
Sore ini tidak diadakan kegiatan belajar bersama karena para anggota OSIS sibuk mengurusi acara pentas seni nanti malam.
Siswa kelas tiga juga sibuk latihan dance dan menyiapkan pakaian untuk digunakan tampil dance modern dan dance mancanegara nanti malam.
Sementara Nisa dan Juliana tidak sibuk sama sekali, mereka berdua hanya akan membaca doa yang teksnya sudah disediakan oleh panitia pentas seni.
Kali ini Nisa mampir terlebih dahulu di rumah Juliana, menemaninya untuk mengganti pakaian sekolah.
“Saya mandi dulu ya Sa.”
“Entar aja Jul di rumah. Kita ke sekolah kan setelah shalat isya. Kalau kamu mandi sekarang, sempat keringatan lagi dong.”
“Ok, kalau makan?” tanya Juliana pada Nisa setelah mengganti seragam sekolahnya.
“Nggak usah juga Jul. Kita makan di rumah juga. Banyak stock makanan di kulkas, banyak indomie juga kalau mau makan mie. Sepupumu itu royal beut.”
“Ih, bikin iri muluk deh. Enak banget kayaknya jadi istri. Ada suami yang ngebiayain.”
“Kamu nggak tau aja Jul gimana repotnya jadi istri. Apalagi kalau suami punya mantan yang nggak bisa dilupain kayak Bu Susan. Bayangin aja rasanya gimana, saat suami kamu nggak cinta sama kamu dan malah cinta ke perempuan lain. Rasanya . . . ah, sudahlah.”
“Aduh mama sayang e, sakit beut pastinya. Yang sabar ya Sa! Suatu saat Pak Ayyas pasti bakal menyesal telah menyia-nyiakan kamu.”
“Apa? Menyesal? Kayak judul lagu. Ha ha ha, nggak bakal lah Jul dia menyesal. Saya sama Bu Susan kalau dibandingin, nggak ada apa-apanya Jul. Gak bakal lah si Bear nyesal. Dia mungkin akan menyesal, tapi menyesal tidak cepat-cepat menceraikan saya. Ha ha ha.”
“Tuh kan mulai lagi deh insecurenya. Banyakin bersyukur gih!”
“Ngobrol terus kita, cepat masukin baju yang mau kamu pakai nanti malam. I am starving tau Jul.”
“Salah sendiri, sudah diajak makan tapi nggak mau. Lapar kan jadinya.”
Setelah Juliana mengganti pakaian sekolahnya, mereka langsung ke rumah Nisa.
“Mau makan apa Jul?” tanya Nisa pada Juliana. “Kita makan mie aja Sa. Telurnya dua, sosisnya banyakin ya. He he he, mumpung gratis.”
“Telurnya mau yang matang atau yang setengah matang?” tanya Nisa sembari menggenggam telur mentah.
__ADS_1
“Yang matang dong. Aku tuh beda tau sama mama kamu yang suka beut makan telur setengah matang.”
“Ok. Sosisnya ambil sendiri aja ya Jul,” ucap Nisa. “Where did you put it?”
“Beside you Jul. Kalau tu sosis ular, sudah dari tadi kamu dipatuk Jul.” Nisa menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah Juliana.
Nisa kemudian meletakkan dua mangkok mie panas di depan Juliana.
“Oi Annisa Cantik Jelita Putri. Saya makannya cuman seporsi. Malah disediain dua mangkok gini.”
“Siapa juga yang suruh kamu makan keduanya. Racikin punyaku juga Jul. Kuah racikanmu kan selalu lebih enak daripada racikanku.”
“Siap mbak sis. Btw, ada kerupuk nggak Sa?” tanya Juliana setelah meracik mie. “Ada dong jul.”
“Mana?” tanya Juliana cepat. “Di dalam kaleng biskuit.”
“Yaelah Sa kena prank aku tuh. Kaleng biskuit Khong Guan bukannya berisi biskuit malah berisi kerupuk, ha ha ha.”
“Ini kamu mau makan atau mau ketawa?” tanya Nisa sewot.
“Makan lah ha ha ha. Btw, Pak Ayyas nggak kamu buatin Sa?”
Setelah shalat isya mereka berangkat ke sekolah. Panitia pentas seni memberikan teks bacaan doa ke Nisa dan Juliana. Setelah tampil Juliana dan Nisa kembali ke tempat duduk tadi. Tapi di sana sudah tidak ada Pak Ayyas.
“Saleha, Pak Ayyas kemana ya?” tanya Juliana. “Pak Ayyas mengantar Bu Susan ke Rumah Sakit tadi. Tiba-tiba gerdnya Bu Susan kambuh.”
“Dari semua orang yang ada di sini, kenapa harus dia sih yang ngantar? Sumpah, ini si Bear maunya apa sih? Katanya yang istrinya itu saya bukan Bu Susan. Terus kenapa sekarang dia perhatian lagi ke Bu Susan? Apa semudah itu dia memainkan kata-kata? Cukup Bear, kali ini saya benar-benar muak. Saya menyerah untuk mempertahankan pernikahan ini lagi.” Nisa membatin sedih.
Juliana menarik tangan Nisa, ia membawa Nisa menjauhi panggung pentas.
“Kita pulangnya gimana Sa?” tanya Juliana mulai khawatir.
“Kita tunggu si Bear aja Jul. Nggak mungkin kan dia nggak balik.” Nisa berusaha menenangkan Juliana.
Malam kini semakin larut, pentas seni juga sudah mau berakhir. Tapi Pak Ayyas tak kunjung datang juga.
__ADS_1
“Sudah tengah malam, kenapa kalian belum pulang juga?” tanya Syam saat melihat Nisa dan Juliana ternyata masih berada di sekolah.
“Kita lagi nungguin Pak Ayyas,” sahut Juliana.
“Pak Ayyas bakal datang tidak?” tanya Syam lagi.
“Entahlah Syam, sudah dari tadi kami menunggu. Tapi Pak Ayyas belum datang juga.”
“Saya temani kalian menunggu ya, kalau Pak Ayyas tidak datang biar saya saja yang antar kalian pulang.”
Nisa mengangguk setuju dengan tawaran Syam. Sejam berlalu, Pak Ayyas tak kunjung datang. Syam akhirnya memutuskan untuk mengantar Nisa dan Juliana pulang.
Malam ini Juliana nginap di rumah Nisa. Ia yang kelelahan menunggu Pak Ayyas di sekolah tadi langsung tidur dengan nyenyak. Sementara Nisa, ia tidak bisa tidur. Pikirannya tidak bisa tenang memikirkan Pak Ayyas.
Di pagi hari sebelum jam enam pagi, Juliana pamit pulang ke Nisa. Tak lama setelah Juliana pergi, Pak Ayyas pun datang. Nisa enggan untuk menyambutnya.
“Ini baru jam enam, kamu sudah mau ke sekolah?” tanya Pak Ayyas pada Nisa yang sudah siap memakai sepatu.
“Sudah kuduga, si Bear pasti tidak merasa bersalah sama sekali. Sudah terlalu sering dia begini. Kalau saya ngambek, pasti ujung-ujungnya malah saya yang akan disalahkan. Tidak bersikap dewasa lah, ngambekan lah. Padahal yang salah kan dia, bukan saya.” Nisa membatin jengkel.
“Iya,” jawab Nisa ketus.
“Kamu marah lagi?” tanya Pak Ayyas seolah tak terjadi apa-apa tadi malam.
Nisa hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Pak Ayyas. Ia berdiri setelah memakai sepatu. Pak Ayyas lalu menarik tangan Nisa.
“Apa lagi sih pak? Makanan sudah saya siapkan. Baju bapak juga sudah saya setrika,” ucap Nisa dengan penuh kekesalan.
“Tunggu! Saya mandi dulu, terus makan, nanti kita barengan ke sekolah.”
“Tidak perlu repot-repot pak. Saya bisa sendiri kok. Antar Bu Susan saja, jangan lupa beliin dia makanan. Supaya gerdnya nggak kambuh lagi,”
ujar Nisa dengan intonasi sedikit meninggi.
“Bisa tidak kamu bersikap dewasa sedikit saja? Setiap kali ada masalah, kamu selalu saja marah-marah tidak jelas. Saya muak dengan sikap kamu yang terlalu manja Nisa.”
__ADS_1
“Terserah bapak, I don’t care. Asal bapak tau, saya juga muak dengan sikap bapak dan Bu Susan. Sekalian saja bapak nikahi Bu Susan yang mandiri itu.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak