My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Krik Krik


__ADS_3

Tabuh berbunyi, adzan subuh dikumandangkan. Dingin bayu subuh menyusup ke kamar Nisa. Perpaduan indahnya suasana subuh membangunkannya.


Seperti biasa, saat Nisa a bangun pak Ayyas sudah tak didapatinya di kamar yang menjadi saksi betapa rumitnya kehidupan pernikahan mereka, sejak tujuh bulan yang lalu.


Sejak pertama kali mereka harus tinggal bersama dalam satu atap, meski tak ada rasa cinta sama sekali.


Pak Ayyas selalu melaksanakan shalat subuh di mesjid yang jaraknya tak jauh dari kediaman mereka, sementara Nisa melaksanakannya di rumah.


Wajar saja jika Juliana tergila-gila pada pak Ayyas. Ia lelaki yang senantiasa konsisten menghidupkan mesjid dimana pun ia berada. Baik itu di rumah maupun di sekolah.


Hanya satu alasan kenapa orang yang beragama Islam harus melaksanakan shalat lima waktu. Karena Allah SWT telah mewajibkan hamba-Nya untuk melakukannya.


Allah SWT tidak berfirman shalat hanya boleh dilakukan oleh orang yang baik saja. Juga tak berfirman hanya boleh dilakukan oleh orang yang tak berdosa. Tak pula berfirman hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang berada.


Tetapi shalat lima waktu wajib dilaksanakan oleh semua muslim yang suci dari haid dan nifas, mereka yang berakal, serta yang telah baligh.


Bukanlah cinta yang nyata, ketika seorang muslim mengaku mencintai Allah tapi tak melaksanakan shalat lima waktu.


Begitu pula dengan lelaki muslim, bukanlah lelaki sejati jika shalat lima waktu masih dilakukan di rumah sementara shalat berjama’ah di mesjid masih bisa dijangkau nya.


Ada satu kesamaan antara Nisa dan pak Ayyas. Mereka sama-sama ingin belajar lebih tentang agama. Senantiasa menghambakan dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

__ADS_1


Karena kesamaan itulah mereka masih bersama hingga detik ini. Demi berbakti kepada kedua orang tua, untuk mendapatkan ridha Allah SWT.


Kembalinya dari shalat subuh, pak Ayyas biasanya akan membaca beberapa lembar ayat Al-Qur’an. Sementara Nisa hanya membaca sedikit saja lalu bergegas ke dapur.


Hal itu rutin mereka lakukan. Namun subuh kali ini, Nisa tak menyibukkan diri di dapur lantaran masih banyak makanan sisa semalam.


“Sa, ayo jalan-jalan pagi! Hari ini kan hari Ahad. Lagian kita belum pernah jalan pagi bersama,” bujuk pak Ayyas.


“Ide bagus, Pak. Saya juga tidak memasak pagi ini. Kalau di kamar saja saya bisa mengantuk dan tidur kembali. Saya ganti baju dulu yaaa,” balas Nisa.


Setelah siap, mereka mulai menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui para petani untuk ke sawahnya.


“Sa, kamu dengar tidak suara jangkrik nya?”


“Kalau kamu meledek terus, saya tidak akan menjelaskan kenapa jangkrik nya pada berbunyi.”


“Hah? Dasar aneh. Memangnya kenapa Pak jangkrik nya berbunyi?” tanya Nisa sedikit heran, juga penasaran.


“Karena jangkrik suka berbunyi saat ada orang cerewet kayak kamu di sekitarnya.” Pak Ayyas pun terkekeh.


“He he LUCU. Yang serius dong Pak.” Nisa mulai emosi.

__ADS_1


“Tuh kan kamu tidak hanya cerewet tapi juga emosian.”


“Pak, cepat jelaskan! Atau tidak, saya pulang nih!”


“Ok, ok, saya jelaskan. Pagi ini banyak jangkrik yang berbunyi karena matahari sudah mulai terbit. Saat suhu semakin tinggi, maka suara derik jangkrik akan sering terdengar. Ini terjadi karena cepatnya reaksi kimia dalam tubuh jangkrik.”


“Cerdas banget sih ini si Bear.” Nisa membatin.


“Oh gitu. Ya sudah, ayo kita pulang! Sudah panas ini,” ucapnya setelahnya.


Dengan langkah melambat, mereka berbalik arah, pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, mereka mengambil air minum dan juga gawai masing-masing. Lalu dibawa ke kursi taman.


Pak Ayyas kaget saat melihat ada 5 panggilan tak terjawab dari ibu Nisa. Ia langsung menggerakkan jari-jemarinya untuk menelpon mertuanya itu.


“Assalamu “alaykum," ucapnya.


"Wa'alaykumsalam warahmatullah nak," jawab ibu Nisa.


"Ada apa Bu? Saya lihat ada 5 panggilan tak terjawab dari ibu.”

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2