
Setelah puas melihat-lihat isi museum, siswa diperbolehkan untuk keluar. Sembari menunggu konsumsi dibagikan, beberapa siswa menggunakan kesempatan itu untuk berfoto di sekitaran Benteng Rotterdam.
“Sa, nanti mau beli buku gak? Buku di Gramedia murah-murah loh.”
“Bukannya setelah ini langsung pulang ya Jul?”
“No, Sa. Agendanya itu nginap di Baruga Somba Opu, mengunjungi Benteng ini, jalan-jalan ke Mall Panakkukang, mampir di toko roti, and busnya bakal stop di sekolah.”
“Oh gitu ya. Kalau begitu temani saya ketemu Pak Ayyas dong Jul. Saya juga mau beli buku. Tapi lupa minta uang. Kalau sendiri, terus dilihat teman yang lain bisa berabe nantinya.”
“Tenang aja Sa, I will accompany you.”
“Kamu memang yang terbaik Jul,” puji Nisa diiringi senyum merah jambu nya.
“Tapi sejak kapan kamu jadi semangat beli buku gini? Bukannya kamu malas membaca ya?” ledek Juliana.
“Iya Jul, malas membaca buku pelajaran. Di Gramed kan banyak buku yang menarik, novel misalnya. Kalau ada yang menarik hati, saya mau beli juga.”
“Saya chat Pak Ayyas dulu ya.” Nisa mulai mengetik di WA.
“Pak, saya butuh uang 300 ribu persiapan untuk beli buku”
__ADS_1
“Saya tunggu di toilet ya pak”
“Ok. Saya ke toilet sekarang,” balas Pak Ayyas.
Dengan ditemani Juliana, Nisa melangkahkan kaki ke toilet yang berada tak jauh dari tempat dia nongkrong bersama Juliana.
Untung saja yang lain sibuk selfie, jadi tak ada yang memperhatikan mereka. Segera Pak Ayyas mengeluarkan 3 lembar uang merah dari dompetnya. Setelah memberikan uang ke Nisa, ia bergegas ke mushallah yang berada di sekitar Benteng Rotterdam untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Sementara Nisa dan Juliana yang sedang menstruasi menunggu di luar.
“Sa, lihat deh!” pinta Juliana.
Nisa lalu melirik ke arah tempat wudhu sesuai yang Juliana arahkan.
“Aduh, kamu itu ya Nisa. Jaman sekarang, banyak banget tau lelaki yang ninggalin shalat. Tuh buktinya!” tunjuk Juliana pada beberapa siswa lelaki muslim yang masih berkeliaran. Padahal imam shalat sudah melakukan takbir.
“Semoga jodoh kita nanti adalah lelaki yang taat agama ya Jul, aamiin.” Juliana ikut mengaminkan ucapan Nisa.
“Eh, maksud kamu apa Sa? Kamu kan sudah menikah.” Juliana sampai tersentak setelah menelaah kembali ucapan Nisa.
“Kamu kayak nggak tau aja Jul. Kan sudah lihat sendiri faktanya bagaimana. Yang istri siapa, yang diperhatiin siapa. Dia belum tentu jodoh saya Jul. Suatu hari saat dia sudah muak dengan drama pernikahan ini, dia bisa saja menceraikan saya.” Lagi-lagi rona kesedihan terpancar jelas di wajah Nisa.
__ADS_1
“Kamu yang sabar yah Sa. Kalaupun bukan Pak Ayyas, Allah pasti akan memberikan lelaki yang baik-baik untuk kamu. Allah sudah berfirman di surah An-Nur ayat 26 bahwa perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula.”
“Masalahnya saya tidak baik Jul.”
“Sama.”
Mereka yang tadinya bersedih seketika tertawa karena menyadari kekurangan masing-masing. Terkadang, menertawakan kekurangan sendiri memang langkah yang paling ampuh untuk mencintai diri sendiri.
Setelah shalat dzuhur, konsumsi pun dibagikan. Juliana dan Nisa makan berdampingan.
“Yah Jul sedotannya habis,” keluh Nisa saat ingin minum. “Look at me!” balas Juliana.
Nisa lalu memperhatikan Juliana baik-baik. Juliana mulai menggigit sudut air gelas yang ia genggam di tangan kanannya.
“Percaya deh Jul. Dimana pun kamu berada kamu akan selalu baik-baik saja. Soalnya kemampuan beradaptasi mu luar biasa banget Jul,” puji Nisa.
Tanpa berlama-lama Nisa mengikuti cara minum Juliana. Tingkah mereka ternyata diperhatikan oleh Syam. Syam pun tersenyum geli melihat dua perempuan konyol di hadapannya. Untung saja Nisa dan Juliana tidak menyadarinya. Mereka terlalu fokus melahap ayam goreng lalapan ala Makassar itu.
Setelah makan, mereka langsung menyimpan kotak bekas nasi tadi di kresek besar berwarna merah. Selang beberapa menit, mereka langsung berangkat ke Mall Panakkukang.
“Nisaaa,” panggil seseorang di parkiran mall.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak