa bilang tidak bisa diperbaiki? Coba pakai lagi!” Pak Ayyas mengembalikan pulpen tadi ke Nisa.
Nisa melanjutkan memeriksa tugas menggunakan pulpen yang baru saja diperbaiki Pak Ayyas. Percekcokan mereka barusan membuat Pak Ayyas ingin sekali menjelaskan ke Nisa atas semua kesalahpahaman pekan lalu. Tapi ia takut hubungannya dengan Nisa malah akan semakin memburuk. Ia akhirnya memutuskan untuk diam saja.
__ADS_1
Terkadang diam memang solusi yang paling tepat dalam menghadapi masalah. Meski seringkali bersikap diam malah membuat seseorang menyesal karena tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena seringkali fakta bekerja lebih lamban daripada asumsi yang buruk. Sehingga hal yang tadinya positif menjadi negatif karena ego yang tak mampu diredam.
Ego dalam menghakimi orang lain secara sepihak. Ego tak membiarkan orang lain melakukan pembelaan. Ego selalu merasa diri sendirilah yang paling benar. Ego merasa paling tahu tentang sikap orang lain. Sehingga merasa tak perlu lagi mendengarkan penjelasan orang lain.
Padahal, di balik diam ada kejujuran yang tak mampu disuarakan. Di balik diam, ada kebenaran yang meronta-ronta untuk didengarkan. Di balik diam, ada rasa yang tak mampu dilisankan.
Begitulah yang saat ini dirasakan oleh Pak Ayyas dan Nisa. Pak Ayyas yang tak mampu untuk mengatakan kebenarannya dan Nisa yang egonya terlalu besar tak membiarkan Pak Ayyas untuk membela diri.
“Syam ternyata anak IPS 3 toh,” ucap Nisa saat mendapati buku Syam. Nisa lalu memeriksa tugas Syam.
“Ternyata Syam hebat juga ya di pelajaran agama. Bad boy alim ini mah,” puji Nisa. Ia tidak menyangka nilai agama Syam bisa setinggi itu.
“Akhir-akhir ini pemahaman agamanya memang meningkat drastis. Berbeda jauh dengan semester lalu. Sekarang dia juga jadi lebih rajin bertanya di kelas,” ungkap Pak Ayyas.
“Jangan-jangan ini anak belajar agama dengan serius karena mau dekat sama Nisa. Semester lalu kan dia belum akrab sama Nisa. Makanya belajar agama seadanya,” spekulasi Pak Ayyas dalam hati. Ia sedikit kesal dengan spekulasinya sendiri.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.” Nisa merenggangkan tangannya. Lalu mematikan lampu sebelum tidur.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak