
“Bukannya kamu mau menurunkan BB ya?” tanya Pak Ayyas setelah meletakkan Al-Qur’an yang baru saja ia baca. Pakaian shalatnya juga ia ganti ke pakaian biasa.
“Iya mau, kenapa pak?” Nisa memfokuskan netra dan rungunya pada Pak Ayyas.
“Sebagai suami yang baik, saya akan membantu kamu untuk menurunkan BBmu. Mulai detik ini, semua urusanmu menjadi urusanku juga.” Terlihat jelas dari sikapnya kalau Pak Ayyas mulai memanjakan istrinya itu.
“Caranya?” tanya Nisa penasaran.
“Dengan menemani kamu berolahraga minimal tiga puluh menit setiap hari. Kamu harus rajin berolahraga jika menginginkan BBmu turun. Saya akan menemani kamu supaya kamu semangat olahraganya.”
“Bagaimana mau olahraga pak, dari tadi subuh sampai sekarang hujan terus.”
“Gampang kok, saya punya solusinya. Kamu bisa berolahraga tanpa keluar rumah. Bahkan tanpa keluar dari kamar tidur ini.”
“Hah? Ada-ada saja bapak ini. Olahraga apa memangnya?”
“Kata guru-guru perempuan di sekolah kalau mereka sedang malas keluar rumah, mereka akan melakukan senam aerobik di dalam rumah saja sebagai penggantinya. Kayak ini nih contohnya.” Pak Ayyas memperlihatkan contoh senam aerobik pada Nisa.
“Ya ampun pak. Seksi sekali,” ucap Nisa sembari menepuk jidatnya.
“Makanya dilakukan di dalam rumah supaya tidak dilihat orang lain. Ayo sini kita senam bersama,” bujuk Pak Ayyas.
“Bapak mau ikutan senam aerobik juga? Ha ha nanti kelihatan kayak banci pak,” ledek Nisa.
“Bodo amat lah mau seperti banci atau sejenisnya. Yang penting itu sekarang kamu harus hati-hati kalau beli jus buah!”
“What? Kenapa memangnya?” Nisa bertanya dengan ekspresi serius.
“Ada info kalau ada satu jenis cairan namanya Vegetable Glycerin yang dimasukkan ke dalam campuran jus buah sebagai penambah rasa. Vegetable Glycerin ini berasal dari Cina, dibuat dari sepohon kayu. Daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya. Ha ha serius banget dengernya Sa.”
__ADS_1
Pak Ayyas tertawa terbahak-bahak karena berhasil menjahili Nisa. Entah kenapa, muka cemberut Nisa seperti candu baginya. Semakin Nisa cemberut, maka semakin puaslah ia tertawa.
“Niat sekali bapak menjahili saya. Untung saja bapak menggemaskan kalau sedang tertawa begitu.”
***
Pak Ayyas benar-benar membantu Nisa untuk menurunkan BBnya dengan menemaninya senam aerobik. Mereka berdua mengikuti gerakan senam aerobik yang mereka tonton bersama hingga tiga puluh menit. Sesekali Nisa tertawa melihat Pak Ayyas melakukan gerakan senam aerobik. Gerakan senam yang melambai benar-benar tidak cocok dengan badan kekarnya.
“Jam berapa kita ke cafe?” tanya Pak Ayyas setelahnya.
“Jam delapan pak.” Nisa mengelap keringatnya yang bercucuran setelah senam.
“Gawat. Ini sudah jam tujuh lewat. Kita harus cepat-cepat mandi. Mandi bersama saja ya supaya cepat,” ucap Pak Ayyas setelah melihat jam dinding yang tertempel di kamarnya.
“Mandi bersama? Saya malu pak,” balas Nisa.
“Malu? Ha ha lucu sekali kamu ini. Saya kan sudah melihat semuanya sayang. Jadi tidak perlu malu lagi di hadapan saya. Diriwayatkan dalam Hadist Riwayat Bukhari nomor 316, Muslim nomor 321. Aisyah berkata: Aku dan Rasulullah mandi bersama dalam satu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub. Rasulullah melakukan ini karena bisa menimbulkan rasa kasih sayang antara suami dengan istri. Sebaiknya kita juga melakukannya supaya In Syaa Allah selalu menimbulkan rasa kasih sayang di antara kita.”
Setelah mandi bersama, mereka melaksanakan shalat dhuha bersama. Beberapa menit kemudian, Pak Ayyas melajukan mobilnya ke cafe yang telah Nisa dan sahabat-sahabatnya sepakati sebagai tempat reuni. Setelah enam bulan kelulusan SMA, akhirnya mereka memutuskan untuk reuni di cafe itu.
Sahabat-sahabat Nisa tampak berbincang-bincang saat sedang menunggu Nisa dan Saleha datang. Seketika mereka yang tak tahu akan hubungan Nisa dan Pak Ayyas terperanjat melihat mereka datang dengan bergandengan tangan.
“Sudah tidak ada harapan, ternyata mereka sudah saling mencintai.” Syam bermonolog dalam hati.
Sudah enam bulan ia tak bertemu dengan Nisa. Tapi rasa cintanya pada Nisa masih tetap sama seperti dulu. Hari ini hingga seterusnya, ia harus mengubur dalam-dalam perasaan cintanya itu.
“Nisa, kenapa kamu pegangan tangan dengan Pak Ayyas? Bukannya bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahram itu haram ya?” tanya Fina keheranan.
“Sebenarnya kamu dan Pak Ayyas ada hubungan apa Sa?” tanya Zulfitri tak kalah herannya.
__ADS_1
“Sebenarnya Nisa dan Pak Ayyas itu suami istri guys. Kalian saja yang belum tahu, ha ha.” Juliana menjawab pertanyaan mereka berdua.
“Suami istri? Kapan nikahnya?” tanya Fina seolah tak percaya pada kata-kata Juliana barusan.
Tapi juga terlintas di benaknya tidak mungkin Nisa dan Pak Ayyas berani berpegangan tangan kalau belum terikat hubungan yang halal.
“Jelasin dong Sa! Jangan bikin kita penasaran ni,” rengek Aida.
“Nanti saja guys kalau Saleha sudah datang. Yakali saya jelaskan dua kali.”
Nisa dan Pak Ayyas lalu duduk. Setelah beberapa menit menunggu, Saleha akhirnya datang juga.
“Alhamdulillah, akhirnya Saleha datang juga.” Zulfitri merasa sangat senang dengan kedatangan Saleha.
“Darimana aja bu?” canda Dania pada Saleha.
“He he sorry telat guys. Jakarta macet soalnya,” balas Saleha.
“Bisa aja candaannya. Tinggalnya di Pinrang, bahasnya Jakarta ha ha. Sudah dari tadi loh kami nungguin kamu. Cepat duduk!” pinta Dania.
“Mohon maaf sebelumnya, bukannya ini reunian kita-kita ya? Kenapa ada Pak Ayyas?” Seperti sahabat Nisa yang lain, Saleha juga kebingungan dengan keberadaan Pak Ayyas.
“Pak Ayyas is my husband. Tunjukin cincin nikah kita dong pak!” pinta Nisa pada Pak Ayyas. Tak lupa jug a Nisa memperlihatkan cincin kawin di jari manisnya pada sahabat-sahabatnya.
Pak Ayyas juga memperlihatkan punggung tangannya. Sebuah cincin perak melingkar erat di jarinya. Cincin yang bentuknya sama persis dengan milik Nisa. Perbedaannya hanya pada bahannya, karena cincin Nisa terbuat dari emas.
Sahabat Nisa kembali tercengang, kecuali Juliana, Ridwan, dan Syam. Hal ini mengusik netra Aida. Tanpa pikir panjang Aida langsung menegur mereka.
“Ekspresi kalian biasa saja. Jangan-jangan kalian bertiga sudah tahu ya,” ucap Aida dengan melirik ke arah Juliana, Ridwan, dan Syam.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak