My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 54


__ADS_3

Subuh kembali menyapa. Setelah shalat subuh, Nisa dan Pak Ayyas meluangkan waktu untuk membaca beberapa lembar ayat Al-Qur’an.


“Pak, ngapain sih bawa Al-Qur’an di jam mapel agama nanti? Biasanya juga tidak,” ucap Nisa sembari meletakkan Al-Qur’annya.


“Saya mau ambil nilai baca Al-Qur’an. Oh ya, nilaimu harus jauh lebih bagus dari semester lalu. Kalau nilaimu turun, saya pasti dianggap tidak becus ngajarin kamu. Jadi, ambil kembali Al-Qur’anmu. Baca surah Ibrahim ayat 31 sampai 40. Nanti di ayat 40 kamu ulang sampai 3 kali,” suruh Pak Ayyas.


“Iya pak.” Dengan perasaan sedikit mager, Nisa mengambil kembali Al-Qur’an yang baru saja ia letakkan. Membuka surah Ibrahim, lalu membaca ayat 31 sampai 40. Nisa merasa heran pada Pak Ayyas. Setiap kali Nisa selesai membaca ayat ke 40 pak Ayyas pasti mengamini.


“Bacaanmu bagus, tajwidnya juga bagus. Sekarang kamu boleh ke dapur. Masak yang enak ya! Beberapa hari ini makanku tidak terurus karena kamu tinggal. Lihat saja, badanku jadi kurus begini. Oh ya Nisa, saya mau lima.”


Pak Ayyas tampak tersipu saat mengatakan mau lima. Ia melangkah cepat ke kamar mandi meninggalkan Nisa yang kebingungan dengan maksudnya.


“Lima? Lima apa ya? Apa dia mau makan lima piring nasi? Dia mengaminkan ayat ke 40 maksudnya apa ya?” Nisa bermonolog.


Nisa begitu penasaran dengan tingkah Pak Ayyas yang membingungkan. Dibacanya arti dari ayat ke 40 itu.


“Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku,” baca Nisa.


“Lima? Lima anak maksudnya? Ogah gua dipoligami. Meskipun poligami itu bagian dari syari’at Islam. Tapi kan gak wajib. Dasar Bear tidak tahu malu. Bu Susan sedang mengandung anaknya, tapi tetap saja dia menggodaku. Laki-laki lucknut.”


Setelah puas mengutuk Pak Ayyas, Nisa berjalan ke dapur. Tiba-tiba ia senyum-senyum sendiri melihat cabai rawit.


“Terima kasih otakku. Kau selalu punya ide brilliant.”

__ADS_1


Nisa mulai meracik bumbu untuk telur ceplok yang akan ia sajikan untuk Pak Ayyas.


“Senjata utama meluncur sayang,” ucap Nisa saat memasukkan banyak cabai rawit halus ke telur.


“Ha ha ha. Rasakan kamu Bear,” Nisa tertawa bak nenek sihir.


Semua makanan untuk sarapan telah ia siapkan. Ia lalu mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah.


Terlihat Pak Ayyas sudah di meja makan, menunggu Nisa untuk sarapan. Senyumnya tampak begitu tulus. Seketika Nisa jadi merasa tidak tega untuk mengerjainya.


Selama ini Pak Ayyas memang selalu membuatnya sakit hati. Tapi Pak Ayyas tak pernah sedikit pun melukai fisiknya.


“Jangan dimakan pak!” cegah Nisa saat melihat Pak Ayyas akan melahap telur ceplok buatannya.


“Saya lagi lapar banget pak. Saya saja yah yang makan semua telur ini.” Nisa buru-buru mengambil telur ceploknya agar tidak dilahap Pak Ayyas.


“Apa kau mencintaiku?” tanya Pak Ayyas tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Nisa terbelalak seketika.


“Hah?” pekik Nisa.


“Saya sudah mencobanya Nisa,” ucap Pak Ayyas santai. “Maaf pak,” Nisa tertunduk lesu.


“Lupakan saja! Makanlah cepat, sudah mau jam tujuh ini.”

__ADS_1


Pak Ayyas meminggirkan telur ceplok tadi. Tak membiarkan Nisa untuk memakannya.


Akhir-akhir ini, Pak Ayyas selalu bersikap manis ke Nisa. Sikap dewasa Pak Ayyas barusan membuat Nisa kagum. Tapi tetap saja, ia tidak akan bersikap seperti dulu lagi kepada Pak Ayyas. Baginya, semua kesalahan yang ia lakukan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengkhianatan Pak Ayyas.


Mereka kini tiba di sekolah. Nisa langsung ke kelas untuk menyimpan tas. Lalu ke lapangan untuk mengikuti apel pagi.


Pak Ayyas memasuki kelas. Setelah mengabsen siswa, ia membuka pelajaran.


“Naikkan Al-Qur’an kalian!” Siswa lalu meletakkan Al-Qur’an mereka di atas meja.


“Buka surah Ibrahim ayat 31!” Pak Ayyas menunjuk siswa untuk membaca 1 ayat. Begitu seterusnya hingga kelas selesai.


Pak Ayyas meminta Nisa untuk membaca ayat ke 40. “Baca sampai tiga kali ya Nisa! Yang lain aminkan!” pinta Pak Ayyas.


Tiap kali Nisa selesai membaca ayat ke 40, siswa yang lain mengaminkan sesuai perintah Pak Ayyas.


“Jadi ayat ini adalah permohonan kepada Allah agar diberikan keturunan yang sholeh. Setelah berumah tangga nanti sering-seringlah membaca surah ini jika kalian menginginkan anak yang sholeh,” ucap Pak Ayyas sembari tersenyum ke arah Nisa.


Entah kenapa Nisa merasa tatapan Pak Ayyas begitu dalam. Seolah terpancar rasa cinta yang begitu besar di bola mata Pak Ayyas. Tapi bukan Nisa namanya, jika tidak melawan perasaannya sendiri.


“Dia sudah punya anak dari perempuan lain Nisa. Itu berarti dia tidak mencintaimu. Jadi bersikaplah biasa saja!” batinnya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2