My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 86


__ADS_3

“Pintunya kenapa dikunci pak?” Nisa mulai ketakutan, jangan sampai Pak Ayyas akan berbuat yang tidak-tidak padanya.


“Kemarin kamu sudah lulus. Malam ini saatnya kita beri cucu untuk orang tuaku.”


“Kita kan sudah menyepakati rencana pura-pura hamil pak. Bukan hamil beneran.” Nisa melangkah mundur karena ketakutan.


“Bukannya di matamu saya hanyalah lelaki yang suka ingkar janji? Malam ini akan saya tunjukkan ke kamu seberapa ingkar janjinya saya.” Pak Ayyas terus mendekat ke arah Nisa.


“Stop di situ pak! Jangan mendekat atau saya akan teriak yang keras,” ancam Nisa.


“Teriak saja kalau kau tidak malu pada mama,” ucap Pak Ayyas dengan begitu entengnya.


“Jangan seperti ini pak! Saya percaya bapak adalah lelaki yang baik. Yang tidak akan mengingkari janji.”


Nisa menangis ketakutan mendengar ucapan Pak Ayyas barusan.


“Sayangnya, saya sendiri tidak percaya kalau saya ini laki-laki yang baik.”


Pak Ayyas mematikan lampu. Lalu mendekat ke arah Nisa.


“Jangan mendekat pak, saya takut.” Nisa terus memohon.


“Kenapa harus takut? Kita ini kan suami istri.”


“Saya tidak mau melakukannya dengan bapak. Saya tidak cinta sama bapak.”


“Saya tidak peduli kamu cinta atau tidak kepada saya. Yang terpenting bagi saya saat ini adalah kamu harus segera hamil.”


Nisa tak tau harus berkata apa lagi untuk membuat Pak Ayyas tidak menyentuhnya. Harapan untuk kuliah di UPI serasa sirna sudah.


Untung saja Pak Ayyas tiba-tiba tertawa girang. “Ha ha ha, prank.”


“Alhamdulillah, ternyata cuman prank. Hampir copot jantung saya pak.”


“Ha ha ha, maaf yah. Sini tidur.”


Nisa lalu membaringkan tubuhnya di samping Pak Ayyas. Tak lupa ia menempatkan guling di tengah-tengah mereka.


“Bukannya cuman prank yah? Terus kenapa bapak mau peluk saya?” tanya Nisa saat Pak Ayyas memindahkan gulingnya.


“Terserah kamu sih, mau pilih opsi yang mana. Mau tetap seperti ini atau seperti tadi.”


“Seperti ini saja pak,” jawab Nisa cepat sebelum Pak Ayyas berubah pikiran.


“Pak Ayyas tidak bisa dibiarkan. Awalnya mungkin cuman peluk. Besok-besok bisa saja dia minta yang lebih,” batin Nisa.


Pak Ayyas memeluk Nisa hangat. Sudah lama ia tidak tidur dengan istrinya itu. Terlintas di otaknya untuk melakukan hal yang lebih. Tapi selalu ia tahan.


“Sabar Ayyas, anak ini memang istrimu. Kamu boleh melakukan apapun terhadapnya. Tapi jika ia tidak ridho, maka jangan memaksanya. Nisa, Nisa, bukan hanya kata-katamu saja yang menyakitiku. Bahkan sikapmu yang seperti ini juga teramat menyiksaku. Bersabarlah Ayyas, akan ada saatnya kamu akan mendapatkan hakmu sebagai seorang suami,” batin Pak Ayyas.

__ADS_1


“Sudah adzan tuh pak. Bangun!” ucap Nisa sembari mengusap matanya.


“Eh sudah ke mesjid toh rupanya. Tumben, biasanya juga dibangunin. Baguslah kalau begitu.”


Nisa berdiri, kemudian mengambil air wudhu untuk shalat subuh.


“Nisa, ikut saya sekarang! Saya mau menunjukkan sesuatu ke kamu,” ucap Pak Ayyas kembalinya dari shalat subuh di mesjid. Ia tampak begitu antusias.


“Mau kemana sih pak?” tanya Nisa tidak karuan.


“Tidak usah banyak tanya, ikut saja!”


Nisa berjalan mengikuti Pak Ayyas. “Look at me!” ucap Pak Ayyas.


Ia lalu mengendarai sepeda di hadapan Nisa. Setelah beberapa meter, ia putar balik kembali ke tempat Nisa berdiri memperhatikannya.


“Wow, selamat yah pak! Akhirnya bisa juga.”


“Semua ini karena kamu juga. Sekarang ayo naik, kita keliling kompleks.”


“Bapak sendiri saja ya keliling kompleksnya, saya sedang malas pak.”


“Yah, jangan seperti itu dong Nisa. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih saya ke kamu karena pernah mengajari saya.”


“Ok. Tapi sebentar saja yah pak.”


Pak Ayyas mengiyakan ucapan Nisa. Mereka kini berboncengan mengelilingi kompleks.


“Nanti saja kita pulang. Lihat sunrise dulu Sa.”


Mereka kini duduk berdua berdampingan.


“Sekarang saya lebih suka melihat matahari daripada bulan.”


“Oh ya? Kirain bapak mau bilang sudah tidak suka melihat bulan karena yang indah di mata bapak cuman matahari,” sindir Nisa.


Mereka berdua lalu terdiam beberapa menit, menikmati indahnya sunrise.


“Balik yuk pak, pagi ini saya mau pergi vaksin bersama Juliana.”


Mendengar penjelasan Nisa, Pak Ayyas bergegas membonceng Nisa pulang.


“Keputusanku untuk kuliah di UPI sudah tepat. Di hati Bear tetap saja ada Bu Susan. Baguslah kalau begitu, saya jadi lebih fokus untuk kuliah.” Nisa membatin lega.


Mereka pamit ke ibu Pak Ayyas. Pak Ayyas langsung mengantar Nisa pulang sebelum kembali ke rumah. Rumah yang pernah mereka huni berdua selama beberapa bulan.


Sesampainya di rumah, Nisa langsung membuka WAnya. Benar saja, ada chat Juliana.


Juliana memintanya untuk ketemu di puskesmas saja. Nisa segera membalas chat Juliana dengan emoticon jempol pertanda ok.

__ADS_1


Setelah itu ia mandi, sarapan, lalu berangkat ke puskesmas. Mereka berdua bertemu di depan puskesmas. Langsung saja mereka melangkah ke tempat registrasi dengan membawa kartu vaksin pertamanya.


Satu per satu dipanggil untuk disuntik vaksin. Kini tiba giliran Nisa, seperti sebelumnya ia menghadap ke depan karena takut melihat jarum suntik. Disuntik sebenarnya tidak begitu sakit, yang mengerikan baginya adalah jarum suntiknya.


“Dosisnya agak di atas ya. Jika nanti malam merasa demam silakan minum Paracetamol. Silakan istirahat dulu! Nanti kami panggil kembali untuk mengambil kartu vaksinnya,” ucap dokter cantik di hadapannya.


“Kak Tonny sudah mencarikan kita kost yang dekat dari kampus.”


“Kostnya kost khusus untuk putri saja kan?” Nisa memastikan.


“Iya, khusus untuk putri saja.”


“Kata kak Salma banyak loh Jul kost khusus untuk putri, tapi pacar dari penghuni kost bebas keluar masuk seenaknya karena tidak dipantau oleh ibu kostnya.”


“In Syaa Allah kak Tonny pasti mencarikan kost yang terbaik untuk kita Sa. I believe in him.”


“Okay, terus Ridwan tinggalnya dimana Jul?” lanjut Nisa.


“Kata kak Tonny kost Ridwan dekat dari kostnya.”


“Alhamdulillah kalau seperti itu.”


Mereka mengakhiri percakapan ketika dokter memanggil nama mereka untuk mengambil kartu vaksinnya.


“Alhamdulillah, akhirnya kita punya kartu vaksin juga Sa.”


“Iya, alhamdulillah Jul. Kamu sudah kemas barang-barangmu?”


“Belum Sa,” jawab Juliana. “Sama dong, ha ha.” Nisa tertawa.


“Kalau begitu kita langsung pulang saja untuk mengemasi barang-barang. See you tomorrow Sa.”


“See you tomorrow Jul.”


Sepulangnya di rumah masing-masing, mereka langsung mengemasi barang-barang yang akan digunakan untuk ngekost di Bandung nanti.


Malam harinya, Nisa tidur bersama ibunya. Ibunya memeluknya saat tidur. Anak yang selama 18 tahun berada di dekatnya, besok akan ke Bandung untuk melanjutkan studinya.


Keesokan harinya, Pak Ayyas datang ke rumah Nisa. Sementara saat ini Nisa sudah berada di dalam mobil, menunggui sopir mengangkat barang-barangnya.


“Kamu sudah mau berangkat ke Bandung?” tanya Pak Ayyas dengan raut muka sedih. Nisa mengangguk pelan.


“Kenapa tidak bilang sayang?” Kali ini Pak Ayyas menitikkan air matanya.


“Kenapa saya harus bilang ke bapak? Kita bukan siapa-siapa lagi semenjak bapak mengatai-ngatai saya.”


“Terus bagaimana dengan rencana pura-pura hamil?”


“Urus saja sendiri pak. Saya tidak mau terlibat dalam kebohongan ini. Gampang kok kalau bapak mau kasih cucu untuk nenek. Nikahi Bu Susan. Toh yang bapak cintai kan Bu Susan, bukan saya. Jadi kalau bapak mau punya anak, ya koordinasikan ke Bu Susan bukan ke saya.”

__ADS_1


Kali ini Nisa tidak mau lagi menuruti permintaan Pak Ayyas.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2