
Bell istirahat berbunyi, Nisa hanya diam di kelas. Padahal sahabat-sahabatnya sudah berhamburan ke kantin. Mereka sebenarnya sudah mengajak Nisa, tapi Nisa lebih memilih berdiam diri di kelas dengan alasan kurang enak badan. Ia duduk di kursi dengan membaringkan kepalanya di atas meja.
“Nisaaa, I miss you so bad.” Nisa langsung berbalik mendengar suara yang tak asing itu.
“Juuull, miss you too.” Mereka kini saling berpelukan. Seperti seorang tentara yang baru saja pulang tugas bertemu dengan istrinya.
“Turut berduka cita ya atas kepergian ayahmu. Maaf karena tidak bisa menemani kamu di saat-saat terpurukmu,” ucap Juliana sedih.
“Nggak apa-apa Jul. Kamu kan di Pare ikut lomba, ya wajarlah kamu tidak datang. Btw gimana lombanya?”
“Nggak menang Sa. Saingan dari kabupaten-kabupaten lain jauh lebih hebat,” jawab Juliana. Tak ada rona kesedihan di wajahnya.
“You look so fine Jul. Kayak nggak sedih sama sekali,” ucap Nisa.
“Kenapa harus sedih Sa? Itu kan bukan hal yang menyedihkan?”
“Kalau aku sih bakal sedih Jul kalau ikut lomba terus nggak dapat juara. Rasanya tuh ambyar tau.”
“Tergantung niatnya sih Sa. Kamu kan ikut lomba untuk menang. But me, ikut lomba untuk dapat pengalaman. Menang, alhamdulillah. Nggak menang, I am still okay.”
“Lu tuh ya Jul, emang dari dulu sedewasa ini. Berasa lagi ngomong sama orang tua kalau ngomong sama kamu,” puji Nisa.
“Ha ha ha, berbanggalah kamu memiliki sahabat sepertiku. Krik Krik. Btw, yang lain mana Sa?”
“Mereka ke kantin Jul. Btw, enak banget ya jadi lu Jul. Datang seenaknya gini. Nggak ikut apel, nggak ikut jam pertama juga. Wuuuu,” ledek Nisa.
“Hellooo, gue telat karena kerja PR Sa. Sampai di rumah kan malam, auto istirahat dong. Kalau lagi capek, mana bisa konsentrasi ngerjain PR. Bisa-bisa jawabannya salah semua lagi. Sebenarnya Kepsek ngebolehin gue nggak ke sekolah hari ini. Masuk hari Senin saja katanya. Tapi karena gue rindu banget sama you, ya gue bela-belain lah datang ke sekolah hari ini. Meski telat sih. Tapi sampai di kelas, muka lu malah kusut gitu. Ada masalah apa sih Sa?”
“Biasa Jul. Masih seputar beruang jantan dan singa betina,” jawab Nisa.
“Hadeh, mereka lagi toh. Buang aja deh mereka ke laut!”
__ADS_1
“Beruang dan singa dibuang ke laut auto jadi beruang kutub . . .”
“Dan singa laut. Ha ha ha.” Juliana menyambung ucapan Nisa.
Mereka jadi terkekeh bersama. Dua sahabat ini memang seringkali sefrekuensi dalam banyak hal.
“Jul!” tutur Nisa.
“Apa Sa?” tanya Juliana penasaran.
“Kamu tuh kayak nggak pernah ada beban ya? Bawaannya kelihatan bahagia terus. Bagaimana sih cara kamu menghadapi masalah supaya nggak jadi beban gitu?”
“Kalau masalah ada di depan, saya menghadap ke depan. Kalau masalah ada di belakang, saya menghadap ke belakang. Gitu Sa!”
“Jul, I am serious tauuu.” Nisa memanyunkan bibir.
“He he, kamu sih apa-apa diseriusin. Emang iya kan Sa, kuncinya itu hadapi! Kalau misalkan masalah ada di depan, terus kamu balik ke belakang itu namanya kamu menghindari masalah. Kalau masalah terus kamu hindari, masalahnya akan menumpuk. Hingga berpengaruh pada pikiran dan perasaan kamu. Jadinya kamu keseringan bad mood kayak gini. Karena masalahnya terus kamu pendam. So now, cerita ke gue ada apa lagi dengan mereka berdua?”
“Astaghfirullah. Nggak mungkin Sa,” bantah Juliana.
“Ada buktinya Jul.” Dengan cepat Nisa membuka chat Bu Susan yang mengiriminya foto testpack. Diperlihatkannya chat itu ke Juliana.
“We should ask them about this!” saran Juliana.
“Sudah Jul, as usual pak Ayyas nggak mau ngaku.”
“Kalau bu Susan?” tanya Juliana lagi.
“Saya masih waras Jul. Ya kali saya tanya ke Bu Susan dia lagi hamil anak Pak Ayyas atau nggak. Mereka kan bukan suami istri. Ya pasti tersinggung lah Bu Susan kalau ditanya gitu.”
“Itu dia jawabannya Nisa. Dia bukan istri Pak Ayyas. So, nggak mungkin dia mengandung anak Pak Ayyas. Bu Susan juga nggak mungkin hamil, dia kan belum menikah. Bisa saja kan itu hasil testpack orang lain.”
__ADS_1
“Tapi kenapa dikirim ke Pak Ayyas Jul? Seolah-olah Bu Susan minta pertanggungjawaban gitu.”
“Hanya mereka berdua yang tahu pasti kebenarannya seperti apa Sa. Kita hanya bisa menduga-duga. Dosa loh Sa suudzan ke orang lain. Gini aja deh, pernah nggak sih Pak Ayyas bohongin lu?”
“Nggak pernah Jul,” balas Nisa cepat.
“Terus kenapa lu ngeraguin dia Markonah?”
“Coz cinta bisa bikin orang buta Jul,” ucap Nisa.
“Tapi tidak untuk lelaki yang menjaga diri seperti Pak Ayyas,” bela Juliana.
“Lu nggak tau aja Jul, mereka sering chatan.” Nisa bermonolog dalam hati.
“Tuh bu Susan lewat!” tunjuk Juliana pada Bu Susan yang tengah berjalan ke kantor.
Mereka berdua langsung fokus memandangi perut bu Susan.
“Perutnya rata Sa, berarti nggak hamil.”
“Ya iyalah Jul. Usia kandungannya kan baru dua bulan. Pasti belum kentara lah.”
“Atau gini aja deh Sa. Untuk sekarang kamu jangan berasumsi apa-apa dulu. Kalau Bu Susan beneran hamil, toh lama-lama perutnya akan semakin membesar.”
“Bagaimana kalau dia menggugurkan kandungannya? Perutnya nggak bakal membesar dong Jul.”
“Bagus dong. Kamu bisa hidup bahagia dengan Pak Ayyas,” balas Juliana.
“Bagus apanya? Dosanya malah bertambah Jul kalau kandungannya digugurkan juga. Lagipula ini bukan tentang melahirkan atau digugurkan Jul. Ini tentang kesetiaan pak Ayyas terhadap pernikahan kami.”
Juliana ingin menanggapi ucapan Nisa, tapi tidak jadi. Karena siswa yang lain sudah berdatangan ke kelas.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak